Portal Lengkap Dunia Marketing

PROPERTY & RETAIL

Kiat Berbenah Ala Disc Tarra

Agar tidak lari, Disc Tarra semakin memanjakan pelanggannya. Ritel tersebut juga mulai melirik kalangan menengah-atas. Mengapa demikian?

Bisnis ritel musik dan film boleh dibilang gampang-gampang susah. Sebab, di tengah berkembangnya pasar musik dan film di Tanah Air, permintaan akan peranti terkait cukup besar. Sayangnya, persaingan yang ketat ini tidak diramaikan antarpelaku bisnis, tapi dengan para pembajak.

Pembajakan atau piracy di negeri ini memang sangat memprihatinkan. Ini pula yang dirasakan oleh CEO Tarra Group, Wirawan Hartawan, yang memayungi ritel Disc Tarra. “Persaingan tidak terjadi antarpemilik ritel, tapi dengan pembajak. Karena itu, sekarang Disc Tarra berusaha mengelola pasar yang ada. Seandainya para pembajak menguasai 90% pangsa pasar, kami menggarap 10% sisanya,” kata Wirawan.

Menghadapi situasi semacam ini, Wirawan mulai menggarap segmen menengah ke atas (high end). Langkah ini diambil karena kalangan high end biasanya merupakan komunitas yang lebih memberi apresiasi terhadap mutu produk. Mereka pasti emoh dan gengsi apabila membeli produk bajakan. Untuk itu, Disc Tarra Group mengemas ritel baru dengan nama Societe.

“Societie menjadi langkah untuk menyuguhkan konsep baru di ritel kami. Seluruh ritel kami nantinya akan dikemas seperti itu. Kami tidak lagi sekadar ritel yang menjual compact disk (CD) musik atau film saja. Tapi, kami juga menjual experiential shopping,” kata Wirawan saat diwawancarai di salah satu gerai Societie di FX Sudirman, Jakarta.

Sejak semula Disc Tarra memosisikan diri sebagai toko anak muda yang hobi musik dan film. Tapi, karena melihat tren anak muda yang cukup dinamis, ia harus berani melakukan perubahan dan inovasi tersebut. Sekarang ini Disc Tarra cukup gencar memperkenalkan konsep-konsep baru yang boleh dibilang sebagai the new look-nya Disc Tarra.

“Nantinya, setiap gerai mempunyai ciri khas. Sekarang, kami sudah dan sedang membangun fitur tambahan di setiap gerai. Seperti ada music bar, digital kiosk, music spa, dan sebagainya. Kami tetap melihat kebutuhan anak muda urban yang benar-benar mengapresiasi mutu. Jadi, kami bukan hanya toko musik,” tandasnya.

Konsep music bar menggeser konsep lama Disc Tarra, di mana pembeli baru bisa mendengar musik setelah membeli CD-nya. Kini, seperti yang dilakukan oleh gerai lain, pembeli diberi kesempatan untuk mencoba, kalau suka baru dibelu. Ini didukung dengan perkakas audi visual yang tidak diragukan lagi kualitasnya. “Kami menawarkan suasana seperti sedang live melihat konser musiknya,” katanya.

Sementara itu, dengan adanya kios digital, pengunjung gerai bisa mencoba dan membeli lagu-lagu atau nukilan film yang ditanam ke telepon selular. Bisnis konten musik digital ini dikembangkan di lima kota besar sejak beberapa tahun silam. Ini dibangun seiring dengan makin bergairahnya industri seluler dalam negeri. Menurut Wirawan, ini merupakan wujud evolusi dari analog ke digital.

“Ponsel merupakan platform baru yang semakin banyak digunakan orang sebagai peranti mendengarkan lagu. Para pemain konten juga semakin banyak,” katanya. Sehingga, kios digital ini menyediakan konten lagu, klip singkat video, wallpaper, dan game. Baginya, musik masih menempati urutan teratas dari konten yang sering diunduh dibanding dengan konten lainnya.

Proses pembangunan kios sendiri, ujar Wirawan, membutuhkan waktu sekitar tiga tahun. Dari rentang itu, waktu paling lama digunakan untuk mengonversi format lagu yang akan dijual. Setidaknya sekitar 400.000 lagu akan dijual di kios digital ini dan lagu-lagu lokal masih mendominasi.

Untuk memberi servis lebih bagi pengunjung, di gerai ini disediakan ruang khusus untuk music spa. Di ruangan ini disediakan dua kursi pijat elektrik yang dilengkapi dengan alat pemutar musik untuk terapi. “Semua kami sediakan bagi para customer secara gratis. Pengalaman inilah yang penting. Misi kami agar pengunjung merasa hommy di sini. Bahkan, ini dijadikan sebagai rumah ketiga mereka setelah rumah dan kantor,” tandasnya.

