Portal Lengkap Dunia Marketing

Headline

JENDELA CHINA MENGINTIP BARAT

shanghaiUntuk melihat bagaimana gaya kerja orang-orang China, kota Shanghai bisa menjadi ukuran. Di sana kecepatan merupakan budaya, sekalipun terkadang menabrak-nabrak aturan.

Jika mengunjungi China pada sekitar tahun 70-an, kita bisa melihat perubahan yang cukup nyata jika dibandingkan dengan kondisi China saat ini. Perubahan yang terjadi bahkan sangat luar biasa. Pada tahun 70-an, China masih dipenuhi sepeda, buruh dan pedagang. Pemerintahannya juga masih bersifat otoriter dan cenderung ortodoks. Tetapi, China saat ini sudah jauh lebih open dan bebas daripada China yang dulu.

Banyak orang menganggap bahwa daya tahan dan geliat ekonomi China adalah salah satu harapan dunia yang terbaik untuk menghadapi krisis saat ini. Jika melihat dampak resesi di Amerika Serikat, Eropa, serta bangsa-bangsa barat lainnya dalam menghadapi resesi, kita akan terkesan dengan kekuatan dan kepercayaan diri bangsa China. Mereka kini turut menentukan kecepatan pemulihan krisis dunia.

Depresi ekonomi yang hebat bisa juga dipandang sebagai suatu peluang bagi mereka yang kreatif. Resesi dan depresi ekonomi terjadi seperti suatu siklus. Sistem ekonomi yang kuno akan tergerus dan akan digantikan dengan sistem/struktur yang lebih fresh. Resesi bahkan diperlukan untuk mempercepat terjadinya gerakan perubahan di kalangan kapitalis.

Dalam waktu 30 tahun lebih terakhir ini, perekonomian China telah bertumbuh dua hingga tiga kali lipat cepatnya bila dibandingkan dengan Amerika Serikat. Pertumbuhan tersebut bahkan tetap berlanjut di tahun-tahun resesi ini. Perekonomian Asia telah mengambil alih kendali atas perekonomian barat—walaupun performa dan kinerja ekonomi di beberapa negara di Asia sebenarnya masih belum bagus. Mengapa demikian? Tentu tidak terlepas dari kultur, tradisi dan kebiasaan berbisnis di Asia, terutama di China.

Coba saja kita ambil contoh kota Shanghai. Kota ini mempunyai ciri khas sebagai kota tempat terjadinya percampuran, penggabungan, atau penyatuan antara kultur barat dan China. Sebagai sebuah kota, umurnya mungkin baru sekitar 150 tahun, tetapi Shanghai selalu menjadi pusat petualangan persilangan budaya. Walaupun kultur China sudah mengakar kuat di Shanghai selama ribuan tahun, kota ini masih tetap relevan dan mampu beradaptasi dengan dunia global.

Setelah Opium War tahun 1843, Shanghai dikelola oleh orang asing—walaupun tidak sepenuhnya dijajah oleh asing. Waktu itu Shanghai tidak diperintah oleh China, walaupun kebanyakan penduduknya adalah orang China. Begitu banyak campur tangan bangsa barat di dalam kota ini, termasuk Inggris, Amerika Serikat dan Perancis.

Mulai dekade awal abad ke-20, Shanghai sudah menjadi salah satu tempat paling menarik untuk berbisnis maupun bersenang-senang. Orang China, Inggris, Rusia, India, Austria, Belanda, Perancis dan banyak lagi bangsa lainnya, berinteraksi dan berdagang dengan lifestyle yang harmonis, eksotis dan penuh kesenangan. Shanghai menjadi pelabuhan dan jembatan antara China dengan barat yang dibangun di pantai timur China. Tarian, musik, makanan enak, wine, sampai kehidupan malam bisa dinikmati bagi mereka yang menggemari budaya timur.

Istilah “Whore of Asia” dan “Paris of the East” pernah ditujukan kepada kota Shanghai. Orang-orang barat melihat kota ini sebagai tempat yang tidak terlalu asing, meskipun di daerah Shanghai kuno orang-orang China hidup dalam dunianya sendiri. Sebagai kota yang sukses menarik banyak orang dari seluruh penjuru dunia, Shanghai mampu menjadi “jendela” bagi China untuk “melirik” negara-negara barat, sekaligus menjadi pesaing terberat Hong Kong sebagai tempat pertemuan timur dengan barat.

Dalam berbisnis di tingkat formal, diperlukan tingkat kesabaran dan kegigihan yang cukup tinggi. Perusahaan harus mengerti kultur China, seperti bagaimana menghormati hirarki keluarga atau struktur organisasi perusahaan, serta mengerti bagaimana kompleksnya relationship bisa mendukung hubungan dengan para pemasok domestik. Semua ini bisa membantu dalam memperkuat dan memelihara hubungan bisnis jangka panjang.

Budaya kerja/bisnis di perusahaan umumnya formal, dengan para eksekutif memakai setelan, saling bertukar kartu nama, membungkuk dan bersalaman. Sebaliknya, interaksi bisnis dengan pihak pabrik dan para pedagang cenderung lebih rileks dengan busana yang tidak terlalu formal. Hadiah sering dipakai untuk membuka hubungan bisnis. Hanya saja, hadiah ini jangan disalahartikan sebagai suap.

