Portal Lengkap Dunia Marketing

XXX Ad Madness

Meluncurkan 216 miliar Lewat Iklan

www.marketing.co.id – DHL mengusung kampanye “Spesialis Internasional” melalui televisi, radio, dan media cetak di 42 pasar utama di dunia. Iklan ini juga diterjemahkan ke dalam 25 bahasa dan ditayangkan di lebih dari 280 stasiun televisi. Seperti apa bentuknya?

Pada dasarnya, kampanye yang dilakukan oleh sebuah merek merupakan bagian dari strategi marketing untuk meningkatkan public awareness terhadap merek itu sendiri. Salah satu perusahaan jasa yang melakukan hal tersebut adalah DHL, yakni dengan mengusung International Specialist Campaign (ISC).

“Ini untuk menginformasikan kepada masyarakat mengenai kemampuan internasional serta komitmen kami untuk meningkatkan pelayanan ISC. Kampanye kali pertama diluncurkan di Hong Kong dan Cina,” ujar Ahmad Mohamad, Senior Technical Advisor DHL.

Kampanye ISC sendiri dilakukan di 42 pasar utama di dunia, diterjemahkan ke dalam 25 bahasa, dan ditayangkan di lebih dari 280 stasiun televisi. Sebagai tambahan, terdapat juga pemasangan iklan di 360 media cetak dunia dan lebih dari 1.100 pemasangan dengan penyampaian pesan menarik yang ditawarkan DHL dalam kecepatan, efisiensi, dan kekuatan layanan pelanggan.

Ahmad menambahkan, kampanye tersebut juga mencakup lebih dari 216 miliar tayangan online dan remix soundtrack lagu klasik Ain’t No Mountain High Enough—yang akan diputar di lebih dari 200 stasiun radio dan dapat diunduh. Selain itu, masyarakat Indonesia juga dapat melihat iklan ISC di sejumlah billboard yang ditempatkan secara strategis di delapan kota besar Indonesia, di antaranya Jakarta, Bekasi, Surabaya, Semarang, Medan, dan Balikpapan.

“Kampanye ISC ini bertujuan untuk mengomunikasikan posisi DHL sebagai pemimpin dalam industri logistik dengan menempatkan DHL Express sebagai ‘THE’ Spesialis Internasional di pengiriman barang. Tentunya, sifat pesan ini akan menyatu dalam strategi komunikasi perusahaan,” lanjut Ahmad.

Dalam merancang kampanye ISC, lanjut dia, DHL sengaja menjadikan kekuatan musik untuk membangkitkan semangat orang-orang terhadap spirit dan passion dari sebuah merek. Oleh karena itu, DHL pun memilih lagu klasik tersebut yang telah menjadi “lagu kebangsaan” DHL sejak kampanye iklan global pada tahun 1991 lalu.

“Kampanye ini juga berusaha lebih memperkuat posisi DHL sebagai ‘provider of choice’ di industri pengiriman logistik. Semua ini digambarkan dalam iklan melalui layanan jasa pengiriman barang serta kemungkinan ekspansi bisnis di seluruh dunia dengan kecepatan fleksibilitas dan efisiensi,” tegas Ahmad.

Lebih lanjut, dia menambahkan, DHL pun ingin menyoroti kemampuan internasional dan layanan “second-to-none” serta fakta bahwa DHL memiliki solusi, sumber daya, dan keahlian untuk berhadapan dengan jaringan logistik internasional yang kompleks.

“Kami juga ingin menciptakan kesadaran bahwa ‘Spesialis Internasional’ DHL beroperasi secara efisien yang didukung oleh 100.000 kepala yang berpikir dan bergerak bersama sebagai satu kesatuan,” imbuh dia.

Seluruh pesan iklan disampaikan melalui bahasa gambar yang unik dengan memanfaatkan kekuatan musik yang mampu menggerakkan aksi dan memberikan semangat pada kampanye. DHL pun bekerja sama dengan biro iklan dan agen media untuk memastikan bahwa mereka telah mengoptimalisasi media exposure. Selain itu, ada juga tim riset internal untuk menganalisis kebutuhan pelanggan dan memaksimalkan brand positioning.

“Mengenai anggaran kampanye per negara, kami tidak dapat memberitahukan secara detail. Walau demikian, kami bisa katakan bahwa kami sudah menempatkan billboard iklan ‘International Specialist Campaign’ secara strategis. Kami juga melakukan investasi pada sumber daya manusia dalam perusahaan secara global dengan mengikutsertakan mereka dalam program ISC, sebuah program terakreditasi yang dirancang sendiri oleh DHL,” jelas dia.

Target market kampanye ISC ini adalah masyarakat umum, para pelaku UKM, dan korporasi multinasional di Indonesia. Sedangkan soal strategi pemilihan media, Ahmad mengungkapkan, kuncinya adalah untuk mengoptimalkan jangkauan dan frekuensi—termasuk bagaimana memilih media yang paling relevan untuk target audiens B2B.

“Di Indonesia, kami melihat strategi out of home menggunakan billboard iklan dengan pertimbangan dapat dilihat di mana saja dan mengarah pada tingkat penguasaan consumer exposure yang tinggi. Billboard iklan ini dirancang untuk menangkap perhatian seseorang dan menciptakan kesan tak terlupakan,” kata dia.

Tentunya, sebelum menggelar kampanye global, DHL terlebih dahulu melakukan pra pengujian iklan untuk menentukan daya tarik dan relevansi pesan kepada audiens. Sejauh ini, secara global ada empat iklan cetak yang berbeda dengan empat kunci tampilan, yakni life science, fashion, otomotif, dan dokumen. Ini merupakan tambahan untuk iklan radio dan TVC.

Untuk kampanye televisi, visualisasi dilengkapi dengan serangkaian tag customer service yang menampilkan keramahan wajah lokal terhadap penempatan global DHL Express sebagai spesialis internasional. Dia melanjutkan, ada dua cara mengukur efektivitas iklan, yakni menciptakan top of mind terhadap produk dan layanan di kalangan pelanggan serta membangun image positif dari bisnis.

Sejauh ini, kunci sukses DHL dalam membuat iklan yang efektif adalah menyeimbangkan tujuan bisnis pada saat mengembangkan iklan untuk seluruh dunia, yakni membangun sebuah brand yang menyuarakan satu pesan kunci yang sama, mengembangkan perhitungan biaya ekonomis dalam proses kreatif, dan memaksimalkan efektivitas sentuhan lokal pada iklan.

“Kemudian, melakukan penelitian iklan yang relevan. Ini penting dalam menentukan keberhasilan sebuah iklan di setiap negara dan wilayah. Selain itu, dibutuhkan kemampuan untuk mengidentifikasi apa saja kontribusi elemen dan/atau momen yang tepat guna melakukan perhitungan biaya ekonomis. Maka, gagasan apa pun bisa diimplementasikan di berbagai market,” kata Ahmad. (Fisamawati)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

To Top