Disc Tarra juga mengembangkan diri dengan menjual produk lain yang masih relevan dengan musik dan film, yakni peranti digital, seperti iPod, earphone, active speaker, dan sebagainya. Namun, di gerai ini, semua produk yang ditawarkan serbapremium.

Dari keseluruhan itu, Wirawan melihat servis sebagai kunci utama. “Ini adalah toko lifestyle yang mengusung entertaintment personal. Kami mengarahkan semua gerai ke sana,” katanya.

Sistem Franchise

Kalau ditengok sejarahnya, perjalanan Disc Tarra cukup unik. Gerai musik ini didirikan Wirawan sejak tahun 1980-an. Gerai pertama dibangun di Hayam Wuruk, Jakarta Kota. Ia masih ingat bagaimana susahnya memasarkan produk di tahun-tahun pertama. Dari sebulan hanya menjual 30 CD sampai ratusan keping sekarang ini.

“Gerai kami tumbuh dari waktu ke waktu. Tapi, kami juga mengalami naik-turun juga akibat krisis ekonomi. Sekarang kami sudah mempunyai sekitar 1.000 karyawan dengan 100 gerai,” katanya. Kesuksesan Disc Tarra didukung kekuatan-kekuatan yang dimiliki oleh Tarra Group. Selain memilik gerai musik, Tarra Group juga mempunyai pabrik, rumah produksi, training center, dan sebagainya yang saling mendukung.

Di samping itu, Wirawan mengaku proses edukasi ke customer kurang optimal kalau tidak ada tim yang berkualitas. Ia melihat edukasi ini tidak lepas dari ambience toko itu sendiri, karyawan yang mencintai pekerjaan, dan menguasai product knowledge.

“Tarra menyiapkan tim dengan sungguh-sungguh. Kami mempunyai training center yang menjadi wadah belajar tim agar bisa melayani customer dengan baik. Termasuk mengondisikan karyawan tidak sekadar bekerja, tapi juga mencintai pekerjaan dan menjadikannya sebagai bagian dari hidup mereka,” imbuhnya.

Karena ritel, strategi yang dilakukan Disc Tarra lebih ke program below the line. Aktivitas below the line yang dilakukan, seperti road show di kampus-kampus, ikut pameran, event musik, maupun sponsorship.

Untuk ritelnya, Disc Tarra juga mengembangkannya dengan sistem franchise. Dengan uang Rp 200 juta, pemilik uang bisa membeli hak franchise gerai ini. hingga kini para franchisee yang telah mendapatkan hak waralabanya telah membuka gerai di berbagai kota, seperti Jaya Pura, Bontang, dan Surabaya. Pada tahun ini, beberapa calon franchisee sedang menunggu proses afirmasi.

“Kami tetap melakukan servis dengan standar yang sama bagi mereka. Mentang-mentang franchise, kami lalu melakukan sebagai second priority, tentu tidak seperti itu. Buktinya, mereka puas atas treatment kami selama ini,” kata Wirawan seraya menyatakan bahwa soal lokasi menjadi pertimbangan penting di dalam pembukaan outlet. Lokasi yang dipilih harus yang menjadi ikon gaya hidup kaum urban, khususnya anak muda yang senang mengapresiasi mutu sebuah produk.

Menurut Wirawan, Disc Tarra sekarang mampu menguasai sekitar 20-30% market share. “Tahun depan, kami terus maju meski tidak perlu agresif mengingat kondisi ekonomi yang kurang stabil. Kami tetap lakukan think big, start small, dan act now,” katanya.

Melihat semua itu, pengamat pemasaran Yadi Budhisetiawan berpendapat, langkah menyasar kalangan menengah atas Disc Tarra sebagai langkah tepat.  “Kalau mau survive memang harus berubah dan berinovasi. Toh, kalangan itu jelas tidak akan membeli barang bajakan. Apalagi sekarang, bioskop-bioskop dan televisi berbayar pun semakin berkembang. Ini juga patut dijadikan pertimbangan,” katanya.

Yadi menyarankan agar pemilihan lokasi benar-benar tepat, termasuk strategi menggarap komunitas yang dilengkapi dengan database yang akurat dan lengkap. “Disc Tarra harus berani mengupayakan adanya suatu meaningful bagi customer yang sifatnya lebih ke gaya hidup mereka,” katanya.

(Sigit Kurniawan)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top