Portal Lengkap Dunia Marketing

XXX Ad Madness

Ini Alasan Merek Gagal di YouTube Subcribers

alasan merek gagal di youtubeTouchstorm, perusahaan yang mendistribusikan merek video di internet, memperkirakan ada banyak merek yang gagal di YouTube Subcribers atau kanal berlangganan YouTube.

Mengapa YouTube Subcribers? CEO Touchstorm, Alison Provost mengatakan bahwa pelanggan kanal adalah mereka yang paling sering merekomendasikan video. Sehingga pelanggan inilah yang turut andil dalam viewership sebuah video di YouTube.

Lalu, Apa yang membuat Touchstorm begitu berkualitas untuk mengatakan seperti itu? Berdasarkan analisis yang dikutip Adweek, perusahaan ini baru saja merilis The Touchstorm Video Index: Top Brand Edition. Dari laporan tersebut ditemukan di antara 5000 kanal di YouTube, hanya 74 kanal yang dimiliki oleh merek.

Touchstorm mencatat bahwa merek besar seperti Pepsi dan Coca-Cola tidak masuk dalam daftar sepuluh besar mereknya di YouTube (meskipun merek kecil seperti Blendtec masuk). Terlepas dari dominasi video instruksional kecantikan di YouTube, tapi merek kosmetik juga tidak masuk dalam daftar tersebut.

Berbicara soal YouTube subscribers, berdasarkan Touchstorm kanal The Mormon Church mengungguli kanal Apple dan Microsoft, Fords model mengungguli Ford Motors, dan Little Tykes mengubur Toys’R Us.

Dalam hal subscribers lah, banyak merek besar yang gagal menurut Touchstorm. Provost mengatakan bahwa meskipun perusahaan seperti Lego dan EA menghasilkan konten YouTube yang luar biasa tapi ketika berbicara konversi subscribers dan repeat viewers, mereka jelek.

Lalu bagaimana agar bagus dalam hal subscribers? “Formulanya sangat sederhana,” ucapnya seperti dikutip Adweek. “Buat konten yang tepat dan pasarkan dengan tepat. Itu artinya bertindaklah sebagai penerbit,” jelasnya.

Provost mengatakan bahwa bertindak sebagai penerbit artinya memutuskan apakah merek Anda sifat seharusnya menghibur atau memberi informasi. Jika konsumen menginginkan video instruksional di kategori tertentu, jangan melawan tren tersebut dengan memberikan konten yang menghibur.

Dalam hal pemasaran, terlalu banyak merek yang hanya membeli iklan pre-roll, padahal mem-posting video di YouTube membutuhkan taktik yang unik. Misalnya, gunakan penjelasan dan thumbnail menarik dalam video yang bisa mendorong audiens untuk berlangganan.

“Anda harus melakukan apa yang dilakukan selama ini di semua media sosial,” ucap Provost seperti dikutip Adweek. “Tahun ini, merek-merek akhirnya menyadari bahwa YouTube merupakan media sosial. Dan bagi generasi tertentu, YouTube adalah TV mereka.”

Sumber: Adweek

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

To Top