Portal Lengkap Dunia Marketing

MARKETING

Kiprah Legenda Optik di Tangan Generasi Ketiga

Marketing, Jakarta – Beroperasi lebih dari 90 tahun, Optik Tunggal telah banyak melayani konsumen, termasuk figur penting seperti Soeharto dan keluarga, BJ Habibie, Megawati, serta Soekarno. Berdiri sejak 1929, lini bisnis Optik Tunggal sebenarnya bukan hanya optik, namun juga distributor lensa, kacamata, contact lens, serta peralatan periksa mata dan kedokteran.

Saat ini Optik Tunggal dipimpin oleh generasi ketiga. Alexander Kurniawan, Chairman of Optik Tunggal, menerima estafet kepemimpinan dari ayahnya Michael Kurniawan. Pencinta olahraga triatlon ini sempat menolak pulang ke Indonesia karena ingin mengejar gelar PhD (doktoral) di Inggris. Alexander akhirnya luluh karena sang ayah terus membujuknya pulang ke Tanah Air untuk menangani perusahaan keluarga.

Pulang ke Indonesia di tahun 1994, tak langsung membawanya ke posisi puncak. Dia sempat melakoni pekerjaan sebagai plant manager di pabrik dan sales. Dunia optik sebenarnya bukanlah hal asing baginya. Sewaktu SD hingga SMA dia pernah mencoba beberapa pekerjaan di perusahaan ayahnya, mulai dari menggosok lensa hingga pembukuan. Uniknya, tidak ada perlakuan istimewa; dia tetap harus mengisi daftar hadir dan menerima gaji bulanan.

Alexander Kurniawan, CEO. Foto: Majalah MARKETING/Ll.

Lulusan Ilmu Matematika Murni dari Imperial College, United Kingdom ini tidak melulu mengandalkan daya analisisnya dalam berbisnis. Menurut dia, bisnis membutuhkan kombinasi antara daya analitik dan kemampuan intuitif. Bagaimana kiprah Alexander di Optik Tunggal? Berikut petikan wawancara dengan pria yang juga banyak meluangkan waktu untuk kebugaran tubuhnya.

Sebagai anak pemilik perusahaan, ada perasaan gusar karena tidak langsung menduduki posisi puncak?

Tidak, karena saya belajar banyak, bagaimana taktik salesman. Kemudian jadi sales manager, sempat pegang beberapa divisi sebelum jadi general manager. Jabatan chairman baru saya pegang tahun 2011.

Anda merasa ilmu yang dipelajari waktu kuliah di Inggris tidak terpakai dalam bisnis?

Ilmunya memang tidak digunakan secara langsung, yang digunakan kemampuan analisisnya, tapi terbatas. Kita tahu sendiri kalau di bisnis terkadang tidak logis.

Apa yang ingin ditingkatkan atau dibenahi ketika diangkat jadi chairman?

Ini perusahaan keluarga, ayah saya sebenarnya masih aktif sampai sekarang. Apa yang sudah bagus saya teruskan dan apa yang masih harus diperbaiki, diperbaiki. Jadi, tidak serta merta sekarang perusahaan menjadi urusan saya.

Ayah saya orangnya kritis, benar-benar kritis. Dia melihat sesuatu dari berbagai sisi, makanya saya appreciate sekali. Bicara dengan ayah saya mesti tepat, karena kalau tidak mesti dicecar habis, termasuk saya. Saya kadang dicecar lebih keras, karena saya anaknya dan tanggung jawabnya lebih tinggi.

Kalau ada yang beranggapan, wah enak dong mewarisi usaha keluarga?

Kalau menurut saya tidak benar. Karena ini risiko tinggi, apalagi kami sudah 91 tahun berdiri. Lucu jika terjadi sesuatu pada perusahaan ini karena kebodohan saya. Karena kesalahan analisis tiba-tiba perusahaan goncang.

Bagaimana tantangan dalam industri optik di Indonesia?

Bagi orang awam, bisnis optik tidak terlalu banyak bedanya dari bisnis apparel. Padahal lebih njelimet, karena kita sebenarnya bergerak di bidang kesehatan mata. Karyawan yang manage store juga mesti memiliki keahlian. Store harus memiliki refraksionist optician (RO) lulusan D3 agar bisa periksa mata, mendiagnosa, setelah itu mereka baru bisa jadi customer service, menangani pasien. Ini mesti dipersiapkan, dan tidak semua RO levelnya sama. Kalau tidak salah, ada 12 lembaga pendidikan RO di seluruh Indonesia, tapi standarnya tidak sama. Jadi, kami harus mendidik mereka lagi. Ini baru SDM, belum lagi peralatannya, pemilihan kacamata, frame, dan sebagainya.

Bagaimana persaingan di industri ini?

