Portal Lengkap Dunia Marketing

DIGITAL & TECHNOLOGY

Pandai Memanfaatkan Tren di Masyarakat

www.marketing.co.id – Tanpa strategi marketing yang jitu, merek Nexian mungkin tidak akan pernah sebesar sekarang. Dengan sentuhan marketing yang memadukan sisi rasional dari teknologi dan sisi emosional konsumen, Nexian berhasil menjadi penguasa pasar segmen ponsel lokal.

Tidak percuma rasanya Nexian jorjoran dalam berpromosi, baik di media cetak maupun elektronik. Melalui eksposur media luar ruang billboard, Nexian seperti setiap saat menyapa masyarakat. Billboard Nexian yang menampilkan artis-artis papan atas seperti Maudy Koesnaedi, Anang, Syahrini, Ashanti, Slank, Nidji, ditempatkan di lokasi-lokasi strategis di Jakarta. Bahkan billboard Nexian juga bisa dijumpai nun jauh di pelosok Sumatera dan Kalimantan.

Berapa uang yang dihabiskan Nexian untuk promosi tiap tahun? Chief Marketing Officer Selular Group Andy Jobs tidak memberikan angka pastinya. Andy hanya mengisyaratkan bujet promosi Nexian untuk billboard dan media luar lainnya tidak melebihi bujet promosi billboard rata-rata operator seluler. “Tapi, bujet promosi billboard kami mengalahkan salah satu operator seluler,” ungkapnya tanpa menyebut perusahaan operator seluler yang dimaksud.

Dapat dikatakan kesuksesan Nexian menjadi penguasa pasar ponsel lokal menjadi cerminan kemenangan marketing Nexian. Hebatnya, tim marketing Nexian melakukannya sendirian, tanpa bantuan pihak luar atau agency, mulai dari perumusan, penentuan program-program marketing, hingga eksekusinya.

Marketing is an art,” begitu Andy menyebut serangkaian aktivitas marketing di Nexian. Dalam setiap program marketingnya Nexian selalu berupaya memadukan sisi rasional dan emosional. Tanpa sentuhan emosional seperti lifestyle, ponsel Nexian barangkali bukanlah apa-apa. Apalagi ponsel ini diproduksi di Cina, yang masih sering dianggap kelas dua dalam hal teknologi.

Bagi Nexian, ide-ide marketing bisa datang dari mana saja, termasuk dari divisi-divisi yang tidak bersentuhan langsung dengan marketing. Andy mengaku di Nexian ada 12 grup komunikasi lintas divisi. Melalui fasilitas ini mereka bisa melempar ide-ide marketing dan membahas berbagai hal yang tengah tren di masyarakat.

Ketika duet penyanyi Anang dan Syahrini sedang heboh-hebohnya tahun lalu, Nexian meluncurkan program promo Nexian NX-G722  “Ponsel Ramadhan” yang menampilkan pasangan tersebut sebagai ikon. Kemudian, ketika Anang berganti pasangan duet denganAshanti, Nexian berkolaborasi dengan XL pada Februari lalu meluncurkan program “Nexian Xlalu Cinta Anang-Ashanti” untuk varian Nexian W701 Speed dan Nexian G509 Soundbox.

“Bagi saya marketing tidak selalu berkaitan dengan hal-hal yang sulit atau selalu berkaitan dengan teknologi. Banyak hal ringan namun kreatif yang bisa kita lakukan,” ucapnya.

Meskipun menyasar semua kalangan, tidak bisa dipungkiri ponsel Nexian banyak diserap oleh segmen kelas sosial ekonomi (SES) C, dengan rentang usia 15–29 tahun. Wajar saja jika ponsel Nexian laris manis di segmen menengah-bawah, karena segmen ini biasanya sangat sensitif terhadap harga.

