Portal Lengkap Dunia Marketing

Marketing

Membuat Marketing Semakin Personal

Apakah pemasaran yang personal itu berarti harus menyasar konsumen satu per satu? Apakah dengan memanfaatkan teknologi berarti otomatis pemasaran jadi semakin personal? Tentu tidak. Lalu, bagaimana caranya agar pemasaran bisa menjadi semakin personal?

marketing semakin personal

Di tengah ramainya pasar, perkembangan dan penetrasi internet, sekaligus bermunculannya begitu banyak pilihan media, marketer justru dituntut lebih fokus melancarkan pemasaran yang semakin personal. Konsumen semakin terbagi-bagi secara spesifik, dan membagi mereka ke dalam segmentasi yang benar pun menjadi kian sulit.

Perkembangan berbagai teknologi tidak secara otomatis memberikan kemudahan kepada marketer untuk menyasar segmen konsumennya secara lebih personal. Justru jika berkutat pada perkembangan teknologi semata, bisa-bisa kita malah menghamburkan uang tanpa mendapatkan hasil yang memadai.

Agar pemilik merek bisa beradaptasi dengan semakin tingginya keberagaman konsumen, marketer harus fokus melancarkan strategi pemasaran yang berorientasi tak hanya pada produk, tapi juga pada penciptaan sekaligus pengelolaan experience dan relationship.

Mengatasi Keragaman dan Keramaian

Strategi pemasaran haruslah melampaui produk atau jasa yang ditawarkan supaya bisa menciptakan ikatan lebih kuat dengan konsumen, serta meningkatkan pesona merek. Berbagai aktivitas yang bertujuan membangun hubungan lebih kuat sangat dibutuhkan karena inilah yang bisa menjamin kesuksesan merek dalam jangka waktu lebih lama. Strategi pemasaran yang fokus membangun hubungan mampu menciptakan ikatan yang lebih kuat terhadap konsumen.

Seorang pakar experience marketing, Bernd Schmitt dari Columbia University, menekankan bahwa pemasaran yang fokus pada berbagai strategi yang sifatnya experiential di setiap touchpoints, adalah pemasaran yang fokus menciptakan hubungan emosional pada setiap indra manusia.

Merek berhasil memberikan pengalaman menarik yang menyangkut indra (sensory) ketika konsumen bisa langsung mengingat merek ketika melihat, meraba, mencium, mendengar, atau mengecap sesuatu. Dalam hal ini konsumen berusaha menangkap suatu rangsangan berkaitan dengan alat indranya.

Pemasaran yang fokus pada sense (indra manusia—yang terdiri dari penglihatan, pendengaran, peraba, perasa, dan penciuman) akan mampu membentuk persepsi tersendiri dalam benak konsumen terkait suatu merek. Selanjutnya berbagai indra ini akan tersambung dengan berbagai perasaan, emosi, sekaligus mood konsumen atas merek tersebut.

Merek juga bisa menimbulkan sentimen atau perasaan tertentu pada konsumen ketika berinteraksi. Jika ini sudah terjadi, hubungan emosional pun bisa terbentuk dengan konsumen. Konsumen pun tentu bisa memutuskan apakah ingin terlibat (engage) lebih jauh dengan merek atau tidak.

Keterlibatan ini memicu kreativitas konsumen lebih jauh lagi supaya mereka tak sekadar dapat memenuhi kebutuhannya, tetapi juga memecahkan berbagai masalah yang ada. Selanjutnya itu bisa memicu perubahan perilaku, perubahan gaya hidup (lifestyle), dan interaksi sosial. Semua inilah yang mendorong timbulnya suatu tren baru di pasar.

Di sini konsumen akan merasa terlibat dalam suatu aktivitas atau menjadi bagian dari perubahan perilaku pasar secara lebih luas ketika berinteraksi dengan suatu merek. Dalam hal ini merek membuat si konsumen jadi mau melakukan atau terlibat dalam suatu aktivitas.

Di lain pihak, merek juga bisa menstimulasi pikiran konsumen, sehingga konsumen yang berinteraksi dengan merek jadi punya kemampuan lebih dalam memecahkan suatu masalah atau berpikir tentang hal tertentu. Ketika pikiran sudah terbentuk, maka ada peluang untuk menjadi suatu tindakan (action). Di sini barulah merek bisa menjadi action-oriented.

Lebih jauh lagi, ketika suatu tren baru sudah terbentuk, peluang untuk membentuk suatu komunitas pun semakin besar. Komunitas yang mengusung merek tertentu ini nantinya bisa menjadi bagian dari suatu konteks sosial dan budaya. Inilah kekuatan ampuh berikutnya yang dapat menarik lebih banyak lagi pelanggan ke dalam lingkup merek.

Sesuatu yang Unik

Melancarkan strategi pemasaran yang sarat experience berarti tak hanya mengomunikasikan fitur dan benefit produk atau jasa yang ditawarkan, tetapi juga menghubungkannya dengan value atau experience unik yang bisa diberikan sekaligus dirasa oleh konsumen.

Perhatikan adanya kata “unik”. Di sini berarti idenya tak hanya menjual sesuatu, tapi benar-benar menunjukkan bagaimana produk/jasa tersebut bisa memperkaya kehidupan konsumen. Ini bukan berarti setiap bisnis harus menggelar event yang memorable, meski hal tersebut bisa menjadi salah satu cara memberikan experience.

Untuk bisa menciptakan pengalaman unik bagi pelanggan, sebenarnya perusahaan harus bisa melewati beberapa tahapan: (1) jika mengenakan bayaran untuk barang, maka Anda berada pada bisnis komoditas; (2) jika mengenakan bayaran untuk sesuatu yang tangible, berarti Anda berada pada bisnis produk; (3) jika mengenakan bayaran untuk aktivitas yang dilakukan perusahaan, maka Anda berada pada bisnis jasa (service); (4) jika mengenakan bayaran untuk waktu yang dihabiskan pelanggan bersama perusahaan, maka barulah Anda berada pada bisnis experience.

Bila menilik contoh perusahaan seperti Disney, mereka mengelola experience yang bisa dijual dalam empat macam hal, yaitu hiburan, edukasi, estetika, serta memenuhi kebutuhan para pemimpi atau orang yang sejenak ingin punya perasaan “lari dari kenyataan”. Kombinasi dari berbagai hal tersebut mampu memberikan pengalaman unik bagi para pelanggannya.

Sama halnya dengan merek-merek terkenal dengan penciptaan experience unik seperti Lego, Victoria’s Secret, iPod, dan Starbucks, yang bisa men-deliver pengalaman unik lewat keunikan dalam komunikasi visual, komunikasi verbal, simbol, inovasi produk, co-branding, dekor interior, media elektronik, dan lainnya. Mereka paham bahwa konsumen pada dasarnya hanya ingin merasa terhibur, terstimulasi, terpicu kreativitasnya, serta terpengaruh secara emosional.

Penciptaan pengalaman unik ini tentu tak bisa diwujudkan dalam semalam, tapi melalui proses yang melibatkan aktivitas monitoring tiga pola yang berbeda, yaitu pola masa lalu (mengevaluasi transaksi yang sudah terjadi), pola sekarang (meneliti apa yang terjadi saat ini), dan potensi pola ke depannya (mencoba menangkap segala peluang yang mungkin muncul).

 

Ivan Mulyadi

 

MM.11.2018/W

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top