Portal Lengkap Dunia Marketing

MARKETING

Lakukan Apapun!

www.marketing.co.id – Iklan yang bagus belum tentu menjamin sebuah produk sukses di pasaran. Lantas, bagaimana  menciptakan sebuah iklan hingga bisa meningkatkan nilai jual bagi sebuah produk?

Dalam dunia periklanan, iklan produk yang bagus tidak menjamin sebuah produk sukses di pasaran. Penyebabnya, mungkin saja pesan dalam iklan tersebut tidak sampai ke konsumen, dan masih banyak faktor lainnya. Oleh karena itu, perlu riset terlebih dahulu sebelum ditentukan iklan seperti apa yang akan dibuat. Selain itu, pengiklan juga sebaiknya memotret insight konsumen yang dibidik oleh produk yang akan diiklankan. Hal ini penting, karena setiap produk yang dipromosikan ujung-ujungnya bermuara ke konsumen.

“Kita semua tahu, membangun merek kuat tidak bisa dilakukan hanya dalam semalam. Memperbaiki persepsi masyarakat tidak hanya sekali bicara. Perlu konsistensi sepanjang waktu agar merek benar-benar tertanam dalam ingatan khalayak sasaran. Itulah pentingnya insight konsumen untuk mendapatkan kampanye yang mengesankan, cerdas, dan berstrategi,” kata Adji Watono, President Director Dwi Sapta Group.

Penulis buku IMC (Integrated Marketing Communication) that Sells ini menambahkan, faktor lain yang perlu diperhatikan adalah sebuah ‘selling idea’ untuk kampanye promosi sebuah brand. Menurut Adji, sebuah brand soul merefleksikan keunggulan inheren yang dimiliki oleh merek berupa uniqe value proposition yang tidak dimiliki oleh pesaing di pasar. Agar relevan dengan konsumen, sambungnya, brand soul harus diformulasikan sesuai karakteristik, kebutuhan, preferensi, dan harapan konsumen.

Untuk itulah brand soul harus diterjemahkan menjadi selling idea yang akan menjadi “anchor” dari keseluruhan kampanye komunikasi yang akan dilakukan. Adji memberi contoh kasus sabun Lux yang merumuskan selling idea-nya sebagai “Sabun Kecantikan Para Bintang” dan Tolak Angin yang menggunakan selling idea “Orang Pintar Minum Tolak Angin”.

Lebih lanjut dijelaskan, brand soul dan selling idea merupakan inti dari komunikasi pemasaran terintegrasi (IMC). Ia menjadi dasar penentuan pesan (message) dan bauran komunikasi (communication mix) yang akan dijalankan.  “Kalau dikatakan bahwa IMC adalah program komunikasi yang ‘terintegrasi’, elemen yang memainkan peran krusial dalam mengintegrasikan pesan dan program komunikasi adalah brand soul dan selling idea,” paparnya.

Faktor lain, sambungnya, adalah pentingnya memahami target audience. Mengambil contoh kasus Adem Sari, seperti yang juga dijelaskan dalam bukunya, dari awal meluncurkan Adem Sari, menurut Adji, Sari Enesis sebagai produsen sejak lama sangat percaya kekuatan medium televisi untuk mengampanyekan produk. Perusahaan ini bahkan memercayai televisi sebagai ujung tombak untuk meraih hati, perasaan, serta pikiran konsumen. Karenanya, desain kampanye iklan dilakukan secermat mungkin. Prosesnya sangat detail dan terstruktur sejak sebelum penayangan, saat penayangan, dan pascapenayangan.

Bahkan, katanya, pengukuran efektivitas pesan iklan ini dilakukan setelah satu bulan iklan tayang. Apabila hasil riset menunjukkan adanya ketidaksesuaian dengan tujuan kampanye komunikasi yang sudah disusun, harus dilakukan penyesuaian berupa perbaikan dan penyempurnaan, entah dari sisi pesan yang ingin disampaikan maupun gambarnya. Bahkan, kalau perlu dilakukan shooting ulang. “Pendek kata, apa pun harus dilakukan agar pesan bisa dipahami dan audience tergerak untuk membeli,” kata Adji.

Terlepas dari semua faktor di atas, menurut Adji, sebuah iklan harus dapat mendorong terjadinya impulse pada alam pikiran konsumen. Agar hal itu bisa dilakukan, menurut dia ada dua jalan; pertama, dari sisi konten, konsep iklan yang ingin disampaikan haruslah jelas, mudah dipahami, dan tidak menimbulkan kebingungan. Dibutuhkan iklan yang bukan sekadar menginspirasi dan menarik secara visual, tapi juga memberikan solusi untuk persoalan yang dihadapi target audience. Pada konteks Adem Sari, Dwi Sapta merancang konsep iklan yang sejak awal menunjukkan kejelasan symptom dan fungsi produk ini. Konsep iklannya menjelaskan mulai dari “apa yang dimaksud gejala panas dalam beserta ciri-cirinya” sampai informasi bahwa seluruh gejala ini dapat diredakan oleh Adem Sari.

Kedua, dari sisi frekuensi. Agar benar-benar bisa menancap pada target pasar, pesan itu harus dikirim secara berkala. Semakin sering pesan dikirim, semakin besar potensinya untuk tersimpan di alam bawah sadar konsumen. “Walhasil, sebuah iklan yang bagus bukan jaminan kesuksesan sebuah produk di pasaran,” tegasnya lagi. (Harry Tanoso)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top