Di beberapa perusahaan, sang pemilik bisa memimpin di bagian awal, lalu menyerahkan detailnya ke pihak manajemen atau operasional. Di beberapa perusahaan yang lebih besar dan tua, orang yang ditunjuk atau diberi otoritas seringkali adalah mereka yang sudah lama menyandang posisi senior di perusahaan. Merekalah yang menjalankan peran sebagai pemimpin.

Jam kerja biasanya antara pukul 08.00 sampai 17.00, dengan satu sampai dua jam waktu istirahat. Tetapi, mereka biasanya lebih fleksibel dan bisa menyesuaikan waktu kerja bila berbisnis dengan orang-orang asing. Bahkan, hampir semua perusahaan menyediakan jemputan dari hotel atau bandara. Setiap hari adalah hari kerja, bahkan hari Sabtu pun demikian.

Bila berurusan dengan pabrik atau manufaktur, seringkali tidak diperlukan surat-surat kontrak yang terlalu rumit. Tidak seperti di barat—di mana surat kontrak dianggap sebagai sesuatu yang “sakral” dan harus dibuat dengan waktu dan informasi yang cukup banyak dan lama—di China seringkali proses produksi atau bisnis bahkan sudah dimulai sebelum surat kontrak selesai dibuat. Kecepatan sangat penting jika berbisnis di China. Mereka akan merilis produk terlebih dahulu, baru kemudian melakukan revisi atau meng-upgrade. Upgrade produk dilakukan berdasarkan pengalaman, kritik dan respons yang didapat dari para konsumen. Pabrik-pabrik dan tempat kerja di China seringkali terlihat biasa saja, bahkan kadang terkesan sangat berantakan. Tidak seperti kebanyakan kantor orang barat yang terlihat mewah dan megah, orang-orang China lebih mementingkan efisiensi. Suasana berantakan lebih dilihat sebagai tanda adanya aktivitas atau sesuatu yang sedang dikerjakan.

Bila menyangkut produk-produk berteknologi tinggi, negara barat sering ketinggalan karena masalah hak paten. Bagi orang barat, hak paten itu begitu pentingnya, sehingga proses produksi dan launching produk sering terhambat. China seringkali masuk lebih dulu merilis produk, sementara hak paten diurus belakangan. Mengapa? Karena produk-produk berteknologi tinggi seringkali berganti model dan diperbaharui. Begitu model kedua dirilis, model pertama akan ketinggalan zaman dan tidak ada gunanya lagi untuk ditiru oleh kompetitor. Dengan demikian, di China biasanya urusan hak paten itu diabaikan terlebih dahulu. Jangan kaget jika banyak orang barat yang sudah mengerti akan hal ini dan meng-outsource semua pekerjaan proses produksi produk-produknya ke sana.

Perubahan yang terjadi dalam politik di China membuat emansipasi wanita lebih dihargai, baik dalam hukum maupun sosial. Tetapi dalam bisnis, kaum pria tetap didahulukan. Para pebisnis wanita diharapkan untuk berbusana dan berperilaku lebih formal, sementara banyak para pebisnis pria di Shanghai harus siap meng-entertain dan berbaur dengan para klien dan rekan-rekan bisnis mereka di bar-bar atau tempat hiburan lain. Orang asing biasanya diperlakukan dengan lebih ”hati-hati” atau lebih dihormati. Orang-orang China Daratan tetap mempunyai kebanggaan yang tinggi terhadap bahasa dan tradisi mereka sendiri.

Pemerintah dan bangsa China sangat memegang tradisi dan bahasa dalam memperbaiki negaranya. Hal ini terbukti dari gerakan untuk memberantas korupsi dengan sangat tegas, serta berusaha untuk menjaga agar pengaruh dari luar tidak masuk terlalu bebas. Mereka lebih mendukung kinerja perusahaan-perusahaan lokal agar bisa berbicara dengan sendirinya dan menciptakan image baru dari China. Sebagai contoh, search engine yang terkenal di sana bukanlah Google, melainkan baidu.com yang berbahasa Mandarin dan lebih bercita rasa China.

Pemerintah China telah memperlihatkan ambisi yang besar bagi Shanghai untuk menjadi brand ambassador China. Bukanlah kultur dan budaya China untuk menggembar-gemborkan cerita-cerita sukses. Budaya mereka lebih pada “mengerjakan sesuatu daripada membicarakannya”. Mungkin mirip dengan slogan Nike, “Just Do It”—lakukan saja dulu—revisi lagi belakangan. Walaupun terkadang terkesan terlalu terburu-buru dan minim planning, tetapi mereka tentunya belajar dari pengalaman. Kualitas, kinerja dan performa produk mereka sedang berkembang dengan pesat.
(Majalah MARKETING/Ivan Mulyadi)

1 Comment

1 Comment

  1. Muis Iskandar

    September 7, 2010 at 14:54

    Info yang sangat menarik, terima kasih telah berbagi…trims

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top