PR Hype

Multi-screen Platform

Apa yang menarik dari dunia PR/Humas pada tahun 2012? Membicarakan PR/Humas sangat erat kaitannya dengan pencitraan. Idealnya, pencitraan adalah bagaimana masyarakat luas mempersepsikan  satu hal, baik itu produk, kegiatan, atau figur. Bicara tentang kegiatan pencitraan selama 2012, mau tidak mau saya teringat rangkaian kegiatan menjelang Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta, Pilgub DKI Jakarta.

Dalam kampenye Pilkada Gubernur DKI ini, kita bisa melihat bahwa hampir semua media atau channel dimanfaatkan untuk kegiatan promosi. Mulai dari pengalaman kampanye secara langsung (pawai), iklan radio, iklan televisi, tampilan banner di halaman internet, pembaruan linimasa pada media sosial, dan yang lainnya.

Namun sayangnya, semua media yang menjadi sarana kampanye tersebut sepertinya masih jalan sendiri-sendiri. Dalam artian tidak menjadi sebuah alur kampanye dengan payung ide yang lebih besar. Isi dari kampanye di radio, televisi hampir mirip. Sementara di akun media sosial, sebagian besar hanya berupa pembaruan informasi kegiatan para kandidat. Jarang ada akun sosial kandidat gubernur yang bersifat interaktif dan engaging, melibatkan audiens.

Padahal ada skema yang bisa memanfaatkan semua channel tersebut dalam sebuah kegiatan kampanye yang lebih menarik. Pada pertengahan tahun lalu, hampir bersamaan dengan masa kampanye Pilkada DKI, saya diperkenalkan dengan model kampanye Multi-screen Platform. Model ini, digadang-gadangkan sebagai salah satu tren terbaru dalam kegiatan komunikasi, baik itu untuk pencitraan atau pemasaran, karena dianggap dapat lebih melibatkan audiens.

Model Multi-screen Platform ini sempat diterapkan oleh salah satu merek celana ternama. Merek tersebut mengundang para konsumennya yang telah membeli produknya, untuk berfoto seperti model dengan menggunakan celana merek tersebut, lalu kemudian mengunggahnya ke akun Fan Page merek tersebut di Facebook. Foto yang menarik mendapatkan hadiah dari si pemegang merek.

Kumpulan foto ini dibuat menjadi tampilan semacam slide yang menarik, untuk ditampilkan pada TV layar datar yang terdapat di masing-masing gerai merek celana tersebut, menjadi semacam spot iklan. Spot iklan itu terasa lebih ‘membumi’ bagi para calon konsumen, karena yang tampil dalam tayangan itu adalah figur-figur masyarakat biasa-konsumen barang yang akan dibeli, bukan model yang dibayar.

Hal lainnya yang menarik adalah: masing-masing foto yang diunggah kemudian di kategorisasi dan dilabeli, sesuai dengan model celana, ukuran, dan warna. Basis data foto ini dapat diakses oleh calon pembeli yang berminat melalui QR Code yang dibuat khusus.

Jadi coba bayangkan Anda seorang calon pembeli celana tersebut, dan merasa penasaran: apakah celana yang Anda pilih cocok dengan tampilan yang Anda inginkan? Anda tinggal mengarahkan kamera smartphone Anda pada QR Code yang sudah disediakan, Anda lalu dapat melihat tampilan para pembeli lain yang sudah mencoba celana yang persis Anda inginkan. Anda bisa mendapatkan gambaran yang lebih nyata tampilan celana Anda saat mengenakan celana itu nantinya.

Satu hal yang cukup penting dalam contoh kasus merek celana ini adalah pesan yang ingin disampaikan kepada para konsumennya. Pesan ini bukan sekedar pesan yang tersirat dalam tagline atau slogan merek tersebut, namun juga tercermin pada hampir seluruh elemen dalam Multi-screen Platform: mulai dari pemilihan kata pada iklan cetak dan materi cetak yang lain, desain QR Code, tampilan Fan Page Facebook, bahkan sampai desain outlet atau gerai. Semuanya mempunyai nada (atau pesan dan kesan) yang sama, dan membuat para konsumen tertarik untuk berpartisipasi.

Hal ini, tentu saja membutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak. Jika pada model traditional PR seorang praktisi PR harus mahir menyusun pesan utama (Key Messages), maka untuk Content Development ini praktisi PR harus berkolaborasi dengan berbagai divisi lain: mulai dari Brand Planner untuk menentukan identitas merek, Copywriter untuk pemilihan kata dalam penyusunan slogan, Creative untuk banner dan materi lainnya, serta beberapa pihak lain yang terkait. Key Messages saat ini bertransformasi menjadi Content dengan penjabaran yang lebih luas.

Seorang teman sesama konsultan pernah berkata kalau komunikasi pada intinya adalah bercerita. Bagaimana isi cerita, cara penyampaian dan siapa pendengar cerita akan sangat menentukan apakah cerita kita bisa diterima atau tidak.

Selamat bercerita dan berkolaborasi. (Rommy Rustami)

Rommy Rustami

PR Manager Iris Worldwide

@roi8890

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top