Portal Lengkap Dunia Marketing

PR Hype

Membangun Kedekatan Lewat Ikon Tobi

shutterstock_52898455Toys City menggunakan ikon Tobi dalam strategi pemasaran mereka. Tujuannya, agar bisa lebih dekat dan bersahabat dengan segmen yang dibidik, yakni anak-anak.

Meski tidak berkantong tebal dan belum menghasilkan uang atau tepatnya tidak memiliki daya beli, pada kenyataannya anak-anak selalu menjadi bidikan para pebisnis dalam strategi pemasarannya. Alhasil, hampir semua produk mulai dari makanan, minuman, pakaian, mainan dan permainan diproduksi serta dirancang khusus untuk kebutuhan dan keinginan mereka.

Hal ini pula yang dilakukan Toys City, ritel modern spesialis toko mainan yang pertama kali diperkenalkan pada tahun 1990 lalu. “Eksis selama 23 tahun membuktikan bahwa bisnis mainan sangat berprospek. Anak-anak kapan pun perlu bermain, dan Toys City telah menjadi bagian dari keceriaan dan kegembiraan mereka,” kata Afrilia Lulu, Marketing Manager Toys City.

Sebagai ritel mainan, sudah pasti segmen yang dibidik Toys City adalah anak-anak dan orang tua. Seperti diketahui, orang tua adalah decision maker secara finansial dalam membeli produk, sedangkan anak-anak merupakan pasar utama (primary market). Untuk memuaskan keinginan dan kebutuhannya, anak-anak cenderung membelanjakan semua uang mereka, baik uang jajan ataupun harus membobol celengan.

Tak hanya itu, anak-anak adalah influence market yang baik dalam memengaruhi dan mendorong keputusan orang tuanya untuk membeli suatu produk, baik untuk konsumsinya sendiri ataupun keperluan keluarga. “Anak-anak pastinya sangat menyukai mainan dan orang tua bisa menjadikan mainan sebagai alat dan media dalam proses belajar bersama,” jelas Lulu.

Toys City mempunyai peran dalam proses tumbuh kembang anak, karena mainan dapat membantu seorang anak dalam bergaul dan belajar akrab dengan lingkungan sekitarnya. Toys City berkomitmen untuk mengutamakan kualitas produk yang ditawarkan pada konsumen dengan harga sangat variatif dan terjangkau.

Bentuk komitmen tersebut diwujudkan Toys City lewat kerja sama dengan AIMI (Asosiasi Importir dan Distributor Mainan Indonesia), agar bisa melindungi anak Indonesia dari kekhawatiran produk-produk yang non-edukatif dan beracun. Apalagi hal ini sudah didukung oleh kebijakan pemerintah yang telah ditetapkan pada Mei 2014 ini. Bahwa mainan yang beredar di Indonesia harus sudah mengikuti Standar Nasional Indonesia (SNI).

“Seiring dengan akan dibakukannya SNI untuk produk mainan, Toys City percaya pasar Indonesia akan mempunyai edukasi yang baik tentang bagaimana memilih produk-produk mainan yang berkualitas dan aman bagi anak-anak,” ujar Lulu.

Saat ini Toys City memiliki sembilan gerai. Tujuh di Jabotabek dan dua di Surabaya. Dari sembilan gerai yang ada, lokasi di Lotte Shopping Avenue – Ciputra World 1 adalah gerai yang terbesar dengan luas 2.256 meter persegi dan dirancang sesuai kebutuhan anak-anak. Tidak hanya sebagai toko mainan, tapi juga merupakan taman bermain, sehingga betul-betul memanjakan mereka.

Di gerai ini pengunjung dimanjakan dengan pemandangan koleksi mainan merek tertentu yang disusun secara apik dan bertema, mulai dari seri Tomica, Hot Wheels, Siku, Lego, Care Bears, Barbie, Thomas & Friends, dan masih banyak lagi. Selain itu, masih ada hal menarik yang disuguhkan kepada pengunjung, di antaranya Big TRex sepanjang 5,5 meter, The See Through Fairy Princess Bridge, Moving Classic Train Diorama, dan Faboluos Pink Corner.

“Rencananya akan ada penambahan satu gerai di tahun 2014 ini. Menghadirkan produk terlengkap menjadi salah satu kekuatan Toys City. Ada ribuan jenis mainan bisa ditemukan di sini. Soal harga pun termasuk kompetitif karena konsumen dapat memperolehnya dari mulai harga Rp5.900 saja,” sebut Lulu.

Dalam menarik pengunjung ke gerai, Toys City kerap menggelar kegiatan-kegiatan menarik untuk anak-anak, baik berhubungan dengan produk ataupun tidak, seperti lomba balap mobil-mobilan, lomba merakit robot, atau kegiatan membuat topeng kertas, juga membuat origami. Ranah online seperti media sosial dan website korporat juga tak ketinggalan dimanfaatkan dalam menginformasikan seputar produk baru dan interaksi dengan pelanggan.

“Agar lebih dekat dan dikenal pelanggan khususnya anak-anak, Toys City menciptakan ikon lucu bernama Tobi, yakni seekor monyet usia 7 tahun. Pemilihan sosok ini karena hewan monyet memiliki kecerdasan, usil, lucu, dan kepo (good curiosity). Perumpamaan ini sangat cocok dengan anak-anak yang selalu ingin bereksplorasi dengan dunia baru,” jelas dia.

Lulu menyadari bisnis ritel mainan sangat berhubungan erat dengan anak-anak, sehingga dalam strategi pengelolaan ritelnya, pihak Toys City sangat mengutamakan bagaimana bisa membuat anak-anak bahagia dan bergembira. Dalam implementasinya setiap gerai harus menghadirkan suasana fun, friendly, dan warm guna memberikan pengalaman yang menyenangkan bagi seluruh pengunjung.
Moh. Agus Mahribi, Dafit Zuhendra

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top