Portal Lengkap Dunia Marketing

Dunia Digital

“Ide Terbaik Muncul dari Perselisihan dan Argumen Intektual”

Nayan Jadeja, Head of Technology Blibli.com

Segudang pengalaman kerja di bidang IT selama lebih dari seperempat abad, baik di perusahaan besar seperti American Airlines dan Citicorp, maupun perusahaan yang lebih kecil (startup), membawa Nayan Jadeja mendaratkan karirnya di Blibli.com sejak tahun 2016. Pria berkebangsaan India yang kini didapuk menjadi Head of Technology, memercayai bahwa Indonesia akan menjadi negara berikutnya, setelah AS, Cina dan India, dalam revolusi e-commerce.

“Oleh karena itu saya memutuskan bergabung dengan Blibli guna bersama-sama dengan tim membangun salah satu platform e-commerce terbesar di Indonesia dan asli buatan anak bangsa Indonesia,” Jelasnya.

Dua tahun bergabung dengan Blibli, Jadeja merasakan dinamika dalam menjalankan bisnis e-commerce yang membuatnya menarik banyak pelajaran berharga. Baginya, kegagalan bukanlah sesuatu yang terus disesali, namun menjadi sebuah momen untuk mengambil pelajaran dengan menganalisa, mencari tahu alasannya dan mencari solusi untuk memperbaikinya. Filosofi inilah yang membantu timnya berkembang dalam kemampuan dan keberanian mengambil risiko.

Kesuksesannya dalam berkarir dan memimpin tim bukanlah proses yang pendek. Ada banyak faktor pendukung yang membuat karir pria yang sebenarnya pemalu ini terbilang sukses.

Berawal dari keluarga

Jadeja menghabiskan masa kecilnya seperti anak-anak lainnya yang bersekolah dan bermain. Di hari Sabtu ia habiskan waktu untuk mengunjungi perpustakaan lokal dan membawa pulang sebuah buku untuk dibaca.

Bukan terlahir dari keluarga pebisnis, kepribadian yang suka bekerja keras, berdedikasi, bergaya hidup hemat dan sadar akan pentingnya pendidikan ia dapatkan dari kedua orang tuanya. Ayahnya bekerja di sebuah perusahaan selama 35 tahun dan Ibunya adalah Ibu rumah tangga. Bagi Jadeja, ayah tercinta adalah sosok yang meninggalkan inspirasi bagi kepribadiannya. Ia berharap nilai-nilai tersebut nantinya akan dapat diteruskan oleh anak-anaknya.

“Di sisi pribadi, ayah saya selalu menjadi inspirasi bagi saya. Bagaimana dia meninggalkan desanya dengan bermodal satu tas datang ke kota besar dan memacu dirinya bekerja keras dan mendedikasikan hidupnya untuk memastikan kita mendapatkan apa yang kita butuhkan,” ungkapnya.

Selain ayah, sosok inspiratif lain yang ia temukan, terutama dalam hal profesi adalah Bill Gates. “Di sisi profesional, saya merasa Bill Gates telah melakukan beberapa hal fenomenal yang bisa menjadi inspirasi kita semua. Ada dua babak kehidupan yang luar biasa dari hidupnya, yaitu membangun perusahaan yang mengarah pada penyebaran komputerisasi di seluruh dunia serta apa yang dia lakukan sekarang dengan yayasan Bill and Melinda Gates,” tuturnya.

Menikmati proses mencapai sukses

Bagi Jadeja, definisi kesuksesan bergantung pada masing-masing individu karena setiap individu memiliki ukuran kesuksesan berbeda.

“Saya mendefinisikan kesuksesan adalah saat saya mampu melakukan semua yang saya janjikan, atau ketika Anda melihat kembali apa yang telah Anda capai, dan menilai apakah Anda merasa puas dan juga melihat apakah yang Anda capai bersama tim,” lanjutnya.

Selain itu, Jadeja juga meyakini sebuah prinsip dasar yaitu menikmati setiap proses dan memberikan yang terbaik. Menurutnya, pola-pola berpikir seperti itu berdampak baik bagi keberhasilan perusahaan.

Dalam hal kesuksesan seorang pemimpin, Jadeja meyakini bahwa ide menjadi kunci suksesnya. Oleh karena itu, ia selalu menerapkan pendekatan kepimpinan bottom-up di mana setiap individu dalam tim harus mengembangankan ide-ide atau cara-cara baru dalam melakukan berbagai hal. Pendekatan ini ia percayai sebagai pendekatan kepemimpinan yang bisa mendukung perkembangan bisnis yang berbasis high technology yang mana kemajuannya sangat ditentukan oleh ide-ide.

“Setiap orang diberi kebebasan untuk memberi saran, berinovasi, dan melaksanakan ide mereka untuk kemajuan bersama,” ujarnya.

Memunculkan ide pada setiap individu juga didorong oleh ekosistem keterbukaan dalam tim. Tidak ada ego, tingkat hirarki yang tak seharusnya, atau mengatakan setuju hanya untuk menghindari perselisihan – karena melalui perselisihan intelektual dan argumen biasanya dari situlah ide-ide terbaik akan muncul.

“Ya tentu saja butuh waktu untuk bisa menerapkan budaya seperti ini di dalam tim. Itulah yang saya lihat sebagai pekerjaan saya – untuk mendorong, mempromosikan, mewujudkan, membentuk, dan memungkinkan tim menjauh dari kepentingan pribadi sehingga dapat bersama menciptakan produk dan layanan yang luar biasa,” ungkapnya.

“Saya ingin selalu mendorong dan membangun budaya di mana ide dapat mengalir dari siapapun di tim – dari segala arah – tujuannya adalah tentu saja keberhasilan tim dan perusahaan dibandingkan keberhasilan satu individu,” pungkasnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top