Portal Lengkap Dunia Marketing

News & Event

Jejak Ban Perjalanan Renault di Indonesia

Marketing – Pada ajang Gaikindo Indonesia Internasional Auto Show (GIIAS) 2019 kemarin, Renault meluncurkan model mobil keluaran terbaru mereka, Renault Triber yang akan mengaspal segera mungkin. Mobil ini digadang- gadang bakal meramaikan persaingan atar pabrikan yang memproduksi mobil MPV di Indonesia.

Jejak ban perjalanan Renault di Indonesia telah dirintis sejak tahun 2000. Lewat Indomobil Group, Renault menejejakan kakinya meramaikan industri otomotif di Tanah Air.  Tapi menurut buku Arsip Mobil Kita karya Bambang Trisulo, Arif Firmansyah dan Em Samudra menyebutkan bahwa PT Multi France Motor lah yang membawa Renault pertama kali mengaspal di jalanan Indonesia. 

Buku itu juga mencatat model pertama mobil Renault yang masuk ke Indonesia adalah 12TL. Mobil ini dijual pertama kali pada tahun 1974. Sayangnya mobil ini kurang mendapat sambutan yang hangat di Indonesia karena kalah bersaing dengan mobil pabrikan Jepang seperti Corona dan Galant.

Jejak Renault sempat menghilang di Indonesia setelah PT Multi France Motor tidak lagi menjadi APTM Renault di Indonesia. Adanya deregulasi keran impor mobil pada tahun 1999, lewat PT Auto Euro Indonesia yang merupakan anak perusahaan dari Indomobil Group, Renault dan Nissan berkongsi mengarungi pasar otomotif Indonesia lagi. Hatchback Clio, MPV Scenic dan Megane menjadi mobil pertama Renault yang dipasarkan oleh PT Auto Euro Indonesia.

Sayangnya penjualan mobil Renault tidak sebagus penjualan mobil- mobil dari pabrikan Jepang. Penjualan terbaik jenama asal Prancis ada di tahun 2017 yang mencapai 599 unit. Di tahun- tahun sebelumnya, penjualan Renault selalu berada di bawah angka 300 unit sebulan.

Masih penasaran untuk menaklukan jalanan aspal di Indonesia, Renault bekerja sama dengan PT Maxindo Renault Indonesia untuk memegang hak impor, distribusi, memasarkan dan mengadakan layanan purnajual mobil Renault di Indonesia.

Tak mau salah langkah lagi, PT Maxindo Renault Indonesia melakukan aggressive network dengan mitra- mitra diler Renault untuk mempercepat penjualan dan pelayanan purnajual mobil Renault di seluruh Indonesia. Untuk menyesuaikan dengan segmen pasar di Indonesia yang senang dengan mobil model MPV. Renault langsung tancap gas dengan memasarkan Renault Kwid dan Triber di Indonesia.

Langkah ini terbukti cukup berhasil, pada gelaran GIIAS 2019 lalu, sambutan masyarakat pada Renault Triber cukup antusias. Terlihat dari data pesanan yang mencapai angka 1000 melebihi ekspektasi yang diharapkan oleh PT Maxindo Renault Indonesia selaku pemegang purnajual mobil Renault di Indonesia.

Meski diproduksi di India, Chief Operating Officer PT Maxindo Renault Indonesia, Davy J Tulian yakin dengan pengalaman supervise Renault di industri otomotif selama hampir 120 tahun, mobil yang mereka produksi hasilnya akan luar biasa. PT Maxindo Renault Indonesia yakin masyarakat Indonesia bisa menerima mobil produksi India lewat Renault. Dengan target penjualan 5 persen dari pangsa pasar mobil di Indonesia, Davy yakin mampu menjual 5000 unit mobil per bulan.

Di Indonesia, Renault menggandeng Mitsubishi yang termasuk ke dalam aliansi Renault-Nissan-Mitsubishi untuk pelayanan aftersales hingga layanan milik Renault benar- benar beroperasi di Indonesia. Renault juga akan fokus menjual mobilnya secara strategis di empat pulau besar di Indonesia, yaitu, Jawa, Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan.

Pasang Surut Penjualan Renault di Indonesia

Meski telah mencoba berbagai cara untuk meningkatkan penjualannya, Renault maish kesulitan bersaing dengan mobil- mobil pabrikan Jepang dan Cina yang beredar di Indonesia.

