Portal Lengkap Dunia Marketing

Headline

Layanan Diet dari Si Ratu Pelangsing

WRP Diet CenterSebagai merek pelangsing tubuh, nama WRP sudah cukup tersiar. Namun, kepiawaian membaca keinginan pasar membuatnya berani melakukan ekspansi dengan menjajaki bisnis layanan program diet.

Ekspansi WRP tergolong berani. Di tengah produk pelangsing lain gencar melahirkan berbagai jenis varian, WRP malah berbeda. Bukan varian produk yang dipilih, melainkan bidang bisnis baru, yakni mendirikan WRP Diet Center (WRP DC).

Dijelaskan oleh Deputy of General Manager WRP Diet Center, Lia Amelia, sejatinya pendirian WRP DC lebih dikarenakan peluang pasar program pelangsing tubuh yang sekarang kian terbuka.

Lihat saja di beberapa kota besar di Indonesia. Berbagai nama diet center nampak menjamur di sana. Melihat fenomena itu, pihak WRP pun menanggapinya dengan serius dan menganggap ini sebagai ceruk bisnis baru yang wajib digarap. Alhasil, seusai melakukan serangkaian riset pasar,  WRP membuka “WRP Diet Center”.

“Pihak WRP kala itu optimis terhadap kelegitan bisnis ini karena merek WRP sendiri sudah cukup kuat di pasar sebagai produk pelangsing tubuh,” ungkap dia.

Program diet yang ada di WRP DC tidak sama dengan program di diet center lain. Perbedaannya terletak pada hasil yang diperoleh. “Pada kami, program diet bukan hanya soal bagaimana berat badan bisa turun, namun juga harus sehat. Misalnya, kami bisa saja menurunkan berat badan hingga 10 kg dalam waktu singkat. Namun, kami tidak mau melakukannya karena akan merugikan kesehatan si klien sendiri,” jelas dia.

“Jadi, klien yang menjalani program diet di WRP tidak hanya akan menjadi langsing, tetapi juga akan menjadi sehat,” kata Lia seraya berpromosi.

Di WRP DC, program penurunan berat badan dilakukan secara bertahap, sesuai dengan masalah yang dihadapi si klien. Klien yang kontinu menjalankan perawatan dan masalahnya tidak terlalu berat, cukup mengikuti satu program dan selesai dengan lebih cepat. Namun, ada juga klien yang harus menjalankan beberapa program dan memakan waktu yang cukup lama.

“Biasanya jenis program dan jangka waktu perawatan ditentukan pada saat klien melakukan konseling dengan para konselor WRP DC,” jelas Lia.

Konseling memang diperlukan untuk menunjang kemaksimalan hasil perawatan. Hal ini dilakukan untuk menghindari kesalahan dalam perawatan, sehingga timbul ketidakpuasan dari klien atau bahkan bisa merugikan si klien sendiri. Pasalnya, sering kali ditemukan gap antara kasus yang dihadapi dengan keinginan si klien. Misalkan si klien ingin kulitnya tampak cantik. Namun ternyata, setelah diteliti, seharusnya yang perlu ditangani dahulu dengan segera adalah berat badannya, karena termasuk dalam kategori over weight.

”Bila sudah seperti ini, kami akan berterus-terang kepada si klien sambil memberi tahu mereka bahwa program perawatan kulit bisa diambil selanjutnya, setelah berat badannya mencapai angka yang ideal. Namun, keputusan akhir tetap diserahkan ke tangan si klien,” kata dia.

Soal menu perawatan, di WRP DC tersedia tiga program perawatan, yaitu program penurunan berat badan, pembentukan tubuh, dan perawatan kulit. Di antara ketiga program tersebut, penurunan berat badan lebih banyak diminati dibanding program lainnya.

Untuk soal harga, menurut Lia, sangat wajar. Satu program dibanderol Rp 3-15 juta. Jangka waktu perawatannya bisa mencapai 1,5 bulan. “Lagi-lagi itu disesuaikan dengan kebutuhan si klien. Misalkan seberapa besar masalahnya, jangka waktu yang diinginkan, dan sebagainya,” tambahnya lagi.

