Portal Lengkap Dunia Marketing

MARKETING

Mengidentifikasi Fad vs Trend

Marketing.co.id – Smartphone yang bisa dilipat mulai menjadi gunjingan hangat tahun 2018 lalu. Beberapa produsen terus memberitakan produk inovatifnya dalam berbagai kesempatan untuk menunjukkan bahwa perusahaannya juga tidak ketinggalan.

Banyak produsen menyampaikan bahwa smartphone lipat akan menjadi tren ke depan. Inovasi ini tampaknya mengadopsi produk ponsel lipat yang dulu pernah ada. Bedanya, smartphone lipat sekarang layarnya ikut bisa dilipat; tak seperti ponsel dulu yang layarnya tidak fleksibel.

Smartphone yang bisa dilipat ini juga menjadi objek paling hits dalam Mobile World Congress pada 25–28 Februari 2019 lalu di Barcelona. Para produsen menggadang-gadang ini sebagai suatu temuan terbesar di pasar smartphone, selain fitur 5G.

Hal menarik adalah hasil survei yang dilakukan USA Today, dengan 1.303 orang responden pada Februari 2019. Kepada mereka diajukan pertanyaan: apa yang membuat konsumen termotivasi membeli smartphone baru. Ternyata smartphone yang bisa dilipat dan fitur 5G bukanlah alasan utama. Hasil ini sama bagi pengguna Android maupun iPhone.

Baca juga: Seni Berjualan Efektif & Efisien ala Sales Sniper

Survei menemukan fitur yang memotivasi pengguna iPhone dan Android membeli smartphone baru, berturut-turut adalah: usia baterai yang panjang sebesar 76% dan 77%, kamera yang lebih baik sebesar 57% dan 52%. Cuma 37% dan 40% yang memilih fitur 5G, kemudian 34% dan 31% memilih layar yang lebih besar, kemudian fitur layar yang bsia dilipat sebesar 17% dan 19% saja.

Dengan hasil survei ini sebagian analis memperkirakan jangan-jangan fitur layar yang bisa dilipat hanyalah fad, yaitu keriuhan pasar yang sangat singkat untuk kemudian redup dan hilang animonya.

Fad adalah antusiasme pasar yang sangat intens, impulsif, dan menyebar luas menjadi populer dengan cepat. Tetapi, berumur sangat pendek; bisa hanya dalam hitungan minggu atau bulan, kemudian antusiasme terhadap fenomena gaya atau produk tersebut akan surut.

Suherman Widjaja
Marketing and Business Lecturer, Mentor, Coach, and Trainer
President AMA TaRa

Fad termasuk perilaku biasanya muncul dalam produk consumer bisa juga berupa gaya rambut, mainan, pakaian, cara diet, dan sebagainya. Sering kali terjadi saat atau menjelang musim liburan ketika antusiasme orang cenderung lebih tinggi dan bergairah dengan harapan menemukan sesuatu yang berbeda dari rutinitas. Contoh Tamagochi, Frozen Yoghurt, Pokemon Go, dan Beanie Babies.

Baca juga: Perubahan Perilaku Konsumen pada Era New Normal (1)

Bagi marketer, fad bisa menjadi peluang untuk mereguk keuntungan, dimana publik seakan tergila-gila pada produk tersebut. Fad memberi pengaruh yang luar biasa dalam memotivasi konsumen untuk membeli, bahkan bisa menggerakkan industri ke arah yang baru walaupun hanya untuk beberapa saat.

Fad berbeda dari tren, terutama di sisi durasi umur. Tren bisa berlangsung jauh lebih panjang, bisa bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun. Tren berpotensi menjadi hal yang memengaruhi bentukan pasar yang lebih stabil. Tren digerakkan oleh kebutuhan fungsional, sedangkan fad lebih digerakkan oleh kebutuhan emosional.

Dengan karakteristik fad di atas, tentu marketer dan pebisnis perlu berhati-hati dalam mengidentifikasi suatu fenomena baru yang muncul di pasar. Jika itu adalah fad, maka perlu bergerak cepat mengambil kesempatan, namun hati-hati dalam berinvestasi. Karena hal ini bisa berakhir dengan sangat cepat, sehingga akan rugi jika menanamkan barang investasi.

Suherman Widjaja
Marketing and Business Lecturer, Mentor, Coach, and Trainer
President AMA TaRa 

(tulisan dimuat dalam rubrik Marketing Strategy majalah MARKETING edisi 04/XVIX/April 2019)

Marketing.co.id | Portal Berita Marketing dan Berita Bisnis

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top