Portal Lengkap Dunia Marketing

XXX Ad Madness

Ketika Rolling Stone Menampilkan Pembom Boston Sebagai Sampul

Ketika Rolling Stone Menampilkan Pembom Boston Sebagai SampulSuka tidak suka, sampul edisi terbaru majalah Rolling Stone bisa jadi sebuah gerakan marketing yang pintar. Sampul edisi Agustus menampilkan Dzhokhar Tsarnaev yang berumur 19 tahun atau yang dikenal juga sebagai “tersangka nomor 2” dalam kasus bom Boston Marathon. Tagline di bawah gambarnya tertulis, “The Bomber. How a popular, promising student was failed by his family, fell into radical Islam and became a monster.”

Sampul tersebut menjadi kontroversial dan menyebabkan kehebohan, terutama di media sosial – menjadi trending topic Twitter – dan dunia blogger. Para pembaca terbiasa melihat pemusik, politikus, atau ikon budaya pop di halaman sampul, bukan tersangka pembunuh.

Penyiar radio Ted Stryker membuat kicauan bertuliskan “Horrible, classless, stupid choice Rolling Stone. It’s not smart or edgy. Very disappointed.” Kicauan tersebut di-retweet oleh penyanyi solo, Pink.

Editor Rolling Stone mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa artikel tersebut memenuhi tradisi jurnalisme dan mencerminkan komitmen publikasi liputan yang serius dan bijaksana. Rolling Stone menambahkan bahwa banyak dari pembacanya yang seusia dengan tersangka pembom dan sangat penting bagi majalahnya untuk mengeksplorasi isu tersebut.

Menjadikan Tsarnaev model sampul tentu menarik perhatian. Selain itu, sampul depan sebuah majalah adalah alat untuk menjual isu dan sering kali menjadi pendorong orang untuk melakukan pencarian secara online. Risiko negatifnya adalah para pengiklan akan menarik diri. Ditambah lagi, beberapa gerai memutuskan untuk tidak menjual edisi ini.

Bukan kali ini saja Rolling Stone memasang sampul kontroversial. Pada Juni 1970, majalah ini menampilkan sampul pembunuh Charles Manson. Di tahun 1980, majalah ini mempublikasikan edisinya dengan sampul bergambar Yoko Ono dan John Lennon tanpa busana.

Bagi para pengusaha, mengasosiasikan merek dengan subjek kontroversial bisa jadi berisiko. Bagi para pemula yang melakukan cara itu bisa mengalami masa-masa sulit menangani perhatian negatif dari para konsumennya.

Tapi, suka tidak suka, sampul edisi terbaru Rolling Stone ini telah memenuhi setidaknya satu hal dalam tujuan pemasaran: Rolling Stone jadi pembicaraan banyak orang.

Sumber: Entrepreneur

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top