Sementara dari sisi umur, kelompok usia 15–29 tahun biasanya lebih adaptif terhadap hal-hal baru, termasuk teknologi internet. Mereka juga biasanya sangat menggemari musik. Untuk menjawab aspirasi kelompok ini, Nexian meluncurkan ponsel seri musik Nexian Beat Box. Peluncuran produk ini sekaligus untuk mendukung konsep DRM (digital right management) di industri musik digital, sehingga diharapkan dapat mengurangi pengunduhan lagu secara ilegal. Hingga saat ini, kabarnya Nexian Beat Box masih diburu kalangan remaja.

Ada 12 penyanyi dan grup band dari empat perusahaan rekaman ambil bagian dalam program promo ini. Mereka antara lain Nidji, Ungu, Rosa, dan Kotak. “Ini merupakan hasil kerja sama dengan XL. Di sini pengguna Nexian bisa menikmati lagu-lagu tanpa harus men-download, karena sudah built in dengan ponsel Nexian,” jelasnya.

Menyinggung banyaknya artis yang menjadi brand ambassador Nexian, Andy optimistis hal ini tidak akan membingungkan pengguna Nexian, justru makin memperluas basis pengguna Nexian. “Sebenarnya kami memilih brand ambassador bukan dari perspektif artis, tapi dari komunitas artis yang bersangkutan. Misalnya, kami memilih Slank karena mereka punya banyak sekali penggemar,” imbuh dia.

Andy menegaskan, persaingan di industri ponsel begitu ketat. Konsekuensinya, fitur-fitur yang awalnya menjadi value bagi vendor tertentu, berubah menjadi generik. Sebagai contoh, ketika ponsel qwerty dan fitur media sosial mengalami booming, semua vendor menawarkannya. “Apalagi soal harga, semua menawarkan harga murah. Memang di situlah letak peran marketing,” tuturnya.

Karena itu, dia menegaskan, tim marketing Nexian harus pandai mengemas program-program marketing agar menarik perhatian dan dapat mengajak masyarakat untuk terlibat aktif. Salah faktor pendorong adalah makin menguatnya pengaruh internet dan media digital.

Yang namanya digital marketing bukan semata-mata membuat materi promosi konvensional, lantas didesain jadi banner, kemudian dipasang di website. Program promo di dunia digital harus dikemas sedemikian rupa sehingga menciptakan engagement antara brand dan komunitas penggunanya. Promosi di dunia digital juga harus diintegrasikan dengan media konvensional lainnya, seperti TV atau media cetak.

Andy memberi contoh ketika Nexian menjadi “Official Mobile Phone” ajang MTV VJ Hunt 2011. Bersamaan dengan event tersebut, Nexian menggelar berbagai promo ponsel Nexian Fresh, di antaranya kontes foto ala video jockey (VJ) di Facebook dan Twitter. “Pemenangnya kami tampilkan di televisi dan dapat hadiah berlibur ke Singapura,” katanya.

Membaur dengan konsumen di media sosial memang menjadi keharusan bagi brand-brand yang ingin sukses di dunia maya dan dunia nyata. Merek Nexian sendiri cukup eksis di media sosial. Di Facebook, Nexian yang mengelola akun Nexian Social sudah memiliki sekitar 130 ribu monthly active users. Sementara di situs micro blogging Twitter, Nexian melalui akunnya @DuniaNexian telah memiliki sekitar 13 ribu follower.

“Kalau kita lihat crowd score  kita lumayan, lebih bagus dari operator seluler. Saya selalu katakan ke anak buah saya, saingan kita di digital bukan vendor ponsel, tapi operator seluler. Itu yang menjadi standar saya. Mereka bisa memperoleh hasil-hasil yang lebih baik di digital. Ini enaknya di digital, terukur. Kalau media lainnya sulit,” bebernya. (Tony Burhanudin).

This article powered by eXo Digital Agency. eXo is a digital media agency serving local and international brands ranging from SME (small and medium enterprises) to multinational companies from various industries. We are an all-round agency with tremendous experience in digital activation, social media, search engine marketing, interactive game, web and software development.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top