Portal Lengkap Dunia Marketing

Headline

Mendapatkan Second Opinion Tinggal “Klik”

Wei Siang Yu, Founder FlyFreeForHealth

Wei Siang Yu, Founder FlyFreeForHealth

Untuk mencari second opinion tentang penyakit yang diderita, sekarang pasien tak perlu repot ke luar negeri segala. FlyFreeForHealth telah menyediakan layanan konsultasi second opinion secara online.

Rasanya sudah sering kita mendengar berita tentang pasien yang menjadi korban salah diagnosis dokter. Akibatnya bisa bermacam-macam, dari yang menjadi cacat sampai yang berujung kepada kematian. Biasanya pasien akan melakukan second opinion, untuk menghindari salah diagnosis yang bisa berakibat fatal.

Namun yang jelas, bila mau jujur dan sadar, harusnya kita dapat mengerti bahwa dokter juga manusia. Sebab, kesalahan bisa menimpa siapa saja tanpa pernah memandang profesi atau status orang. Cara terbaik untuk menghindari terjadinya kecelakaan diagnosis adalah meningkatkan kualitas kinerja para dokter serta memanfaatkan opini kedua.

Yang dimaksud opini kedua ialah saran yang diberikan oleh dokter lain kepada pasien berdasarkan hasil diagnosis ataupun rekam medis dari dokter sebelumnya. Opini kedua diperlukan guna memastikan jenis penyakit yang diderita, agar tidak terjadi salah diagnosis.

Saat ini banyak orang yang ingin mendapatkan opini kedua hingga ke luar negeri. Alasannya, dokter luar negeri dianggap lebih berkompeten dan kredibel. Padahal, perjalanan ke luar negeri kalau hanya untuk mendapatkan opini kedua bisa memakan banyak waktu dan biaya.

Hal inilah yang dibaca Wei Siang Yu, seorang dokter berkebangsaan Singapura, sebagai peluang bisnis baru di bidang kesehatan. Dengan meluncurkan akses informasi supercepat yang beralamat di www.flyfreeforhealth.com, Wei mencoba menghadirkan layanan kesehatan tanpa batas, terutama untuk jasa opini kedua.

Selain mempermudah pasien untuk memperoleh opini kedua, kehadiran website ini juga dimaksudkan untuk mempromosikan para dokter dari berbagai negara. Caranya lewat seminar online atau dikenal webinar yang bisa diakses gratis oleh member FlyFreeForHealth.

Webinar merupakan seminar online interaktif yang dibawakan oleh para dokter FlyFreeForHealth yang berasal dari berbagai negara. Dari webinar tersebut, diharapkan nama-nama dokter yang menjadi pembawa seminar akan dikenal banyak orang.

Asal tahu saja, para dokter yang bergabung di layanan kesehatan FlyFreeForHealth adalah tenaga-tenaga medis yang top. Hal itu bisa dibuktikan lewat data profil mereka yang bisa diperlihatkan kepada para pasien ketika ingin mendapatkan jasa opini kedua dari FlyFreeForHealth.

“Kami memiliki dokter ahli dari berbagai negara seperti Singapura, Indonesia Australia, dan lain-lain. Semua dokter yang bergabung dengan kami bukan dokter sembarangan. Mereka sudah teruji baik kinerja maupun prestasinya,” ujar Wei seraya berpromosi.

Menurutnya, cara untuk mendapatkan opini kedua di FlyFreeForHealth cukup mudah. Pasien hanya perlu mengakses FlyFreeForHealth. Setelah itu, pasien akan dipandu oleh medical butler untuk berkonsultasi dengan dokter yang diinginkan. Harga per opini dibanderol sebesar US$ 100–400, tergantung kondisi penyakitnya. “Harga itu jauh lebih murah ketimbang mereka harus pergi keluar negeri hanya untuk mendapatkan opini kedua dari para dokter,” jelas dia.

Lebih lanjut Wei mengatakan, mungkin sekitar satu atau dua bulan lagi akan dikembangkan sistem berlangganan dengan biaya US$ 10 per bulan untuk memperoleh layanan ini. Bagi pasien yang berlangganan, nanti akan mendapatkan screen yang bisa ditaruh di rumah dan digunakan untuk memperoleh opini kedua dari dokter di FlyFreeForHealth.

