Portal Lengkap Dunia Marketing

PROPERTY & RETAIL

Pasar Tradisional Justru Bisa Mengancam

Banyak pandangan yang mengira pasar modern akan menggusur yang tradisional. Sebenarnya, potensi mengancam justru ada pada pasar tradisional. Asal dikelola dan di-manage secara baik.

 

Pasar tradisional (wet market) memiliki persepsi yang negatif di mata konsumen sebagai pasar yang kotor, bau, becek dan crowded. Padahal, potensinya sangat tinggi dan bisa mengancam posisi pasar modern. Mengapa? Karena tempat belanja yang dijuluki pasar becek ini masih menyimpan nilai yang sangat positif, yaitu menawarkan harga murah (low price), bisa dinegosiasi, dan lokasinya dekat rumah.

 

Di Thailand, pasar becek sudah menata diri dengan baik sehingga tidak menjadi alternatif, melainkan pilihan utama konsumen dalam belanja. Di negeri gajah putih itu, pasar becek memiliki gedung yang sangat apik, punya truk distribusi sendiri, dan konsumen merasa nyaman berbelanja di tempat itu.

 

Berbeda kondisinya dengan di Indonesia. Dari data riset AC Nielsen di tiga kota (Jakarta, Bandung, dan Surabaya) terhadap 1.068 responden, sebanyak 63% responden mengeluh lantaran becek, kotor (60%), bau (47%), dan crowded (37%). Keunggulannya terletak pada harga murah, bisa dinegosisasi, serta dekat dengan rumah dikemukakan sekitar 80% responden. Menurut Yongky Surya Susilo, Retailer & Business Development Director AC Nielsen Indonesia, jika kondisinya diperbaiki, maka pengunjungnya akan lebih besar lagi. Sebab, kecenderungan orang berbelanja di Indonesia tidak hanya sekedar mencari barang, tapi sekaligus juga untuk pleasure.

 

Yongky menjelaskan, justru yang sebenarnya mengancam di peta persaingan ritel ini adalah pasar tradisional terhadap pasar modern. Dan jika pengelola sungguh-sungguh, sebenarnya kelemahan wet market sangat mudah dibenahi. Potensinya pun jauh lebih besar karena konsumen yang beli ayam, misalnya, maunya yang masih hidup, atau beli sayuran yang baru turun dari gunung. Maka, menurutnya, empat kelemahan di atas (becek, kotor, bau, dan crowded) harus diperbaiki. Pedagang kaki lima mesti dilarang karena merugikan pedagang di dalam dan manajemen ditata secara profesional. Apalagi, PD Pasar Jaya jika diamati sekarang sudah kayak hipermarket, barangnya sangat lengkap dan harganya sangat murah. “Tinggal bagaimana mengaturnya saja. Saya yakin pasti akan menang karena posisinya selalu dekat dengan rumah,” kata Yongky.

 

Dia menyarankan agar pengelola pasar tradisional melakukan seperti yang dilakukan oleh pasar tradisional di BSD (Bumi Serpong Damai), yang tidak lagi mencerminkan diri sebagai pasar yang becek, kotor, bau dan crowded. Jika semua pasar tradisional seperti di BSD, maka retail sales-nya akan naik. Selama ini, katanya, fakta menunjukkan nature bisnis pasar tradisional tidak mendorong pertumbuhan penjualan karena kondisinya yang buruk.

 

Toko Tradisional

Jika peta persaingan ini digambarkan dengan toko tradisional juga, tidak hanya wet market, maka posisi ritel modern sebenarnya masih jauh tertinggal. Dari jumlah outlet, toko modern berkisar 7.500 buah. Sedangkan toko tradisional (tidak bicara wet market) jumlahnya mencapai 1. 790.000. Jadi perbandingannya sekitar 99%!

 

Data AC Nielsen ini juga memperlihatkan konsumen Indonesia yang masih memakai multiple channel. Dalam sebulan, mereka rata-rata berbelanja pakai 4–5 channel, pergi ke pasar tradisional iya, hipermarket, supermarket, dan ke minimarket juga iya. Konsumen belanja ke pasar tradisional sekitar dua hari sekali atau 12-13 kali dalam sebulan, terutama untuk membeli barang-barang fresh seperti daging dan sayuran.

