Portal Lengkap Dunia Marketing

Headline

Indonesia dalam Sebungkus Teh

DSC_0571webTeh celup Sosro Premium hadir dengan kemasan apik. Selain mengusung warisan budaya negeri sendiri, Sosro menyuguhkan brand experience dengan teknologi tiga dimensi.

Banyak cara menceritakan Indonesia. Negeri dengan warisan kultural yang membuat decak kagum dunia internasional ini tak hanya bisa diketahui melalui buku-buku, internet, dan media lainnya. Tapi, bisa juga melalui kemasan kotak produk teh celup—minuman yang tidak asing lagi bagi lidah orang Indonesia. Kreativitas inilah yang digarap oleh PT Gunung Slamat selaku produsen teh celup Sosro.

Pada Desember tahun lalu, perusahaan milik Rekso Company itu meluncurkan produk teh celup premiumnya dengan nama “Sosro Heritage”. Kemasan kotak dengan latar motif batik ini menampilkan beragam pesona dan keragaman kultur Indonesia. Kemasan itu bercerita tentang Candi Borobudur, Tari Kecak Bali, Taman Laut Bunaken, Tana Toraja, dan sebagainya.

“Latar belakangnya adalah budaya Indonesia yang beragam. Setiap kemasan menceritakan Indonesia dan teh itu sendiri. Mengingat Indonesia merupakan negara penghasil teh terbesar ketiga di dunia. Sesuai dengan tema Sosro Heritage: the amazing story of Indonesia,” kata Charles Klamodarso, General Manajer Marketing PT Gunung Slamat.

Sosro Heritage terdiri dari tiga varian dengan 12 edisi. Tiga varian itu adalah teh melati (jasmine tea), teh hijau (green tea), dan teh hitam (black tea). Setiap varian terdiri dari empat edisi yang masing-masing bercerita tentang warisan kultural Indonesia yang berbeda. Uniknya lagi, kedua belas edisi tersebut merupakan bagian dari sebuah puzzle yang bila digabungkan akan membentuk peta Indonesia dengan dominasi motif batik.

“Edisi khusus ini kami buat untuk hotel-hotel dan resto-resto. Termasuk untuk dikoleksi, untuk menjamu tamu kenegaraan, ekspor, dan sebagainya. Segmen kami adalah AB.  Kami komit membangun citra premium. Sebenarnya, ini merupakan upaya rejuvenasi atas kemasan lama Sosro Premium. Motif batik sudah ada dalam kemasan lama,” imbuh Meicy Laurencia, Brand Manager Teh Celup Sosro.

Motif batik sejak dulu dipilih lantaran punya kekuatan memberi nuansa warisan kultural. Ini diperkuat semenjak batik dikukuhkan sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO pada Oktober 2009.

Dengan kemasan baru ini, diharapkan masyarakat tidak saja semakin mencintai produk asli Indonesia, tapi sekaligus dapat memperkenalkan Indonesia ke dunia internasional. Sosro Heritage bisa menjadi alternatif oleh-oleh asli Indonesia ke mancanegara. “Kami menamainya story telling packaging,” cetus Charles.

Teknologi 3D

Kemasan Sosro Heritage juga mengusung teknologi tiga dimensi (3D). Charles menyebutnya dengan augmented reality packaging. Untuk melihat efek 3D tersebut, caranya gampang. Anda harus memiliki sebuah komputer berkamera untuk menjajal program ini. Sebelumnya, unduhlah sebuah peranti lunak dari situs Teh Celup Sosro dan lakukan instalasi di komputer. Dekatkanlah kotak pembungkus ke kamera. Anda bisa melihat gambar Candi Borobudur maupun Tari Kecak secara lebih hidup.

“Teknologi ini menjadi media promosi kami di ritel modern. Kami ingin membangun apa yang dinamakan brand experience. Membuat pelanggan merasa bangga dan terkesan dengan produk dan negaranya sendiri,” katanya.