Alexander Kurniawan CEO

Ada sekitar 11.000 optik dan toko kacamata di seluruh Indonesia, yang benar-benar optik sekitar 3.000-an. Banyak yang mengaku optik padahal toko kacamata, karena belum memiliki standar yang tepat. Kita diatur oleh Depkes yang antara lain mensyaratkan optik harus memiliki RO. Ambil gampangnya, katakanlah jumlah optik 10.000 melayani 270 juta penduduk Indonesia, jadi masih banyak ruang untuk tumbuh. Tapi, industri ini juga mengalami keterbatasan karena ahli RO masih sedikit, baru sekitar 3.500. Jumlah RO yang masih terbatas juga untuk mengisi kebutuhan rumah sakit dan klinik mata. Karena itu, Kemenkes mengeluarkan Permenkes yang menyatakan 1 RO bisa pegang 2 optik. RO itu seperti apoteker di apotek. Perbandingan jumlah RO dengan optik di Optik Tunggal yakni 1,5 berbanding 1, jadi jumlah RO lebih banyak dari store kami.

Bagaimana menurut Anda konsumen optik di Indonesia?

Masih awam sebenarnya, mereka kebanyakan masih mementingkan harga atau diskon. Konsumen belum sadar kalau harga murah dan diskon besar harus ada yang dikorbankan, yakni kualitas dan service. Kalau kami memberikan garansi tanpa batas selama 1 tahun untuk lensa. Ini tidak diberikan kompetitor.

Bagaimana pertumbuhan Optik Tunggal?

Menggembirakan, tapi kita memiliki policy berbeda dari retail chain optik lainnya. Retail chain optik lain mungkin bisa buka banyak toko. Kami lebih selektif, lebih memilih mal yang pasarnya potensial. Kami tidak mau di satu tempat toko kami untung, tapi di tempat lain rugi. Kami ingin semua toko menjadi profit center. Jika dalam dua tahun toko rugi, kami akan tinjau apakah diubah atau tutup.

Bagaimana pertumbuhan secara industri?

Dalam dua tahun terakhir cukup tertekan, tapi hal ini juga terjadi di hampir semua industri. Tahun 2020 cukup challenging secara umum. Tinggal bagaimana kita bisa memberikan benefit yang lebih baik untuk konsumen, karena itu pada akhirnya kita mesti retain loyal customer.

Saat ini pasar optik paling besar di mana?

Secara kuantitas masih di segmen menengah ke bawah, tetapi kita mesti melihat income per capita Indonesia akan naik terus, dan suatu saat makin banyak masyarakat yang menginginkan kualitas hidup yang lebih baik, termasuk untuk kesehatan mata, ketimbang harga murah. Kalau ini terjadi, kami akan lebih siap melayani segmen ini.

Siapa market leader di industri optik?

Sulit untuk dihitung secara kuantitatif, karena market leader bisa diukur dari jumlah toko, profitabilitas, atau omzet. Kalau jumlah store yang dihitung, kami belum market leader, karena kami tidak agresif menambah toko.

Strategi menyambut 100 tahun Optik Tunggal?

Saya percaya bisnis optik juga akan mengalami evolusi, sama dengan bisnis apparel dan sejenisnya yang mengadopsi bisnis online. Bisnis online di apparel lebih mudah, karena jika konsumen ingin beli dan sudah tahu ukurannya mereka tinggal pesan, sehingga penjualan online industri ini lumayan pesat. Tetapi untuk optik tidak semudah itu, karena harus periksa mata, sehingga harus datang ke optik, lalu memilih frame kacamata sesuai ukuran. Ini challenge yang masih dihadapi. Tapi, saya tidak bilang tidak akan ada cara untuk mengatasi tantangan tersebut.

Selain itu, kita juga mesti berinovasi, salah satu inovasi yang kita lakukan dan belum ada di Indonesia yakni “Optik Tunggal Next Generation”, optik khusus untuk anak-anak berusia 2 bulan sampai 14 tahun. Optik Tunggal Next Generation mulai beroperasi sejak September 2017, gerai perdana berlokasi di Mal Kelapa Gading. Tahun 2018 kami buka empat store lagi.

Persiapannya sekitar 1,8 tahun, karena tidak mudah, terutama mencari SDM yang bisa mendekati dan menangani anak-anak. Kami sampai mendatangkan profesor pediatri dari Filipina untuk mendidik SDM. Maksimal 30 menit pemeriksaan di Optik Tunggal Next Generation, anak-anak sudah bisa mendapatkan kacamatanya. Di sini juga kami sediakan tempat bermain untuk anak-anak.

Bagaimana Anda memimpin karyawan yang berjumlah 3.000?

Saya berpikir jika saya menjadi mereka (karyawan), apa sih yang mereka butuhkan dan kesulitan-kesulitan mereka. Saya bukan tipe pemimpin yang ‘semau gue’, saya butuh input dari banyak orang yang qualified. Saya tampung masukannya, kemudian saya putuskan. Saya orangnya suka di-challenge oleh manajer atau staf lainnya. Saya tidak anti kritik, justru saya anti yes man.

Sudah menjadi good corporate governance bahwa yang boleh ikut campur dalam bisnis hanya keluarga inti. Di sisi lain, saya tetap objektif dalam mengambil keputusan, saya tidak akan memberi Surat Peringatan (SP) kepada karyawan hanya karena saya tidak suka.

Prinsip dalam hidup?

Perseverance, commitment, dan passion. Melakukan apa pun tanpa passion tidak akan bisa. Committed artinya kalau kita sudah putuskan sesuatu harus dijalankan. Perseverance, bisnis tidak selalu naik, kadang naik turun. Jangan down saat bisnis sedang turun.

Artikel ini pernah dimuat di Majalah MARKETING edisi Maret 2020

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top