Renault Kwid misalnya, meski sudah dibanderol murah di bawah harga Rp 120 juta, mobil ini masih kalah laku di pasaran. Masyarakat Indonesia lebih memilih membeli mobil LGCC dari pabrikan Cina dan Jepang maski harganya lebih mahal dibanding Renault Kwid. Sepanjang tahun 2018, Renault hanya menjual 68 unit Renault Kwid. Angka tersebut jauh dibandingkan Toyota Calya yang terjual sebanyak 63.970 unit. Padahal harga Toyota Calya ada di atas Renault Kwid. 

Dari segi popularitas, Renault masih sulit bersaing dengan pabrikan mobil- mobil asal Eropa lain seperti BMW dan Mercedes-Benz. Pekrjaan rumah yang harus segera dibenahi oleh Renault jika mereka ingin bersaing dengan pabrikan mobil asala Jepang dan Cina. 

Sebenarnya, Renault Duster dan New Koleos  yang ada di segmen SUV mampu menopang lebih dari 50 persen penjualan Renault di Indonesia. Sayangnya hal ini belum membuat pabrikan yang bermarkas di Boulogne-Billancourt ini puas. 

Pada tahun 2019, Renault memutuskan untuk mengakhiri kerja sama mereka dengan Indomobil Group dan menunjuk Nusantara Mxindo Group yang memegang kendali penjualan Renault di Indonesia. Keputusan itu ditunjuk langsung oleh Vice President Sales & Marketing Asia Pacifik Renault, Guillaume Sicard. 

Sebagai informasi, Nusantara Group adalah Agen Pemegang Merek (APM) seperti Mini, KIA, Mazda, Mitusbishi, Daihatsu serta 2 merek motor besar yaitu Harley Davidson dan BMW Motorrad di Indonesia.

Dengan pengalaman Nusantara Group memegang merek- merek tersebut, Sicard optimis Nusantara Group mampu meningkatkan penjualan Renault di Tanah Air.

Renault kali ini bertaruh di tangan Renault Triber untuk mendongkrak penjualan mereka. Setelah Renault Kwid gagal di pasaran, meski memasang harga lebih murah dibanding mobil competitor. Seharusnya dengan pengalaman Nusantara Group di industri otomotif, Renault optimis penjualan Renault Triber melebihi ekspektasi yang mereka inginkan. Toh tangan dingin Nusantara Group telah terbukti saat bagaimana perusahaan ini memasarkan Xpander di Indonesia.

Selama melakukan ekspansinya di Indonesia, data yang diambil dari Gaikindo menunjukan penjualan per tahun Renault tidak bisa menembus 1000 unit. Tahun terbaik Renault di Indonesia ada di tahun 2017, jenama asal Perancis ini berhasil menjual 599 unit mobil. Sayangnya, prestasi tersebut malah turun di tahun berikutnya. Renault hanya bisa menjual 239 unit mobil pada tahun 2018.

Badai yang Menerpa Renault

Agresi Renault untuk meningkatkan penjualan mobil mereka di Asia-Pasifik mendapat ganjalan yang cukup berat. Secara global, penjualan Renault pada semester I/2019 mengalami penurunan penjualan sebanyak 6,9 persen dibanding periode yang sama pada tahun 2018 lalu.

Selain masalah penjualan, Renault juga diterpa badai, di mana salah satu petinggi mereka, Carlos Ghosn, terlibat skandal pemalsuan laporan pendapatan dan penyalahgunaan aset bersama Direktur Perseroan Graig Kelly. Pria yang lahir di Brasil ini terancam hukuman 10 tahun penjara dan denda maksimal 10 juta yen jika benar- benar terbukti bersalah.

Hubungan Renault dan Nissan memang sempat merenggang setelah salah satu petinggi Nissan Hari Nada secara sembunyi- sembunyi mengumpulkan bukti untuk menjerat ke dalam kasus pemalsuan laporan pendapatan. Hal ini menimbulkan kegusaran di antara petinggi- petinggi di Renault. Tim pengacara Renault mempertanyakan metodologi dalam penyelidikan yang dilakukan Nada kepada Ghosn tersebut. Kedua perusahaan akhirnya sepakat untuk menyewa penyelidik independen untuk menuntaskan kasus ini.

Ghosn masuk ke Renault setelah sebelumnya berhasil menelamatkan keuangan Michelin Brasil dari kebangkrutan. Ia berhasil membangkitkan kondisi keuangan Renault yang diterpa krisis keuangan pada tahun 1997-1999. Pada tahun 1999, ia berhasil membuat poros Prancis- Jepang dengan membentuk aliansi Renault dan Nissan. Renault berhasil mengakuisisi 43 persen saham Nissan dan menempatkan Ghosn sebagai pemimpin perusahaan.

