Intan Ayu Kartika: Inspiring and Caring

Intan Ayu Kartika, Chief Marketing Officer Lazada Indonesia. Foto: marketing.co.id/lialily.

Bagaimana Intan Ayu Kartika menghadapi tantangan dalam berkarier dan menjadi Chief Marketing Officer Lazada Indonesia?

Lazada, sebagai salah satu eCommerce terbesar di Indonesia, semakin berkembang sejak beberapa tahun terakhir. Hal tersebut tentu saja tidak bisa dipisahkan dari tim dan orang-orang yang berada di belakangnya. Salah satunya yaitu Intan Ayu Kartika, yang merupakan Chief Marketing Officer Lazada Indonesia.

Bergabung dengan Lazada sejak Maret tahun 2022, Intan menceritakan bahwa profesi awalnya dimulai dari industri FMCG sebagai Management Trainee, Brand Manager, Senior Brand Manager, Marketing Manager, Brand Director, hingga menjadi Innovation Lead di Manila, Filipina, selama 2,5 tahun. Kemudian ia kembali ke Indonesia menjadi Brand Director Aqua sebelum akhirnya bergabung dengan Lazada.

Dengan banyaknya pengalaman berkarier tersebut, Intan melihat kegagalan dalam berkarier sebagai sisi positif; ia pilih mengambil sisi positif dari sebuah kegagalan. Apalagi dirinya berkecimpung di dunia marketing yang tugasnya men-generate demand guna mendukung pertumbuhan perusahaan dan bisnis. Dari kegagalan suatu inisiatif marketing misalnya, ia bisa mengambil pelajaran yang dapat digunakan sebagai bekal dan pertimbangan untuk aksi atau keputusan-keputusan yang akan diambilnya di masa datang.

Menjadi Perempuan Bekerja

Lebih lanjut, lulusan terbaik kedua Magister Manajemen Universitas Gadjah Mada ini menjabarkan bahwa selama bekerja ia tidak mengalami diskriminasi sebagai seorang perempuan. Sebelum memutuskan untuk bergabung dengan sebuah perusahaan, Intan memang berhati-hati dan mencari tahu dulu bagaimana kultur perusahaan tersebut, visi misinya, dan bagaimana posisi leader perempuan yang sudah ada di sana.

“Sebenarnya di dunia kerja itu yang paling penting adalah individual performance, group performance, team performance. Bukan soal perempuan atau laki-laki. Tapi, mungkin juga banyak yang beranggapan kalau di Indonesia perempuan menyuarakan sesuatu agak susah. Saya melihat ini soal sudut pandang. Sebenarnya perempuan juga boleh kok mengekspresikan dirinya. Banyak forum dan organisasi perempuan di luar sana juga diperbolehkan, tidak dihambat,” ujar ibu dari tiga anak ini.

Sebagai perempuan bekerja yang berkeluarga dan juga memiliki anak, tentunya bukan hal yang mudah untuk menjalani karier dan keluarga secara seimbang. Kelahiran Surakarta, 31 Januari 1979 ini pun memiliki tips untuk hal tersebut berdasarkan pengalamannya. Menurut dia, yang terpenting adalah bagaimana menyeimbangkan peran sebagai pekerja di kantor dan peran-peran lainnya—seperti peran sebagai istri, sebagai ibu dari anak-anak dan sebagai leader di departemen Marketing . Skill yang paling utama adalah bagaimana bisa membagi waktu untuk menentukan prioritas. Jadi, selama bisa membagi waktu, menentukan prioritas, punya support system, semuanya bisa sejalan.

Tantangan dalam Berkarier

Berkarier dalam bidang FMCG kemudian berpindah haluan ke industri eCommerce pada 2022, tentu bukan hal yang mudah. Namun, perempuan yang memiliki hobi olahraga, jalan-jalan dan nonton ini melihat industri tersebut sedang berkembang terutama di masa pandemi. Intan melihat sesuatu yang baru dalam visi dan misi Lazada yang ingin lebih mengembangkan ekonomi di Asia Tenggara, terutama di Indonesia.

