Portal Lengkap Dunia Marketing

Marketing

Libby Baby, Jadi Trendsetter Lewat Kualitas dan Inovasi

Segmen pasar bayi dan anak di Indonesia adalah salah satu segmentasi pasar yang besar dan terus berkembang. Jenis produk yang menarget pasar ini pun sangat luas. Maka itu tak heran jika pasar ini dikerubuti banyak pemain. Salah satu produk yang memiliki potensi pasar besar adalah perlengkapan bayi, baby jumper.

Libby Baby

Irene Imanata Susanto Sales and Marketing Director Libby Baby. (Foto: Wicaksono)

Bagi orang tua, apa pun kebutuhan sang buah hati akan dipenuhi. Terlebih jika si orang tua memiliki daya beli yang tinggi. Asupan gizi yang tinggi, kesehatan, produk perawatan bayi, maupun pakaian bayi adalah top list belanja dari keluarga muda di Indonesia. Hal inilah yang coba dimanfaatkan oleh para pelaku bisnis untuk merebut hati mereka.

Salah satu pasar yang menarik dari segmentasi bayi dan anak ini adalah pakaian bayi. Tentunya, pemilihan pakaian untuk bayi yang berkualitas dan nyaman akan sangat membantu tumbuh kembang bayi ke depannya. Sebagai pasar yang besar nan seksi, pasar ini menjadi lahan pertarungan yang tak kalah seru bagi merek-merek yang ada, lokal maupun merek asing. Salah satu pemain lokal yang turut menggarap pasar pakaian bayi adalah Libby Baby.

Libby Baby mempunyai lini produk beragam dari baju, celana, sarung tangan, singlet, topi, handuk, dan sebagainya. Khusus untuk pakaian, jumper bayi ternyata menjadi produk yang sering dibeli konsumen. Meski baru dipasarkan tahun 2016 kemarin, jumper bayi produksi Libby Baby sudah menjadi favorit bagi konsumen. Hal ini karena kualitas produk yang dihadirkannya.

Libby Baby Irene Imanata Susanto, Sales & Marketing Director Libby Baby, mengungkapkan dewasa ini  persaingan di pasar pakaian bayi semakin ketat. Oleh sebab itu Libby Baby yang sudah ada sejak tahun 2002 lalu, selalu menitikberatkan pada kualitas produk. Setiap produk yang dikeluarkan mempunyai kualitas terbaik sehingga selain nyaman juga aman dikenakan oleh buah hati.

Untuk memperkuat citra dan keunggulan produknya tersebut Irene juga selalu memberikan informasi kepada konsumen kalau produknya sudah memiliki sertifikasi internasional Oeko-Tex Association dari Testex, Swiss. Selain pengakuan dari luar negeri, Libby juga sudah memperoleh SNI dari dalam negeri.

“Sertifikat yang kami raih tidak mudah karena produk harus melewati 100 uji parameter. Jadi, tidak ada lagi benang atau kancing yang terlepas, mudah melar, dan warna pudar di produk kami,” jelasnya.

Selain mengusung produk berkualitas, strategi lain yang dilancarkan Libby Baby adalah dari sisi inovasi produk. Bagi Irene, inovasi produk merupakan sebuah keharusan di industri ini. Hal tersebut karena pakaian bayi tidak banyak macam dan modelnya. Konsumen akan merasa bosan dan jenuh jika melihat produk Libby Baby dengan corak, model, dan warna yang itu-itu saja.

“Inovasi atau pengembangan produk yang kami lakukan sangat cepat agar konsumen bisa mendapatkan variasi produk dengan corak yang banyak. Caranya adalah kita harus bisa lihat peluang, seperti model apa saja yang akan booming, sehingga bisa menjadi trendsetter,” imbuhnya.

Lebih lanjut Irene mengungkapkan, untuk referensi model-model baju bayi terbaru, dia mendapatkan ide dari luar negeri yang kemudian dia modifikasi dan disesuaikan dengan selera dan kebutuhan konsumen di sini.

Selain menghadirkan produk berkualitas dan inovasi berkelanjutan, segi pelayanan terhadap konsumen juga tidak dilupakan. Perusahaan selalu berusaha menyajikan pelayanan yang maksimal agar tingkat loyalitas konsumen terhadap Libby tetap tinggi, sehingga tidak mudah berpaling ke merek lain. Salah satu hal penting yang selalu dijaga oleh Irene adalah ketersediaan barang di toko-toko Libby.

Dengan jangkauan distribusi yang luas yaitu hampir di seluruh Indonesia, untuk menjaga ketersediaan produk di setiap toko diakuinya tidaklah mudah. Namun begitu, selama ini dia dan timnya berhasil mengatasi masalah tersebut. Indikasinya dapat dilihat dengan sedikitnya komplain yang dia terima dari konsumen.

Untuk memasarkan produknya, Irene lebih memilih pendekatan dengan cara mengedukasi end user. Edukasi yang disampaikan yaitu mengenai pentingnya keamanan dan kesehatan pakaian bayi. Beberapa aktivitas pemasaran yang dilakukan adalah mengikuti event Indonesia Maternity Baby Expo setiap tahun dan menggandeng instansi kesehatan seperti rumah sakit. Libby Baby

Toko juga menjadi salah satu tempat edukasi kepada konsumen. Untuk itu Libby selalu melatih sales promotion girl (SPG) mereka untuk membantu mengomunikasikan keunggulan Libby ke konsumen.

Sementara dalam pemasaran digital, Libby menyesuaikan dengan target pasar mereka; ibu-ibu muda. Para ibu muda sangat akrab dengan dunia digital dan bermain media sosial, maka Libby pun menggunakan media tersebut untuk menjalankan aktivasi merek.

“Aktivasi yang kami lakukan ada di website, Facebook, dan Instagram. Kami juga membuat aktivasi yang interaktif dengan konsumen, seperti lomba foto dengan sleep suit Libby dan harus di-upload ke media sosial Libby. Media sosial sangat membantu kami meningkatkan brand awareness sekaligus menumbuhkan engagement dengan konsumen,” tuturnya.

Merek ini telah menoreh prestasi tersendiri. Meski belum lama dipasarkan, Libby Baby telah berhasil menjadi merek Top di kategori Baby Jumper.

“Ketika kami hadirkan di tahun 2016 lalu, jumper bayi masih asing di Indonesia. Konsumen terbiasa dengan baju bayi atasan dan bawah seperti piyama. Kami adalah yang pertama memperkenalkan produk ini. Dengan strategi yang kami lakukan, kami berhasil menguasai pasar jumper bayi dan menjadi trendsetter,” kata Irene menutup wawancara.

Wicaksono

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top