Portal Lengkap Dunia Marketing

PROPERTY & RETAIL

INDUSTRI RITEL Memasuki Era Consumer With Power

Industri ritel masih punya “roh” ekspansif tahun depan. Konsumen sendirilah yang memegang faktor menentukan hidup matinya ritel. Apa saja antisipasinya?

Prospek ritel tahun 2008 masih dipandang cerah. Di tahun ini saja, angka pertumbuhannya cukup bagus. Estimasi akhir tahun sekitar 16-17%. Bahkan, pertumbuhan tiga tahun terakhir menunjuk angka tak kurang dari 14%. “Modern ritel masih menjadi driver pertumbuhan. Meski demikian, pemain di hipermarket tidak mencapai target pembukaan toko,” tutur Yongky Surya Susilo, Director Retailer Service PT AC Nielsen Indonesia.

Pendapat senada juga dilontarkan Sugiyanta Wibawa. Ketua Aprindo ini juga melihat dinamika pertumbuhan pasar 2007 cukup progresif, kendati pertumbuhannya tidak secepat tahun 2006. “Dalam hal ini, hipermaket dan minimarket berkembang lebih baik,” imbuhnya.

Ritel modern memang giat memperbaiki diri dengan lebih mengedepankan apresiasi pada konsumen. Contohnya, memberi harga murah pada konsumen kelas ekonomi bawah, meningkatkan servis dengan sentuhan manusiawi, mengoptimalkan peran CSR untuk membangun ekonomi rumah tangga, dan men-drive kompetisi sehingga terjadi efisiensi. “Modern trade masih memegang angka sekitar 35,5% pasar branded grocery. Sisanya toko tradisional. Estimasi total modern di Indonesia, baik toko dan non branded, sekitar 10-11%,” tandas Yongky.

Menghadapi tahun 2008 nanti, ada beberapa hal yang layak diperhatikan para peritel. Di luar kalkulasi dampak melonjaknya harga minyak, lanjutnya, ekonomi Indonesia secara makro masih baik, termasuk ritel. Industri ritel grocery tidak akan terkena dampak berarti. Bahkan bisa meningkat jika konsumen mampu berhemat di pembelanjaan non grocery, seperti fashion dan sebagainya. Itu untuk kelas menengah ke atas.

Pola belanja kelas atas pun tidak berubah. Konsumen cukup mampu berdaptasi dengan situasi ke pola semula dalam beberapa bulan. Selama ekspansi ritel berjalan dengan melebarkan distribusi secara lebih kreatif, menggelontorkan produk inovatif, berpromosi secara lebih gencar, memberi sentuhan dalam ritel (in-store promotion), konsumen masih tergerak merogoh koceknya untuk belanja.

Tidak disangkal, di kota-kota besar, mal-mal dan ritel-ritel menjamur bak cendawan di musim hujan. Banyak sentra perbelanjaan mengepung konsumen dari berbagai sudut. Kemungkinan terjadi over supply di kota-kota ini. “Beberapa area mungkin sudah padat dengan ritel, baik modern maupun tradisional. Tapi, alam akan menyeleksi dengan sendirinya,” cetus Yongky.

Sedangkan Sugiyanta menilai di beberapa titik mungkin sudah terjadi over supply. Tapi, para peritel akan tetap membuka tokonya. Mereka mempertahankan pasar meskipun sepi. Mereka tetap mau mengambil jatah pasar. “Over supply sendiri belum begitu kentara. Tanda-tanda yang mengarah ke sana mungkin sudah ada. Tapi, secara besar ini belum terjadi,” katanya.

Yongky melihat masih banyak celah yang bisa digarap peritel di tahun mendatang. Sebab, arus urbanisasi akan tetap tinggi. Ekonomi rumah tangga juga semakin lama semakin mengarah pada perbaikan. Aspirasi konsumen untuk terus mencari produk baru pilihan akan terus naik. Konsumen sendiri semakin tersegmentasi, khususnya dalam menentukan merek pilihannya sendiri. Selain itu, tiap manusia mempunyai apa yang namanya “me moment” atau indulgence. “Jadi masih banyak celah. Nah, saya berharap dibentuk format ritel baru untuk memenuhi perubahan di dunia konsumen ini. Format ritel akan makin kabur.”