“Bagaimana Lazada bisa berkontribusi melalui ekosistem digital ekonomi dan talenta digital. Buat saya ini challenge tersendiri; saya harus berpikir bagaimana caranya dan strategi marketing untuk eCommerce, bagaimana Lazada bisa menjadi nomor satu di pasar Indonesia. Selain itu, saya juga ingin tahu bagaimana rasanya bekerja dengan talent-talent yang lebih muda. Tim saya muda-muda, usianya separuh umur saya,” ujar penyuka pelajaran Matematika ini.

Dengan tim cukup besar sekitar 60 orang dan perbedaan usia di antara anggotanya, Intan harus bekerja sama untuk mengerti benar perilaku konsumen Lazada, mempelajari insight-nya, serta merumuskan cara guna merangkul dan memberikan solusi bagi target market ini.

Intan menjabarkan bahwa sebagai sebuah platform eCommerce, Lazada menawarkan service, pengalaman berbelanja yang menyenangkan dan terpercaya, sehingga harus banyak berkolaborasi dengan tim logistik dan tim komersial. Setiap tim juga mesti menjalankan fungsinya dengan baik mengingat mereka saling terhubung dan terkait satu sama lain.

Agar dapat menaklukkan tantangan tersebut, ia pun tidak pernah berhenti belajar. Intan terus memperkaya pengetahuannya soal eCommerce, kategori dan tentu saja mengenai target market yang dituju Intan terus menggali banyak informasi seperti siapa current user Lazada, mana yang akan dibuat tumbuh lebih besar dan elemen apa yang mau dikembangkan.

Mengenai Kepemimpinan

Menurut Intan, seorang pemimpin  harus bisa melihat potensi dari orang-orang yang dipimpinnya. Gaya kepemimpinan yang sama juga tidak bisa diterapkan untuk semua orang.

Leadership style saya, biasanya saya akan melihat masing-masing orang itu bagaimana, how to bring the best out of them. Kalau bicara leadership, saya ingin menjadi leader yang inspiring dan caring. Jadi, sebagai woman leader saya memulai dari diri sendiri untuk menjadi role model dengan melakukan yang terbaik sehingga dapat dicontoh oleh team saya. Setelah itu, saya berusaha lebih caring ke mereka, jadi mereka senang dan terperhatikan dalam melakukan pekerjaannya. Dan, mereka harus tahu bahwa kita bergerak bersama-sama menuju tujuan yang sama yang ingin kita capai bersama. Kita juga selalu rutin weekly, monthly dan quarterly update untuk sharing dan menyamakan prioritas. Jadi, semua anggota tim bisa melihat sendiri apa kontribusi dan dampak yang mereka buat ,” ujarnya.

Tips Berkarier bagi Perempuan

Tokoh karier yang menginspirasi bagi Intan adalah sang ibu. Di matanya, sang ibu juga adalah sosok perempuan yang bekerja namun bisa mengasuh anak-anaknya dengan baik. Tips dari Intan untuk perempuan yang berkarier yaitu “terus belajar dan berkembang”.

Menurut dia, saat ini semua berkembang dengan cepat. “Kalau kita tidak keep up dengan perubahan perilaku konsumen yang dinamis , dengan lingkungan, dengan ekonomi, dan lainnya, akan susah. Kita akan ketinggalan, banyak orang lain yang update dan mungkin lebih pintar. So, teruslah belajar baik dari sisi hard skill, maupun soft skill,” terangnya.

Intan pun menambahkan bahwa soft skill seperti komunikasi, bagaimana memimpin tim dan berkolaborasi, haruslah terus diasah, di samping meng-upgrade diri. ”Berani berekspresi, berkomunikasi, dan kemukakan pendapat. Jangan diam saja. Kalau kita diam-diam saja, tidak akan ada yang tahu kita maunya apa, atau apa pendapat kita. Jadi, kita harus berani. Terakhir, terus menjaga work life balance, tetap jalankan peran kita sebagai perempuan, sebagai seorang istri, dan ibunya anak-anak,” pungkas dia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.