Portal Lengkap Dunia Marketing

Dunia Digital

Perluas Pasar Sekaligus Mendekatkan Diri dengan Pendengar Lewat Digital!

Era digital memaksa media konvensional, termasuk radio untuk beradaptasi dengan behaviour para audience. Kini radio perlu eksis dalam format digital agar tak kehilangan para pendengar setianya.

Adrian Syarkawie, Presiden Director dan CEO PT Mahaka Media Tbk

Adrian Syarkawie, Presiden Director dan CEO PT Mahaka Media Tbk

Data Nielsen menyebutkan bahwa jumlah pendengar radio konvensional di Indonesia terus mengalami penurunan setiap tahunnya. Di Jakarta sendiri, jumlah pendengar radio konvensional hanya tersisa sekitar 10 jutaan saja, padahal dulu pendengarnya mencapai lebih dari 14 juta.

Mungkin dulu orang tidak tidak punya pilihan lain selain mendengarkan radio. Sekarang zaman sudah berubah. Dewasa ini generasi muda jauh lebih akrab dengan gadget mereka daripada dengan radio.

Banyak yang beranggapan bahwa era digital dianggap sebagai peluang sekaligus ancaman bagi perkembangan radio di Indonesia. Dilihat dari segi peluangnya, era digital dianggap lebih menguntungkan karena mampu menarik jumlah pendengar lebih banyak dan secara teknis lebih efisien.

Namun, era digital juga diangap sebagai ancaman karena teknologi baru menuntut radio harus memperhatikan isi program dan kreativitas. Kaitannya dengan isi program, pihak radio pun harus memerhatikan kebutuhan pasar dan peka terhadap perubahan yang terjadi.

Adrian Syarkawie, CEO sekaligus President Director PT Mahaka Media Tbk membenarkan data dari Nielsen tersebut. Hanya saja, setelah ditelusuri lebih lanjut, ada perubahan cara orang dalam mendengarkan radio. Penurunan itu terjadi karena mereka (pendengar radio konvensional) migrasi ke digital. Hal itu tidak terjadi di industri radio saja, media lain pun demikian.

“Oleh karenanya, mau tidak mau Gen FM harus mengikuti behaviour dari listener-nya. Jika saat ini pendengar lebih senang menggunakan internet dan mobile, maka Gen harus bisa hadir di sana. Caranya, dengan membuat aplikasi streaming yang memungkinkan mereka bisa menikmati Gen lewat mobile,” ucap Adrian.

“Saat ini perangkat mobile memang sudah banyak yang ada FM-nya, namun kami tetap menyediakan aplikasi streaming. Tujuannya, bukan hanya agar pendengar bisa mendengarkan Gen, tapi juga agar mereka semakin dekat dengan Gen,” lanjut Adrian.

Beradaptasi dengan era digital

Menurut Adrian, di kota-kota berkembang seperti Jakarta, setiap bulannya terjadi penambahan gedung-gedung baru, dan itu tidak bagus bagi industri radio karena mengganggu frekuensi. Kehadiran digital menjadi solusi. Orang bisa mendengarkan radio melalui digital yang sama sekali tidak terpengaruh oleh teknologi FM.

Adrian sadar, behavior listener telah berubah, dan Gen harus bisa mengikutinya. Hanya saja, Gen tidak ingin terlena dengan digital dan meninggalkan main bisnisnya, yaitu radio.

“Kami menyediakan mereka (pendengar) banyak pilihan untuk mendengarkan Gen, baik itu melalui aplikasi mobile atau website, kata Adrian.

Menurut Adrian, bisnis radio bukanlah bisnis digital, namun karena perkembangan teknologi yang luar biasa, mau tak mau mereka pun harus bisa mengikuti. Konsekuensinya adalah radio harus melakukan apa yang sebelumnya tidak terpikirkan, salah satunya masuk ke ranah digital.

“Tapi kalau kita cuma latah, belum tentu jadi solusi. Kami selalu bilang bahwa ini (digital) jangan dianggap sebagai ancaman, namun opportunity. Kami juga terus memantau perkembangan teknologi, yang pada akhirnya belum tentu sesuai dengan kebutuhan pasar,” tegas Adrian.

“Prinsipnya, teknologi terus berkembang, jadi jangan terjebak dengan itu. Kita selalu yakin dengan apa yang kita buat, back to basic apakah market menyetujui dan menyukai apa yang kita lakukan? Jadi kita harus pintar-pintar menggali data,” terang Adrian lagi.

Tujuan Gen masuk ke ranah digital adalah untuk menjaga eksistensi bisnis konvensionalnya, dan ternyata cukup efektif. Terbukti, jumlah pendengar Gen terus meningkat, dengan pencapaian 315 ribu pendengar (Jakarta dan Surabaya dalam enam bulan terakhir) melalui aplikasi mobile streaming.

Berkat digital, penikmat Gen juga bukan hanya orang Jakarta saja, tapi hingga seluruh orang Indonesia, bahkan dunia. Untuk mendekati pasar yang selama ini tak tersentuh, Gen memasang iklan LED di daerah-daerah. Tapi tentu saja yang ditekankan dalam iklannya bukanlah frekuensinya, tapi streaming-nya.

Dan yang paling penting, “Kami tidak mengedukasi pendengar untuk beralih ke digital, tapi kami mengedukasi mereka untuk menggunakan produk digital kami,” tegas Adrian.

Tetap adakan event off air

Kendati era digital lagi happening, Adri mengaku bahwa Gen tetap melakukan kegiatan offline guna meraup masa. Menjelang akhir tahun, Gen tak pernah absen mengadakan event musik bertajuk ‘Gen Fair’.

Untuk tahun ini sendiri, stasiun radio yang website-nya kerap dikunjungi sekitar 900 ribu pengunjung per bulannya itu mengusung konsep karnaval. Sebagai bocoran, rencananya Gen Fair 2014 akan dimeriahkan oleh penampilan Kotak, Judika, Sammy Simorangkir, The Changcuters, serta GIGI dan diadakan pada 18-19 Oktober di area Tennis Indoor Senayan, Jakarta.

Pasalnya, masyarakat butuh hiburan yang bisa membuatnya sedikit refreshing setelah setahun bergelut dengan kesibukannya. Dengan adanya event tersebut, awareness Gen pun terus meningkat, bahkan mereka juga bisa menjalin komunikasi yang baik dengan semua orang yang hadir di sana. Makanya, tak hanya musik saja yang disuguhkan, tapi juga kuliner dan games dan musisi favorit pilihan para pendengar.

2 Comments

2 Comments

  1. Adi Cahyono

    23 January, 2015 at 22:28

    Bagus sekali ulasannya, sangat menarik untuk dicoba

  2. dwi setiawan

    29 January, 2015 at 08:12

    Dunia memang cepat berubah,,,,
    Yuk makin adaptif dan terus kreativ..
    strategi gabungan on line dan off line akan terasa luar biasa 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top