Portal Lengkap Dunia Marketing

Excellent Service

Grand Sungkono Lagoon, Gaet Pasar Lewat Buyer Get Buyer

Grand Sungkono Lagoon, Gaet Pasar Lewat Buyer Get BuyerBanyak cara dilakukan perusahaan untuk memasarkan sebuah produk. Seperti yang dilakukan pengembang PP Properti dalam memasarkan Grand Sungkono Lagoon dengan strategi buyer get buyer.

Saat ini persaingan bisnis tidak hanya terlihat dari kualitas produk yang dihasilkan, tapi juga bagaimana mengkreasikan strategi pemasaran baru. Sebab bila strategi yang digunakan tak jauh berbeda dengan strategi pesaing, bisa jadi kegiatan pemasaran tidak memberikan dampak penjualan yang cukup signifikan. Adanya strategi yang kreatif akan membuat proses pemasaran mampu berjalan secara terkontrol, dinamis, dan tidak monoton dengan satu gaya pemasaran saja.

Gaya pemasaran berbeda inilah yang coba ditawarkan di bisnis properti untuk menjaring konsumen lebih optimal. Berbagai strategi jualan dilakukan pengembang dalam menarik konsumen membeli produk properti, mulai dari keliling dunia, penawaran diskon, voucer liburan, hadiah gadget, hingga hadiah mobil sport.

Strategi berbeda juga dilakukan PP Properti yang memasarkan proyek Grand Sungkono Lagoon (GSL), sebuah superblok premium di central business district (CBD) Surabaya Barat. Pengembang ini menawarkan imbalan (fee) kepada pembeli yang bisa menggaet pembeli lainnya melalui strategi pemasaran buyer get buyer.

“Di Surabaya, strategi pemasaran lewat word of mouth (WoM) dan buyer get buyer sangat efektif dalam menjaring konsumen. Pembeli kebanyakan merupakan end user yang kemudian memberitahukan kepada kolega atau teman-temannya agar membeli unit yang ditawarkan dengan imbalan (fee) 1% dari harga jual,” kata Rudy Harsono, Project Manager Grand Sungkono Lagoon Surabaya.

Selain menerapkan strategi marketing word of mouth dan buyer get buyer, promosi pemasaran juga dilakukan melalui saluran above the line (ATL) dan below the line (BTL). Bentuknya antara lain iklan di media massa—umumnya surat kabar lokal, gathering, juga pameran-pameran di mal—bahkan pameran digelar di luar Surabaya, misalnya di Balikpapan dan Makassar. Bujet yang dianggarkan untuk promosi sekitar 3%─4% dari Rp5 triliun investasi yang ditanam di proyek ini.

Tak hanya strategi pemasaran di atas, pengembang pelat merah ini juga menerapkan strategi diferensiasi produk dengan menawarkan konsep mix used development berupa green property yang mengusung konsep green, healthy, dan smart building dalam desain infrastruktur dan keseluruhan rancang bangun. Adapun konsep green dan healthy diterapkan melalui pembangunan areal taman keluarga seluas 2 hektare di tengah-tengah lahan proyek seluas 3,5 hektare.

Tower pertama, yakni tower Venesia, menyediakan 500 unit hunian yang membidik segmen menengah dengan harga mulai Rp600 jutaan sampai Rp6 miliar. “Sejak dipasarkan September 2013 lalu, ditargetkan semua unit ludes terjual sampai akhir tahun 2014 ini. Ground breaking dilakukan pada 20 Agustus 2014, sedangkan target serah terima kira-kira di semester II tahun 2016,” jelas Rudy.

Sekitar 80% pembeli merupakan end user dan sisanya adalah investor. Rata-rata pembeli, sekitar 60%─70%, berasal dari Surabaya. Sisanya berasal dari Jakarta, Sidoarjo dan Malang, Jember, Makassar, dan Balikpapan. Untuk memudahkan konsumen, pengembang menggandeng bank dalam hal kredit kepemilikan apartemen (KPA) dengan tawaran bunga ringan, seperti BTN, CIMB Niaga, dan Bank Mandiri.

Rudy pun mengaku optimistis proyek yang ditawarkan akan terserap pasar, mengingat kebutuhan properti di Surabaya semakin tinggi dan berkembang. Sebenarnya masyarakat di Surabaya belum terlalu mengikuti gaya hidup tinggal di apartemen seperti layaknya orang Jakarta, tapi jika melihat jauh ke depan, investasi di bidang apartemen juga sangat menguntungkan.

“Sama seperti di Jakarta, di masa mendatang Surabaya akan mengalami kelangkaan lahan untuk tempat tinggal, khususnya di perkotaan. Akibatnya, pembangunan tempat tinggal bertingkat akan semakin tumbuh. Selain itu, investasi di industri properti sangat menjanjikan. Setiap tahun nilai properti di Surabaya mengalami kenaikan minimal 16%,” jelasnya.

Moh. Agus Mahribi

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top