Ghosn berhasil membuat Nissan bangkit dari keterpurukan dan membuat kuangan perusahaan stabil hingga meraup laba. Padahal perusahaan asal Jepang ini sebelumnya diprediksi akan mengalami kebangkrutan karena menanggung beban hutang sebesar 2 juta yen. 

Mitshubishi yang pada tahun 2016 tersandung kasus efisiensi bahan bakar terancam bangkrut karena mengalami penurunan penjualan. Di bawah kendali Ghosn, Nissan membeli saham Mitsubishi sebesar 34 persen. Sejak bergabung dengan Nissan, Mistubishi berhasil memperbaiki penjualan mereka dengan menargetkan penjualan mobil produksi mereka di Cina sebesar tiga kali lipat.

Tahun 2018 merupakan tahun keemasan aliansi Renault-Nissan-Mitsubishi. Aliansi ini berhasil menjual 10,6 juta unit mobil, mengalahkan Volkswagen Group dan Toyota Motor dalam penjualan mobil ringan.

Sumbangsih penjualan mobil Renault di Brasil dan Rusia dan Misubishi di Asia Tenggara membuat liansi Renault-Nissan-Mitsubitshi berhasil menempati posisi kedua dalam penjualan mobil skala global di belakang Volkswagen AG. Sayangnya, penjualan fantastis Renault dan Misubishi tidak menulari Nissan, meski perkembangan di pasar Amerika Serikat naik 0,3 persen, penjualan Nissan di negeri Paman Sam malah turun 6 persen. 

Sayangnya kasus yang menerpa Ghosn membuat aliansi ini goyah. Sejak kasus yang menerpa Ghosn mencuat, banyak proyek aliansi ini terhenti. Renault bersikukuh untuk membuat komite dalam dewan direksi Nissan untuk mengawasi penunjukan manajer dan memeriksa laporan keuangan Nissan. Sementara perusahaan asal Jepang ini ingin diperlakukan lebih setara dengan Renault dan saling menghormati keindependensian perusahaan masing- masing.

CEO Mitsubishi Motors Corporation Osamu Masuko merasa tidak diuntungkan dengan renggangnya hubungan Renault dan Nissan. Padahal menurutnya, aliansi ini mempunyai keutungan dalam alih teknologi yang mampu memangkas biaya dan meningkatkan penjualan bagi ketiga belah pihak. 

Meski begitu Osamu berharap bisa mempertahankan aliansi Ranault- Nisaan- Mitsubishi karena berdampak baik pada penjualan mereka. Selain bisa saling menukar teknologi dan informasi, aliansi ini juga memebrikan banyak inovasi bagi ketiga belah pihak. 

Penjualan Mitsubishi yang sangat baik di Asia Tenggara bisa memberikan konstribusi besar bagi Nissan untuk melakukan inovasi di mobil yang mereka produksi untuk meingkatkan penjualan mereka. Apalagi Nissan mencoba menargetkan Asia Tenggara sebagai salah satu pasar yang potensial untuk penjualan mereka.

Apalagi jika dilihat dari rekam jejak ketiga perusahaan ini. Aliansi Renault- Nisaan- Mitsubishi salaing bergantung satu sama lain. Aliansi Renault- Nissan yang terjalin pada tahun 1999, berhasil menyelamatkan Nissan dari kebangkrutan. Ghosn berhasil menstabilkan keuangan Nissan hingga akhirnya pada tahun 2003 perusahaan asal Jepang  ini berhasil meraup laba. 

Pada 2016, giliran mistubishi yang diselamatkan oleh Nissan. Melalui Nissan, Ghosn berhasil mendongkrak penjualan Mistubishi setelah Nissan melakaukan ekspor teknologi dengan membeli saham Mistubishi Motor Coperation sebanyak 34 persen.

Begitu juga Renault, jenama asal Perancis ini masih butuh dua pabrika Jepang tersebut untuk melakukan ekspansinya merebut pasar di Asia Tenggara, terutama Indonesia, pasar yang sejak dulu sulit mereka taklukan. 

Menarik menunggu kiprah Renault di Indonesia ke depan, setelah gagal bertaruh dengan Renault Kwid, akah kah Renault Triber yang digadang- gadang mampu memutus dominasi pabrikan Jepang dan Cina di segmen mobil LMPV ini berhasil? 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top