Portal Lengkap Dunia Marketing

Lifestyle

Menembus Jantung Fashion Dunia

Dengan Fashion Division, Wulan mewujudkan mimpi desainer muda Indonesia yang ingin menggelar fashion show dan berkarier di Paris. Target berikutnya, mendirikan sekolah fashion dengan metode Alternance.

Fashion Division

Wulan S. Haryono, Pendiri & Program Director Fashion Division. (foto: Lia)

Seperti banyak lulusan bidang studi lain, ternyata lulusan sekolah perancang busana (fashion designer) juga tidak mudah untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bidang studinya. Kalaupun sudah membuat rancangan yang layak jual, mereka tidak memiliki akses untuk memperkenalkan hasil rancangannya. Apalagi jika ingin ikut fashion show di luar negeri, pasti lebih sulit lagi.

Sekolah fashion di Indonesia jumlahnya memang tidak terlalu banyak. Mungkin yang terkenal sekitar enam sekolah fashion saja. Jika setiap sekolah tersebut meluluskan 30 mahasiswa, maka per tahun akan ada sekitar 180 lulusan desainer yang membutuhkan pekerjaan atau memulai bisnis fashion.

Wulan S. Haryono mencium ada peluang bisnis dari fenomena di atas. Dia pun mendirikan career center di bidang fashion yang diberi nama “Fashion Division” (FD). Wulan mulai merintis FD sejak 2015, namun baru resmi beroperasi pada 2016 di bawah bendera PT Yamina Pertama Indonesia.

“Fashion Division merupakan career center pertama di Indonesia di bidang fashion, tugasnya membantu desainer Indonesia, desainer muda, design enthusiast, dan fashion student. Kami membuka akses buat mereka go international, khususnya ke Paris,” tutur Pendiri & Program Director Fashion Division ini.

Wulan memutuskan mendirikan Fashion Division setelah melihat banyak siswa sekolah fashion design bingung mau berbuat apa setelah lulus. Bahkan ada yang mengalami kemandekan kreativitas. “Ada yang sudah punya tujuan, tapi tidak tahu aksesnya ke mana, atau malah kerja di bidang lain. Kalau tidak memiliki kesempatan, agak sulit untuk go international di fashion industry,” kata Wulan yang ditemui di Cocowork Plaza Kuningan, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Wulan sebenarnya bukanlah seorang perancang busana. Dia memang kuliah di jurusan fashion di LaSalle Collage International Jakarta, namun memilih konsentrasi fashion business yang lebih menekankan sisi bisnis dari fashion. “Saya sempat ke Sydney belajar bisnis, setelah itu ke Perancis belajar budaya fashion,” tuturnya.

Fashion Show Perdana di Paris

Salah satu program FD yakni show casing di Paris, Perancis. Program ini ditujukan untuk perancang muda Indonesia yang ingin memperkenalkan hasil rancangan mereka di Paris. Wulan mengatakan, ada beberapa persyaratan untuk dapat mengikuti ajang ini, antara lain perancang mesti mengirim sketsa gambar, melampirkan real garment, serta jahitan bagian luar dan dalam.

Rancangan yang masuk ke FD diseleksi oleh tim ahli di Paris. Setelah lolos, barulah mereka bisa tampil di sana. Ada enam perancang yang lolos seleksi dan berhak tampil pada FD fashion show di Paris, pada 28 September 2018 lalu. Keenam perancang tersebut yaitu Aurelia Joyann Trudy (18 tahun), Edrick Young (21 tahun), Amelia Novarienne Barus (23 tahun), Daniella Grace (23 tahun), Grasheli Andhini (23 tahun), dan desainer ternama Tities Saputra.

Wulan mengatakan FD merupakan perusahaan rintisan bidang fashion dari Indonesia yang berhasil menggelar fashion show di Paris. Di luar ekspektasi Wulan, ternyata komunitas fashion di sana menyambut antusias FD fashion show perdana. Tamu yang hadir mencapai 400 dari target semula 250 undangan.

Mereka yang hadir di antaranya perwakilan dari majalah fashion yaitu Vogue, Bazaar, Cosmopolitan, dan Marie Claire. Artis Hollywood, Cody Longo dan Kendra Erica juga hadir. Dari kalangan perusahaan ritel busana dan department store ada Ge Xingyue, Printemps, Bridjahting, dan Sasha Devos.

“Mereka bela-belain nonton sambil berdiri. Itu karena para audiens penasaran dengan karya Indonesia, sebab tidak sering desainer Indonesia melakukan show di Paris. FD fashion show dibanjiri pujian dan mereka lumayan surprise mengingat para desainer masih sangat muda, di bawah 24 tahun semua,” ujar Wulan.

Memang ada biaya yang mesti dibayar perancang untuk mengikuti ajang tersebut, namun menurut Wulan harganya sangat kompetitif dibanding ikut fashion show di dalam negeri seperti Jakarta Fashion Week. “Biayanya 10 ribu euro sudah bisa ikut show di sana (Paris) dengan membawa 8 koleksi,” ungkap Wulan.

Biaya yang dikeluarkan perancang terbayar dengan respons positif dan transaksi bisnis yang tercipta. Transaksi bisnis yang diperoleh lumayan besar, mencapai 60 ribu euro. Dengan kurs 1 euro sekitar Rp17.500, berarti FD berhasil meraih omzet Rp1 miliar lebih dari event tersebut. Ini belum menghitung pendapatan dari tiket masuk, karena selain undangan gratis, FD juga menjual tiket undangan.

Sukses dengan hajat perdana di jantung kota mode dunia, FD berniat menggelar fashion show kedua di Paris pada Februari 2019. Fashion show tersebut merupakan bagian dari Paris Fashion Week Autumn/Winter 2019. Menariknya, FD tidak hanya akan memboyong desainer dari Indonesia. “Beberapa desainer dari Thailand dan California berminat ikut FD Fashion Show di Paris,” tuturnya.

Memperkenalkan (show casing) karya desainer muda ke pasar global merupakan satu dari empat program FD. Tiga program lainnya adalah belajar fashion di luar negeri (Study Abroad), magang di luar negeri (Intern Abroad), dan Fashion & The City. Show casing dalam bentuk fashion show masuk dalam program International Fashion Career.

Untuk mengikuti program magang di luar negeri, peserta dipungut biaya sekitar 2.700 euro. Program magangnya berlangsung selama dua bulan. Sementara program Fashion & The City mematok biaya sekitar 2.700 euro. Lewat program ini peserta bisa beranjangsana ke kota-kota fashion dunia. “Peserta bisa melihat bagaimana proses kreatif dan proses produksi fashion di sana. Bisa ikut jewelry workshop, parfume workshop, datang ke Museum Dior,” tuturnya.

Ambisi ke depan Wulan yaitu memiliki sekolah fashion sendiri. Dia berencana mendirikan sekolah fashion yang berbeda dari sekolah fashion yang sudah ada. Wulan akan menggunakan metode belajar Alternance, yang memungkinkan para siswa belajar fashion di Jakarta dan mengambil kursus serta magang di Perancis. “Untuk magang kita sudah menjalin kerja sama dengan beberapa merek di Perancis,” tandasnya.

Tony Burhanudin

MM.11.2018/W

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top