Portal Lengkap Dunia Marketing

MARKETING

Kilas Strategi Marketing

4 Prioritas Utama Direktur MarketingSecara teori pemasaran/marketing adalah salah satu dari kegiatan dalam perekonomian dan membantu penciptaan dalam nilai ekonomi.

Bagi mahasiswa/i yang mengambil jurusan Ilmu Ekonomi tentu sudah mengenal dengan yang disebut nilai pasar, dan pasti sudah mengenal apa yang disebut dengan 6P.

Faktor terpenting dalam pemasaran adalah produksi , pemasaran dan konsumsi karena ketiga hal ini tidak bisa dipisahkan karena saling berkaitan satu dengan yang lain.

Pemasaran merupakan faktor penting dalam suatu siklus yang bermula dan berakhir dalam kebutuhan pelanggan.

Beberapa ahli telah mengemukakan definisi tentang pemasaran yang terlihat seperti berbeda tetapi sebenarnya sama.

Perbedaan ini timbul karena dari segi peninjauan pemasaran yang berbeda-beda, ada yang menitik beratkan dari segi manajemennya dan juga yang menitik beratkan dari segi analisis konsumennya.

Pemasaran memiliki konsep utama yaitu STP (segmentasi, targeting dan positioning). Secara strategi segmentasi banyak orang berpendapat bahwa pasar yang begitu luas dibagi dengan mengotak-kotakkan lokasi pasar yang tujuanmya untuk memilih pasar yang tepat pada produk yang akan dipasarkan.

Secara garis besar pembagian pasar tidaklah mudah seperti membalikkan telapak tangan apalagi di tambah dengan psikologi konsumen terhadap barang yang terus berubah-ubah maka sang pemasar dituntut untuk jeli melihat kondisi perubahan konsumen pasar.

Berdasarkan banyak pegawai yang telah mengikuti seminar motivasi bahkan ada yang membeli buku mengenai cara bermarketing bukanlah jaminan sukses untuk mampu bersaing di realitas market/pasar.

Banyak membaca, tetapi sedikit melakukan apa juga untungnya? Bukankah anak kecil juga bisa melakukan hal ini? Dari sudut sosial manusia yang susah untuk di lawan adalah rasa malas untuk berinovasi dan menciptkan hal yang berbeda.

Tidak heran bagi mereka yang hidupnya biasa-biasa saja dan tidak mau mengambil resiko akan tetap tertinggal, karena mereka terjebak dalam zona nyamannya.

Di samping itu, menargetkan barang dan jasa juga ada memiliki korelasi yang dekat dengan segmentasi. Pintarpun kita mensegmentasikan pasar jika skill untuk menjual tidak memadai maka percuma juga.

Dosen pemasaran kami Suanti SE MM mengatakan, “menjadi seorang pemasar produk atau jasa bukanlah dengan konsep teori saja yang dibaca dalam buku melainkan yang menjadi faktor penunjuang kesuksesan pemasar adalah dengan cara memahami masalah konsumen”.

Hal serupa dikatakan Ketua ASM Widya Dharma Pontianak Lie Heng SE MM saat mengajar mata kuliah kewirausahaan. “Menjadi seorang pemasar produk dan jasa yang paling dibutuhkan yaitu kemampuan emosional positif yang menggerakan konsumen dalam mengungkapkan masalahnya” ujarnya.

Upaya untuk seorang pemasar ternyata tidak cukup hanya segmentasi dan targeting saja, melainkan sudut posisi juga menentukan besarnya minat beli seorang konsumen. Posisi yang strategis atau bahasa asingnya yaitu positioning, merupakan pemilihan lokasi yang tepat dengan produk atau jasa sediakan untuk konsumen.

Ilustrasinya, tidak mungkin seorang pengusaha minimarket membuka usahanya jauh dari keramaian kota. Karena, umumnya minimarket dibuka di tengah pemungkiman warga. Kalaupun dibuka tentu penghasilannya jauh lebih rendah dari yang ada pada umumnya.

Pesona awal marketing merupakan senjata utama dalam relasi dengan konsumen atau pangsa pasar. Pesona disini artinya cara berkomunikasi yang benar baik dan tepat pada konsumen.

Sering terjadi ketika seorang konsumen hendak membeli barang di sebuah minimarket, seorang petugas wajib paling tidak memberikan senyuman dan ucapan terima kasih kepada konsumennya yang tujuannya untuk membuat konsumen merasa nyaman dulu terhadap mereka.

Maka jika konsumen sudah merasakan nyaman dengan pelayanan karyawan. Otomatis pelanggan akan merasa dihargai dan kemungkinan untuk berkunjung ada. Begitu juga dengan seorang marketing yang handal akan selalu membuat cara dan trik baru dalam sistem pemasaran.

Zaman sekarang siapa sih yang tidak kenal dengan yang namanya teknologi? Perkembangan teknologi sudah membanjiri dunia, teori-teori mengenai pemasaran juga ikut membanjir.

Sekarang pertanyaannya apakah kita sudah cukup hanya sekadar membaca buku marketing dan buku motivasi? Semua akan sia-sia saja jika tidak diaplikasikan dengan tindak nyata.

Berdasarkan realitanya kebanyakan mereka yang berkuliah sambil berkerja tidak kalah saing juga dengan mereka yang fokus kuliah khususnya dalam nilai kuantitatif teori yang mereka terima dari kuliahnya.

Ini disebabkan karena korelasi antara ilmu praktek dengan ilmu teori tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lain.

Diibaratkan daging yang dibagikan oleh dosen untuk mahasiwa/i tentu harus dimasak dan diolah lagi agar daging tersebut tidak busuk dan dapat berguna bagi siapa saja.

Jiwa marketing sebenarnya semua orang memilikinya, tergantung bagaimana cara untuk mengasah lagi kemampuan yang dimilikinya. ”Orang yang mampu membuat sesuatu yang berbeda dari yang lain, sebenarnya kreatifitas mulai bertumbuh”.

Artikel ini dikirim untuk Marketingcoid oleh Samuel – Mahasiswa STIE Widya Dharma Pontianak.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top