Optimisme di industri ritel masih bisa dibangun. Apalagi penduduk Indonesia yang 235 juta semakin bertambah. Di kota, ritel bakal berkembang cepat. Sementara itu, masih ada banyak inefisiensi. Oleh karenanya, kalau distribusi ditingkatkan, maka penjualan pun akan meningkat. Segmen baru masih berpeluang diciptakan. “Yang perlu diingat juga, sebagian peritel masih belum marketing oriented. Jadi, belum bisa menggali peluang dan menjual value added,” imbuh Yongky.

Sugiyanta menambahkan ada beberapa kondisi spesial yang layak diperhatikan, khususnya di kota-kota besar. Misalnya, Jakarta dengan persoalan kemacetan. Menurutnya, kemacetan ini akan mempengaruhi pola belanja. Konsumen  cenderung mengambil pola shopping jarak dekat. Selain itu, pusat perbelanjaan malam juga tetap jadi incaran. Pasalnya, konsumen kota pada pagi hari sibuk berkerja. Karena itu, faktor kenyamanan dan entertainment harus lebih dikedepankan para peritel dalam melayani pelanggan.

Di samping itu, pada tahun 2008, berbagai resto baru diperkirakan akan terus menjamur. Resto-resto yang mengusung konsep modern dan sudah menjadi lifestyle bakal terus berbenah. Tapi, Yongky menilai, banyak resto masih dibuat dengan bekal strategi seadanya alias konsep bisnisnya belum matang. Kemampuan berinovasi dalam cita rasa dalam industri kuliner ini tetap menjadi tantangan dan daya tarik. “Jiwa entreprenuership patut ditiru dari industri lain. Marketing plan perlu dibuat lengkap supaya eksekusi strateginya bisa dijalankan sepenuhnya oleh para pemain,” sarannya.

Sementara itu, produk branded masih akan masuk ke Indonesia. Produk ini ditujukan untuk menjaring orang Indonesia yang doyan belanja ke luar negeri. Seandainya pemerintah mendukung, justru akan ada para turis asing yang mau belanja di Indonesia. Apalagi space ritel terus bertambah dengan dibangunnya mal-mal baru.

Yang jelas, pertumbuhan ritel amat tergantung pada pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Yongky memprediksi ekonomi konsumen bakal tetap stabil dan konsumen Indonesia secara umum sudah mulai pandai menabung. Segmen terbesar masih di kelas menengah, meski segmen premium juga mempunyai peluang besar. “Kita tahu, the rich become richer sekarang ini,” katanya.

Toko tradisional pun masih terus bertambah. Dua tahun terakhir mereka tumbuh 2-3% dari total 1,8 juta. Jika ekonomi sedikit melemah, muncul peluang bagi toko tradisional. Karena di sana konsumen membeli produk sesuai dengan permintaan dan dapat berhutang.

Tapi, akan ada peritel yang meninggalkan pasar tradisional lantaran sudah tidak berpotensi untuk berdagang di sana. Akibatnya, pasar tradisional akan terus menurun. Hal ini terlihat dari jumlah toko tradisional yang meningkat, tapi jumlah pasarnya terus menurun. “Peritel tradisional keluar pasar untuk mendekati konsumen. Caranya dengan membuka lokasi di jalan umum atau perumahan. Bahkan, dengan mobil pikap seperti mobil sayur, mobil sapu-ember, mobil mainan, dan warmob alias warung mobil,” imbuh Yongky.

Menghadapi kemungkinan kenaikan harga minyak, ia menganjurkan perlunya para pemain meningkatkan efisiensi, mengkaji ulang ekspansi, sourcing lebih baik agar mendapatkan harga lebih baik dan bisa menolong konsumen. Sugiyanta menambahkan, perlu diperhatikan juga masalah listrik akibat krisis energi dan kenaikan harga minyak itu. Termasuk harga sewa properti yang kian melambung.

Soal regulasi, Yongky berharap pemerintah mampu berbuat yang terbaik bagi kompetisi dan konsumen. “Satu peraturan yang sedang digodog adalah tentang private label. Saya sendiri merasa itu tidak perlu diatur. Private label adalah solusi konsumen dalam masa ekonomi susah. Ingat juga orang Indonesia masih brand minded,” katanya.

Sependapat dengannya, Sugiyanta setuju bahwa perhatian pada konsumen harus diutamakan. Sebab, kita kini masuk pada era consumer with power. Merekalah yang punya uang, dan merekalah yang menentukan mati hidupnya pedagang, baik modern maupun tradisional. “Pemerintah tidak akan bisa mendikte ke mana konsumen belanja.” (Sigit Kurniawan)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top