Portal Lengkap Dunia Marketing

DIGITAL & TECHNOLOGY

Para Ilmuwan Temukan Cara Baru Meramal Cuaca El Nino

el_nino_2012_08_15

Menggunakan sistem baru, para ilmuwan dapat meramalkan El Nino dalam satu tahun ke depan – prediksi yang dapat membantu para petani dalam bercocok tanam.

Meski belum sempurna betul, sistem ini telah digunakan untuk memprediksi cuaca El Nino dalam enam bulan ke depan di wilayah Pasifik Timur terkait banjir di Peru dan Ekuador, musim kemarau di Australia dan  Indonesia dan musim dingin yang mungkin parah di Eropa.

Dengan peramalan yang jauh lebih baik, ini  dapat membantu para petani untuk bersiap-siap sebelumnya, terang Hans Joachim Schellnhuber, head of the Potsdam Institute for Climate Impact Research kepada Reuters.

El Nino adalah gejala penyimpangan (anomali) pada suhu permukaan Samudra Pasifik di Pantai Barat Ekuador dan Peru. El Nino biasanya terjadi setiap 2 sampai 7 tahun, tetapi para ilmuwan telah mampu menemukan penyebab pola yang terjadi secara alami sepanjang sejarah dan merupakan salah satu yang paling mengganggu dari peristiwa cuaca ekstrim.

Sistem baru ini sudah dibangun di sekitar Samudra Pasifik sejak tahun 1950. “Kita bisa mengembangkan skema peramalan dalam 12 bulan ke depan secara efisien, yaitu mencapai beberapa kali lipat dari periode peringatan dini sebelumnya,” tulis para ilmuwan.

Meskipun sistem berbasis komputer ini tidak selalu benar, mungkin ini akan berguna bagi para petani ketika ada risiko El Nino dalam waktu satu tahun.

“Peringatan enam bulan terlalu pendek jika Anda adalah seorang petani India, Zimbabwe atau Brasil,” terang Schellnhuber.

Prediksi El Nino – bagian dari pola alami yang lebih besar dan dikenal dengan El Nino Southem Oscillation – sering kali tidak dapat diandalkan.

Misalnya, pada September 2012, organiasasi meteorologi dunia melihat “kemungkinan cukup tinggi” dari El Nino di bulan depan, namun ternyata prediksi itu tidak terwujud.

“Kami menduga El Nino lebih kuat secara keseluruhan abad ini karena semakin meningkatnya efek rumah kaca”, kata penulis Jinbao Li dari University of Hong Kong.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top