Portal Lengkap Dunia Marketing

MARKETING

Fintech Lending Jaga Daya Beli Selama Pemulihan Ekonomi Nasional

Marketing.co.id – Berita Digital | Kemudahan berbelanja online selama pandemi membuat e-commerce dan transaksi keuangan digital semakin menjadi pilihan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Baca Juga: Fintech Makin Eksis, Tren Kolaborasi dengan Bank Pun Kian Berkembang

Riset Kredivo dan Katadata Insight Center mengenai Perilaku Konsumen E-Commerce Indonesia menunjukkan peningkatan adopsi digital dan keyakinan konsumen untuk bertransaksi dalam nominal besar.

Dari riset yang sama, peningkatan aktivitas transaksi digital didukung konsumen Generasi Z dan Milenial berkontribusi sebesar 85% dari total transaksi. Menariknya, semua kelompok umur tetap terbuka untuk bertransaksi online, terlihat dari jumlah transaksi rata-rata per orang per tahun yang hampir sama, yakni 17-20 kali dalam setahun berapapun usianya.

Baca Juga: Fintech Ilegal Menjamur, Konsumen patut Mawas Diri

Hal ini yang ditemui dalam webinar “Peran Literasi Keuangan Digital dalam Pemulihan Ekonomi Nasional”, yang diselenggarakan baru-baru ini oleh Asosiasi Fintech Pendanaan bersama Indonesia (AFPI) dan Kredivo secara virtual.

General Manager Kredivo Indonesia – Lily Suriani menyampaikan, di tengah upaya pemerintah dalam pemulihan ekonomi nasional, fokus Kredivo adalah memberikan kemudahan akses dan fleksibilitas pembayaran guna terus menjaga pertumbuhan transaksi para merchant, dan mampu untuk turut menjaga daya beli masyarakat, serta meningkatkan kepercayaan konsumen Indonesia dalam berbelanja online.

Baca Juga: Fintech Harus Mampu Menjawab Kekhawatiran Pengguna Akan Keamanan Data Diri

“Kami optimis pemulihan ekonomi bergerak ke arah yang positif. Konsumen sudah kembali memiliki keberanian berbelanja, apalagi jika distimulasi berbagai program menarik dan meringankan pembayaran,” ujarnya.

Peningkatan adopsi digital dan keyakinan konsumen tersebut sejalan dengan temuan Survei Nasional Literasi Keuangan (SNLIK) dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun 2019. Survei tersebut menunjukkan indeks inklusi keuangan atau penggunaan produk keuangan yang sudah mencapai 76,19%.

Akan tetapi, masih terdapat kesenjangan angka tersebut dengan indeks literasi keuangan (38,03%) yang menunjukkan pemahaman, hal ini memperlihatkan banyak pengguna produk keuangan di Indonesia belum tahu dan terampil menggunakan produk keuangan secara efektif. Padahal, sebagai negara dengan nilai ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara, literasi keuangan yang baik khususnya di ranah digital menjadi penting.

Baca Juga; Peraturan Kian Ketat, Pertumbuhan Startup Fintech Mulai Melambat 

Di tengah Bulan Inklusi Keuangan sepanjang Oktober 2020, literasi keuangan digital pun semakin digalakkan pemerintah maupun pemain industri sektor keuangan. Hal ini sejalan dengan upaya OJK untuk terus meningkatkan literasi keuangan masyarakat melalui teknologi informasi. Terlebih di tengah keterbatasan berbagai kegiatan sosialisasi literasi keuangan yang berbentuk fisik akibat pandemi.

Menurut Deputi Direktur Pengaturan, Penelitian dan Pengembangan Teknologi Finansial Otoritas Jasa Keuangan – Munawar Kasan, literasi keuangan digital memiliki 4 (empat) komponen. Pertama yaitu mengetahui produk, paham produk dalam industri keuangan digital dan aneka produk fintech. Kedua bijak memanfaatkan, tak hanya memanfaatkan tetapi juga meminjam sesuai kebutuhan, menghitung kemampuan membayar, paham bunga, denda, bayar sesuai jumlah dan waktunya.

Kemudian berbicara soal literasi literasi, penting untuk mengetahui resiko dan bagaimana mitigasinya, khususnya mengenai penggunaan data pribadi di tengah literasi digital masyarakat yang masih rendah. Terakhir paham selesaikan masalah khususnya terkait pelaporan apabila ada pengaduan.

Baca Juga: Bank dan Fintech: Friend or Foe?

Disamping empat poin tersebut, inovasi dan kolaborasi regulator dan industri dalam mendorong literasi keuangan terus didorong pelaku industri fintech lending. Ketua Harian AFPI, Kuseryansyah menekankan, di tengah fintech adoption di Indonesia yang masih dibawah 34% dan funding gap sebesar Rp989 Triliun, kolaborasi regulator dan industri, serta inovasi dari pelaku ekosistem digital penting dalam memaksimalkan pemanfaatan kehadiran kemudahan akses keuangan digital saat ini secara bijak.

“Dengan ruang tumbuh kita yang masih cukup tinggi, kami berharap pelaku industri fintech dapat terus mendukung program literasi keuangan digital sesuai misi AFPI dan program OJK dan Pemerintah dalam pemulihan ekonomi nasional,” pungkasnya.

Marketing.co.id: Portal Berita Marketing dan Berita Bisnis

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top