Hal di atas mengingatkan apa yang dikatakan pakar pemasaran Hermawan Kartajaya bahwa teknologi telah membuat kemasan berubah fungsi. Awalnya, kemasan dibuat untuk melindungi produk di dalamnya—packaging protects what it sells. Sekarang, kemasan menjual apa yang dilindungi—packaging sells what it protects. Tidak berhenti di situ, kemasan menjadi sebuah pesan itu sendiri seperti dikatakan Marshall McLuhan dengan ungkapan “medium is the message.”

Itulah cara marketing cerdas ala Sosro. Kemasan edukatif dan interaktif itu menjadi sarana Sosro Heritage untuk menggarap pasar premium. Produknya sendiri terbuat dari pucuk daun teratas asli Indonesia yang mengandung kadar polyfenol dan catechin paling tinggi. “Bahan baku produk kami juga premium. Kami membangun kesan elegan dan eksklusif,” imbuh Meicy.

Produk ini didistribusikan ke ritel modern saja. Berbeda dengan produk-produk Sosro reguler yang dipasarkan sampai ke pasar tradisional dengan dua variannya, yakni Teh Celup Sosro dan Teh Seduh Sosro. Komunikasi dilakukan melalui in store promo dengan peranti multimedia maupun roadshow di kota-kota besar.

Charles menyadari kompetisi justru berlangsung dengan para pemain asing. Wacana cinta pada produk dalam negeri yang belakangan ini menguat di kalangan masyarakat  menjadi kekuatan Sosro menghadapi pemain asing itu. “Strategi kami tak lain menyuguhkan produk premium dengan harga terjangkau. Rata-rata masih di bawah Rp 10 ribu,” katanya.

Sosro juga mengedukasi bahwa minum teh itu tak kalah bergengsi dengan minuman lain, seperti kopi maupun anggur. Rasa elegan dan gaya pun dapat direngkuh dengan menyeruput minuman alami ini.

Kampanye hidup sehat dengan minum teh juga digelar. Menurut survei, teh Indonesia memiliki kandungan antioksidan yang lebih tinggi dibanding dengan negara penghasil teh lainnya, seperti Jepang. Untuk menambah akses nikmat, menurut Charles, teh melati cocoknya diminum pagi hari dengan campuran gula batu, teh hitam untuk siang hari dengan gula pasir, dan teh melati pada malam hari.

Pada tahun 2010, Charles berharap Sosro Heritage sudah semakin dikenal dan menjadi teman akrab bagi mereka yang ingin menikmati hotel, resto, maupun penerbangan berkelas.

Pengamat pemasaran Yadi Budhi Setiawan menilai apa yang dilakukan Sosro dengan kemasan baru itu tak lain adalah pembangunan citra merek. Ia pun mendukung strategi membidik ceruk pasar di kelas premium itu.

“Riset kami atas konsumsi teh memperlihatkan kelas atas, berduit, dan berumurlah yang biasa mengonsumsi teh semacam ini. Tema warisan budaya yang diangkat Sosro Heritage cocok untuk mereka yang senang bernostalgia dengan masa lalu. Perlu diperhatikan pula peminum teh dari kalangan dewasa di bawahnya,” katanya.

Yadi melihat strategi pemasaran ini sebagai bagian dari tren. Sama seperti banyaknya perusahaan yang mengusung pemasaran hijau untuk menanggapi isu lingkungan. Ia  menilai bermain hanya di soal kemasan tidaklah cukup. Agar bisa merengkuh kelas premium, Sosro harus menerjemahkan spirit elegan tadi melalui kedai khusus, cara penyajian, bentuk cangkir dan tekonya, maupun membangun komunitas pecinta teh.

“Teh bagi sebagian besar orang Indonesia masih tergolong konservatif. Perlu memberi cita rasa modern dalam produk maupun marketingnya. Pebisnis teh ini bisa belajar dari kesuksesan para pemain kopi yang mampu menyentuh gaya hidup orang Indonesia, khususnya kaum urban,” pungkas Yadi. (Majalah MARKETING/Sigit Kurniawan)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top