 

Secara frekuensi, toko tradisional memang lebih unggul. Dari 100% pengunjung hipermarket, sebanyak 97% pergi pula ke toko tradisional. Dari 100% pengunjung minimarket, 98% di antaranya berbelanja juga di toko tradisional. Jadi, pengunjung toko tradisional sangat tinggi. Tetapi, dari perbandingan spend most money-nya, peningkatan ada di outlet modern. Pada tahun 2003, terdapat 39% responden yang mengaku lebih banyak membelanjakan uang di hipermarket dan supermarket. Pada tahun berikutnya (2004), naik menjadi 44%. Sedangkan di minimarket, tahun 2003 hanya 11%, dan naik menjadi 14% pada tahun berikutnya. Di toko tradisional, persentasenya tetap selama dua tahun itu, yaitu berkisar di angka 19%. Tetapi, di wet market, terjadi penurunan. Pada 2003, sebesar 27%, turun pada tahun 2004 menjadi 19%.

 

Sedangkan dari data pendapatan uang, menurut Yongky, dari 51 kategori produk yang dimonitor, kira-kira 30% diraih oleh modern market. Itu di luar produk rokok. Jika sigaret ikut termasuk, maka peraihan pasar modern secara nasional hanya 16%. Jika ditambah lagi dengan barang-barang komoditi, perolehannya cuma 10% dari total kue ritel nasional. Jadi, potensi wet market dan toko tradisional masih sangat tinggi. Dan ini akan menjadi ancaman jika dikelola secara profesional dengan jaringan yang memadai.

 

Nah, mau tidak mau suatu, saat toko tradisional juga harus menjadi toko modern. Tetapi, menurut Yongky, potensi ke arah itu butuh tempo yang sangat lama, karena jumlah kota di Indonesia masih sangat terbatas, terbanyak masih pedesaaan atau rural. Jika toko tradisional mau bersaing, caranya lewat asosiasi. Jadi, kalau mau beli barang bisa sama-sama, promosi juga bisa sama-sama, seperti yang terjadi di Thailand.

 

Pasar Modern

Seperti dikemukakan Yongky, jika pasar tradisional berbenah diri, maka yang justru yang mengancam bukan pasar modern, karena wet market sebenarnya lebih dominan.  Dijelaskan, jika PD Pasar Jaya punya paling besar, me-manage pasar tradisonal secara profesional, melakukan promosi seperti pasar modern, tiap minggu mengadakan bazar, maka potensi untuk mengalahkan ritel modern sangat tinggi. Karena lokasinya yang dekat rumah, dua hari sekali konsumen bisa berkunjung ke tempat ini.

“Dari hasil riset kami, bajet pembelian barang-barang fresh (ke tradisional) itu setengah dari dari bajet belanja. Jadi, kalau satu keluarga belanja Rp 2 juta, maka Rp 1 jutanya adalah untuk belanja ke wet market,” papar Yongky.

 

Selanjutnya, posisi modern market adalah untuk pengunjung yang muda-muda. Generasi selanjutnya, anak-anak muda ini akan belanja di sana. Pasalnya, mereka sudah teredukasi, mau belanja tidak perlu susah-susah nego alias fixed price, nyaman dan lengkap. Karena itu disarankannya, wet market juga harus bisa memikat kaum muda untuk datang.

 

Dalam posisi sekarang, pertumbuhan pasar modern masih sangat besar lantaran arah ke depan memang menuju yang modern. Meski begitu, pasar modern tidak akan mengancam pasar tradisional karena segmentasinya berbeda. Pasar ini justru bisa bersaing lebih baik jika dikelola secara profesional. “Nah, wet market seharusnya seperti mal. Contohnya wet market di BSD yang telah dibuat rekreasi. Orang-orang muda pergi ke sana, bawa orangtuanya jalan-jalan. Coba kalau kita lihat di PD Pasar jaya, kebanyakan kan  pembantu semua. Kalau di BSD, tidak. Bayangkan pada Sabtu-Minggu itu, parkirnya bisa ribuan. Saya rasa itu yang harus dipelajari dan diubah,” kata Yongky.

1 Comment

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top