Jadi, sistemnya akan seperti langganan TV berbayar. Hanya saja, ini bukan untuk nonton film, melainkan untuk konsultasi. Ekesekusinya masih menunggu kesiapan dari pihak vendor yang diajak kerja sama. Vendor yang digandeng berasal dari salah satu perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia.

Selama mengakses FlyFreeForHealth, pasien akan dipandu oleh medical butler, yaitu perawat profesional terlatih dalam bidang informasi teknologi dengan keramahtamahan akan membantu proses riset medis bagi para calon konsumen di Indonesia, hanya dengan satu klik saja.

Untuk sekarang, interaksi dengan medical butler masih dilakukan via chatting. Tapi, ke depan akan diusahakan lewat fasilitas broadband. Menurut Wei, opini kedua ini bisa membantu para pasien dalam menghemat waktu dan biaya. Pasalnya, selama ini harus diakui sekitar 200 ribu orang Indonesia per tahunnya pergi ke luar negeri hanya untuk berkonsultasi dan mendapatkan opini kedua dari para dokter.

Memang, setelah itu mereka bisa langsung berobat. Namun, akan sangat efektif bila mereka berobat ke luar negeri setelah mereka bisa memastikan hasil diagnosis penyakitnya, dan mengetahui informasi rumah sakit mana yang sebaiknya didatangi.

Dengan demikian, baik waktu ataupun biaya si pasien tidak akan terbuang percuma, karena dia sudah mendapatkan kepastian. Andaikan berdasar hasil opini kedua si pasien diminta juga untuk berobat ke luar negeri—dan ternyata dia bersedia, maka pihak FlyFreeForHealth juga menyediakan medical travel assistant. Fungsi layanan tersebut meliputi pencarian dokter untuk si pasien, membuatkan janji, memfasilitasi transportasi hingga ke rumah sakit, dan hotel bagi keluarga pasien selama di luar negeri.

Selain layanan tersebut di atas, FlyFreeForHealth juga menyediakan online consulting yang meliputi konsultasi dengan psikolog, speech therapy untuk anak-anak yang sulit berbicara, juga konselor kesehatan.

Sejak dua tahun hingga sekarang, jumlah orang yang sudah terdaftar menjadi member FlyFreeForHealth mencapai 10 ribu orang, sekitar 60 persennya berasal dari Indonesia. Data tersebut telah membuktikan bahwa animo orang Indonesia terhadap layanan ini begitu besar.

Sehingga, logis menurut Wei bila pihaknya ingin menargetkan bisa menggarap lima juta orang Indonesia untuk menjadi klien FlyFreeforHealth dalam rangka mendapatkan jasa opini kedua dari para dokter berkaliber.

“Yang tercatat sering berobat ke luar negeri memang 200–300 ribu orang. Namun, yang membutuhkan jasa opini kedua—menurut kami—dari Indonesia sebanyak lima juta orang,” jelasnya.

Bila kita amati, meski sudah dua tahun berdiri, nama FlyFreeForHealth belum banyak didengar. Hal itu lantaran sasaran kalangan yang dibidik oleh layanan kesehatan ini memang terbatas. “Kami lebih banyak mengandalkan promosi lewat mulut ke mulut dan mendatangi langsung ibu-ibu ekspatriat ke acara-acara di mana mereka biasa hadir. Lagi pula, kami masih dalam tahap pengembangan. Nanti, setelah semua sudah beres, mungkin bentuk promosi lain juga bisa dikembangkan lebih lnjut,” ungkap Wei.

Promosi melalui media bukannya tidak ada. Hanya jumlahnya saja terbatas dan terpilih—seperti KOMPAS.com dan Jakarta Post. Lewat dua media itu saja, respons yang masuk sudah lumayan banyak. “Hampir setiap hari kami mendapatkan berbagai pertanyaan di Jakarta Post,” imbuh dia. (Majalah MARKETING/Andri Darmawan)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top