Portal Lengkap Dunia Marketing

Marketing

Marketing yang Sistemik

d90_16pKetika saya melempar suatu isu ke sebuah milis komunitas alumni, saya menemukan bahwa isu tersebut ternyata kurang mendapat respons.

Iseng-iseng, isu tersebut kemudian saya lemparkan ke grup Facebook yang anggotanya komunitas yang sama. Hasilnya, tanggapan cukup lumayan, sekalipun tidak bertahan lama.

Akhirnya, isu yang sama pun saya lemparkan ke grup BlackBerry Messenger (BBM) dengan anggota yang sebagian masih sama juga. Responsnya ternyata lebih dahsyat. Interaksinya begitu cepat, dan sampai berminggu-minggu isu tersebut masih menjadi perbincangan di grup!

Hati-hati, grup BBM bisa membuat milis dan grup Facebook akan sepi komentar. Sarana chatting seperti ini lebih cepat, nyaman, dan gratis. Ini terjadi gara-gara BB memberikan konsumennya “pin BB” yang hanya bisa dipakai oleh pengguna BB. Pengiriman pesan bisa dilakukan lewat BB dengan cara tukar-menukar pin dengan orang lain. Dampaknya, pengguna BB tidak perlu lagi mempergunakan SMS, dan ini diberikan secara gratis!

Tidak berhenti sampai di situ, BB pun memberikan fasilitas chatting group kepada penggunanya agar bisa berinteraksi dengan banyak orang. Sesuatu yang sulit dilakukan oleh SMS, dan itu diberikan juga secara gratis! Ketika sedang menonton sidang pansus bank Century di televisi, kami semua, anggota grup bisa saling berkomentar lewat grup BBM. Bahkan ketika iklan sedang ditayangkan, kami bisa membahas sesuatu yang berbeda, dan kembali ke topik awal pada saat jeda iklan usai. Cepat, menyenangkan, dan murah.

Kalau bosan dengan program aplikasi yang Anda punya, kita secara reguler bisa men-download program aplikasi gratis. Bahkan, kita tidak perlu mencari sendiri, tetapi kita dikirimi langsung lewat BBM.

Mengapa “kebaikan hati” ini dilakukan?

Konsumen ke depannya akan semakin menjadi manusia multitasking. Ketika bekerja, layar notebook kini sudah dipenuhi dengan Facebook, Twitter, Yahoo Messenger, Internal PopUp, dan tentunya, layar yang terkait dengan pekerjaan. Belum lagi, mereka bisa bermain saham secara online sambil bekerja. Mereka juga membuka situs-situs berita seperti detik.com maupun portal forum seperti Kaskus. Di sela-sela layar, mungkin akan muncul pop up, menandakan bahwa ada e-mail yang masuk. Sementara, SMS dari bos juga tak kunjung berhenti masuk. Barangkali si bos hanya menanyakan kenapa e-mail dari si karyawan tidak masuk-masuk!

Kehadiran BBM menambah deretan daftar sesuatu dalam hidup manusia yang harus dalam posisi stand-by atau mode-on. Bagi orang tua yang tidak terbiasa melihat pemandangan ini, mereka mungkin akan heran dan bertanya-tanya, bagaimana anak-anak mereka bisa fokus belajar atau bekerja dengan berbagai tampilan windows di komputer. Apalagi, jika ditambah dengan bunyi “cling” dari mana-mana—menandakan ada sesuatu yang updated—membuat senewen orang yang tidak terbiasa mendengarnya.

Penelitian akan multitasking consumer ini sebenarnya sudah dilakukan di AS. Di sana, survei Nielsen menunjukkan ada lebih dari 50 persen orang yang menonton televisi sambil berinternet. Survei lain menunjukkan bahwa 40 persen remaja juga melakukan hal yang sama—nonton sambil chatting lewat internet. Orang bisa memilih-milih produk di supermarket sambil bertelepon. Adanya penelitian ini sebenarnya berguna untuk memastikan bahwa konsumen sekarang tidak bisa lagi dihidangkan iklan di satu media. Dulu marketer memasang iklan di lebih dari satu channel pada waktu yang sama gara-gara fenomena remote control TV. Marketer tidak mau konsumen kehilangan fokus pada iklan akibat switching ke channel lain. Kini, lebih dahsyat lagi, marketer harus mengombinasikan berbagai media pada waktu yang bersamaan.

Bahkan, komunikasi kini tidak seperti menghidangkan makanan di atas meja. Ke depannya, konten komunikasi harus disuapi ke “mulut” konsumen. Istilah exposing the consumer akan menjadi feeding the consumer. Konsumen perlu disuapi oleh hal-hal baru secara terus-menerus. Kalau tidak, mereka akan mudah berpaling.

BlackBerry mencoba menyelami kehidupan multitasking konsumen. Merek ini setia menyuapi konsumen dengan konten-konten baru. Perusahaan “baik hati” ini diam-diam sebenarnya sedang melakukan aktivitas yang sistemik—meminjam istilah Sri Mulyani—untuk mengubah gaya hidup konsumen. Setiap kali bunyi “cling” terdengar, bukan hanya mengingatkan bahwa ada pesan atau chat yang masuk, tetapi juga mengingatkan bahwa mereka masih memakai BB sampai saat ini. Itulah aktivitas marketing yang berdampak sistemik.

1 Comment

1 Comment

  1. ismail

    April 26, 2011 at 14:53

    Dengan adanya BBM ini akan mampu mendongkrak kualitas brand bisnis tertentu. Sungguh gebrakan yang fenomenal menurut saya dengan pola marketing yang mencakup semua sistem dalam satu wadah yaitu BBM.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top