Saat ini gerai WRP DC telah ada di dua lokasi, yaitu Mal Pacific Place dan Grand Indonesia. Mal dipilih lantaran dianggap mampu membangun brand awareness WRP DC. “Hal ini lumrah dilakukan bagi pemain yang baru muncul,” ujar  Kwik Wan Tien, General Manager WRP Diet Center.

“Lagi pula, hal itu juga akan memudahkan si klien menemukan lokasi WRP DC. Ketimbang memberi petunjuk berdasarkan nama jalan yang belum tentu diketahui setiap orang, lebih baik memberi petunjuk lewat nama mal terkenal,” imbuh dia.

Penyebab lain juga terkait dengan target pasar WRP DC yang lebih menyasar ke kalangan AB+. Karenanya, untuk pemilihan mal pun tidak sembarangan. Harus dipilih mal tempat orang kalangan atas biasa berkunjung.

Selain mendongkrak awareness, kemampuan lain yang wajib dimiliki bisnis pelayanan ialah service experience skill. Dikatakan oleh Lia, di WRP DC pelayanan bersifat menyeluruh dan terbuka. “Artinya, kendati itu hanya pembantu atau baby sitter si klien, tetap akan kami layani dengan baik,” tegas Lia.

Bentuk layanan bisa berupa menyediakan bahan bacaan dan menanyakan ulang keinginan mereka. Semisal menanyakan apakah mereka ingin tambah minuman, ganti majalah, atau jalan-jalan ke luar dahulu.

Begitu juga dengan suami dan anak-anak si klien. Bagi klien yang kebetulan membawa serta suami, biasanya staf WRP DC akan mempersilakan sang suami untuk jalan-jalan dahulu ke mal sambil meminta mereka untuk meninggalkan nomor telepon. Tujuannya agar si suami bisa dihubungi kembali setelah isterinya selesai perawatan.

Sedangkan untuk anak-anak, biasanya para staf akan mendampingi mereka dengan menemani dan sebisa mungkin mengajak mereka bermain dan terus berkomunikasi sampai ibunya selesai menjalani perawatan.

Lewat cara itu, diklaim olehnya, klien sudah cukup puas. Terbukti dari laporan per kuartal, nilai WRP selalu berada pada angka 100 persen untuk kebersihan dan service experience. Sayangnya, ketika ditanya jumlah klien yang dimiliki sekarang, Lia enggan mengungkapkan. “Namun yang pasti, jumlahnya terus meningkat dari tahun ke tahun. Sebab itu, kami pun berencana untuk menambah satu gerai lagi guna mengantisipasi lonjakan jumlah klien di tahun ini,” ujarnya.

Meski mendapat predikat baik, bukan berarti WRP akan berhenti sampai di situ. Sejauh ini, terus terang diakui Lia, pihaknya juga sering mendapat masukan-masukan dari para klien mengenai WRP DC. Seperti tuntutan keberadaan kamar mandi dalam, ruangan yang diperluas, dan lain-lain.

“Tantangan ke depan bagi kami adalah berusaha memenuhi semua kebutuhan klien dan meningkatkan status servis WRP DC. Pasalnya, sekarang servis kami baru mencapai tahap ‘ramah’, belum ‘peduli’. Padahal, ramah dan peduli itu berbeda,” urainya.

Tegasnya, bila “ramah” maka yang diperhatikan hanya hal-hal yang umum. Sedangkan bila sampai ke tingkat “peduli”, hal-hal kecil pun akan diperhatikan. Misalnya, mencari tahu siapa saja anggota keluarga si klien, agar staf WRP DC bisa memberikan selamat atau mengirimkan kartu ucapan kepada yang berulang tahun. Atau, menanyakan anak si klien bila diketahui bahwa anak mereka tengah mengikuti suatu perlombaan di sekolahnya.

“Dengan begitu, diharapkan kepuasan klien terhadap pelayanan WRP DC akan semakin optimal, sehingga loyalitas pun bisa tumbuh,” kata Lia. (Majalah MARKETING/Andri Darmawan/Foto:http://wrp-diet.com)

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top