Portal Lengkap Dunia Marketing

XXX Ad Madness

Kunci Utama Keberhasilan Sebuah Iklan

www.marketing.co.id  – Memahami apa yang menjadi kebutuhan konsumen bisa menjadi salah satu ide brilian untuk menciptakan iklan yang efektif, dan langkah inilah yang kemudian dianut oleh Fatigon Spirit dan Fatigon C Plus.

Iklan merupakan media informasi yang dibuat sedemikian rupa agar dapat menarik minat konsumen, memiliki orisinalitas serta karakteristik tertentu dan persuasif, sehingga khalayak secara sukarela terdorong untuk melakukan suatu tindakan sesuai dengan yang diinginkan pengiklan.

Komunikasi pemasaran yang dilakukan oleh perusahaan pada umumnya menggunakan medium iklan tradisional seperti televisi, koran serta majalah, radio, dan sebagainya. Sebuah survei mengungkap bahwa hampir 95% penduduk Indonesia memiliki televisi, dan hal itulah yang menjadi salah satu dasar pertimbangan bagi para pemasar untuk menggunakan medium iklan tradisional. Bentuk promosi melalui iklan televisi dipilih karena dianggap sesuai untuk mengomunikasikan citra produk melalui suara, warna, dan gerakan.

Pesan iklan diharapkan dapat menunjukkan keunggulan produk, kemudian membujuk dan mengarahkan konsumen melakukan tindakan pembelian—sesuai dengan tujuan perusahaan dalam rangka meningkatkan penjualan dan keuntungan perusahaan.

“Banyak langkah yang harus dilalui perusahaan untuk mengomunikasikan produk, poinnya adalah learn from customer dan how to deliver. Ada dua sisi yang perlu diperhatikan, yakni konten dan konteks, yakni memahami dan mengetahui apa yang menjadi keinginan konsumen dan lalu menyesuaikannya dengan tujuan iklan tersebut, agar iklan terlihat efektif dan efisien,” kata Arwin N. Hutasoit, Senior Brand Manager Group Multivitamin PT Kalbe Farma Tbk.

Sedianya ada beberapa brand—khususnya Fatigon—yang berdiri di atas payung Kalbe Farma, namun hanya ada dua TVC yang ternyata memiliki warna lain di mata masyarakat, yakni Fatigon Spirit dan Fatigon C Plus. Mengapa? Karena keduanya memiliki TVC yang cukup menarik dan unik. Jadi, tak ayal awareness masyarakat terhadap dua brand tersebut pun ikut terpacu.

Sebagai salah satu media promosi, televisi dinilai mampu mensugesti audience secara persuasif untuk membeli produk. Selain itu, iklan juga berfungsi sebagai pemberi informasi dan penjaga komunikasi antara produsen dengan konsumen.

Hal di ataslah yang kemudian mendasari Fatigon Spirit dan Fatigon C Plus untuk gencar beriklan. Sejatinya tidak melulu mementingkan sales, tetapi juga ingin menjadi top of mind di tengah khalayak. Oleh karena itu, baik sebelum ataupun sesudah iklan tayang, perusahaan acap kali melakukan riset. Ini biasanya dilakukan oleh tim riset internal dan eksternal agar output-nya bersifat representatif.

“Biasanya sebelum dan setelah iklan launch kami juga melakukan riset. Riset selepas launch dilakukan kurang lebih tiga bulan setelah iklan tayang. Learning by customer itu penting. Bukan dilihat dari apa yang kami tawarkan, tetapi apa yang diinginkan oleh konsumen, itulah intinya,” sambung Arwin.

Pembuatan iklan tentunya memerlukan konsep yang matang, sebab itu Fatigon selalu mengadakan proses pitching dalam menentukan agensi periklanan dan rumah produksi. Tak hanya itu, endorser pun dipilih melalui proses random yang dilakukan oleh dua belah pihak, yakni perusahaan dan agensi iklan.

Keberhasilan iklan pada umumnya memang tak lepas dari peranan endorser. Khusus untuk Fatigon C Plus yang baru saja memasuki pasar, kehadiran endorser dirasa cukup penting.

“Fatigon C Plus adalah produk baru dan dibutuhkan kemampuan untuk mencapai popularitas dengan cepat. Kami pun memilih endorser yang mendukung ke arah sana. Lalu, relevansinya terhadap brand yang diasosiasikan, apakah sama dengan target market Fatigon C Plus, yaitu pria dan wanita usia 20–25 tahun, middleup class/ABC 1. Kemudian, kami akhirnya memutuskan Asmirandah tampil sebagai endorser lantaran dinilai match dengan produk Fatigon C Plus,” terang Gregorius Daru Smaragiri, Brand Manager Fatigon C Plus, PT Kalbe Farma Tbk.

Sementara untuk Fatigon Spirit, Christian Sugiono hadir sebagai new endorser yang target market produknya adalah laki-laki/ABC class secondary untuk market muda 15–20 dan primary 20–40 tahun. “Sudah beberapa tahun kami mengontrak Primus Yustisio sebagai brand ambassador Fatigon Spirit. Namun untuk tahun ini, kami sepakat menggantikan posisi Primus dengan Christian Sugiono yang saat ini sedang naik daun,” timpal Dodi Rudiana Permana, Brand Manager Fatigon Spirit, PT Kalbe Farma Tbk.

Berbicara mengenai iklan TVC tak lepas dari pembicaraan soal bujet yang dikategorikan cukup besar. Secara overall, umumnya biaya yang dikeluarkan Kalbe untuk bujet promosi produk Fatigon ini berkisar 30%–40% dari hasil sales. “Intinya adalah, bagaimana dengan bujet yang ada, perusahaan bisa membuat dan menghasilkan iklan yang efektif dan bisa diterima oleh khalayak,” lanjut Dodi.

Dampak dari iklan semestinya peningkatan sales, dan memang begitu seharusnya. Ternyata, dari tiga macam iklan yang di-launch oleh tiap-tiap brand dampaknya cukup baik. Dari hasil survei data Nielsen Indonesia, saat ini market share Fatigon C Plus bertumbuh positif 1,2%—hampir menyamai kompetitor terdekat. Sementara market share Fatigon Spirit berada di kisaran angka 6,1%.

Tujuan beriklan sebenarnya tidak hanya untuk meningkatkan sales, tetapi juga mendekatkan produk kepada konsumen sesuai dengan targetnya masing-masing. Bagaimana konsumen mampu menerima pesan yang disampaikan, agar kelak konsumen merasa bahwa memang produk-produk tersebutlah yang menjadi kebutuhan dan keinginan mereka.

“Target ke depannya adalah terus meningkatkan nilai konten dan konteks baik iklan yang bersifat tematik dan taktikal. Karena pada dasarnya konten akan menjadi yang sangat penting apabila sesuai dengan insight konsumen. How to deliver dan strategi media juga harus dieksplorasi agar kita bisa memanfaatkan momen-momen tertentu,” tutup Arwin. (Merliyani Pertiwi)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

To Top