Portal Lengkap Dunia Marketing

Headline

Ecological Intelligence-How Knowing the Hidden Impacts of What We Buy can Change Everything

buku ecologicalJudul: Ecological Intelligence-How Knowing the Hidden Impacts of What We Buy can Change Everything
Penulis: Daniel Goleman
Penerbit: Broadway Books, The Crown Publishing Groups
Bahasa: Inggris
Format: Hard Cover
Jumlah Halaman: 276
Nomor ISBN: 978-0-385-52782-8

Buku ini relevan untuk dibahas dalam bidang marketing karena orientasi perusahaan maupun konsumen saat ini sudah mulai diarahkan pada aspek kesadaran lingkungan. Banyak perusahaan yang memiliki posisi sebagai market leader sudah menerapkan pengembangan produk yang menekankan aspek ramah lingkungan. Bahkan, dunia perbankan juga sudah mulai menerapkan “asas-asas hijau” dalam setiap penawaran produknya. Perusahaan menerapkan hal ini karena kesadaran diri dari para pemimpin untuk memperhatikan keadaan lingkungan Bumi atas segala konsekuensi kegiatan bisnisnya. Dari sisi konsumen, banyak di antara mereka yang sudah sadar diri dan memiliki pengetahuan kognitif maupun emosional yang cukup untuk bisa melakukan konsumsi produk yang ramah lingkungan.

Kesadaran akan pentingnya penciptaan produk yang ramah lingkungan oleh perusahaan dan kesadaran diri dari konsumen untuk mempertimbangkan pilihan produk, menurut Goleman, hanya bisa dilakukan dengan baik dan optimal, apabila individu dan perusahaan sama-sama memiliki inteligensi ekologi.

Goleman menekankan bahwa inteligensi ekologi menjadi penting ketika pada abad ke-21 ini individu sudah mulai kekurangan sensitivitas terhadap lingkungan. Manusia tidak memperhatikan setiap dampak aktivitas mereka pada lingkungan sekitar, dan tidak pernah mengaitkannya dengan sistem alam. Ekologi menunjukkan pemahaman terhadap organisme dan ekosistem; inteligensi menunjukkan kapasitas untuk belajar dari pengalaman dan berhubungan dengan lingkungan secara efektif. Jadi, inteligensi ekologi mengarahkan kita untuk memahami bahwa apa yang kita pelajari sebagai aktivitas manusia akan memberi dampak pada ekosistem yang tidak membahayakan dan bisa mempertahankan hidup lebih lama dan baik. Inteligensi ekosistem menggabungkan keahlian kognitif dan empati pada semua kehidupan. Inteligensi emosi dan sosial dibangun untuk memahami perspektif orang lain, ikut merasakan, dan menunjukkan perhatian kita kepada mereka, sedangkan inteligensi ekologi menunjukkan kapasitas manusia untuk lebih dari sekadar memiliki inteligensi emosi dan sosial.

Perusahaan tidak cukup hanya memasang label eco green, againts animal testing, protect our planet, dan defend human right, tetapi juga perlu dilakukan kombinasi dengan aspek transparansi yang lain. Perusahaan harus menyadari bahwa meningkatnya suhu di Bumi, badai, kekeringan yang berkepanjangan, serta hujan yang tidak sesuai dengan musimnya, secara tidak langsung juga merupakan dampak dari aktivitas perusahaan dalam menjalankan bisnisnya.

Transparasi Radikal
Goleman mengarahkan adanya konsep transparansi radikal. Transparansi radikal meliputi keseluruhan siklus hidup produk dan segala konsekuensinya pada setiap tahapan. Dalam melakukan aktivitas, pelaku bisnis diarahkan untuk selalu mengaitkan strategi bisnisnya dengan hal ini. Fokus pada transparansi radikal tidak bisa dilakukan secara revolusioner, namun dilakukan secara evolusioner. Transparansi radikal menyebabkan perusahaan menciptakan kompetisi baru yang nantinya meningkatkan daya saing perusahaan.

Goleman mengetengahkan konsep life cycle assessment (LCA) sebagai metode praktis transparansi radikal yang berfokus pada suatu metode untuk menguraikan komponen-komponen yang membentuk suatu produk beserta polusi yang dihasilkan, serta toksin yang terkandung dalam proses produksi. Goleman mengungkapkan bahwa salah satu aspek penerapan dari konsep life cycle assessment adalah konsep LEED yaitu leadership in energy and environmental design.

Memang diakui sulit untuk memaksa pemerintah agar membuat ratifikasi secara ketat pada semua perusahaan yang menjalankan bisnis—bahkan bisa memengaruhi diterapkannya pada persyaratan di WTO, karena memberikan pajak setinggi-tingginya tidak cukup bagi perusahaan. Perusahaan memang mau tidak mau menerapkan corporate social responsibility.

Bagaimana dengan kondisi di perusahaan-perusahaan Indonesia? Jika dikaitkan dengan contoh perusahaan Goodguide yang dijelaskan oleh Goleman, perusahaan Indonesia—khususnya untuk perusahaan yang berorientasi pada consumer goods—belum ada yang menerapkan sistem transparansi radikal. Sistem ini membutuhkan biaya yang cukup mahal karena perusahaan harus mengalokasikan anggaran lebih besar untuk mengumpulkan informasi dan data mengenai komposisi sebuah produk ditinjau dari aspek kesehatan, kemanusiaan, dan lingkungan.

Di samping dana yang besar, tentu saja perusahaan agak kesulitan untuk bisa melakukan sharing informasi karena ketidakmauan dari para produsen untuk membuka tabir informasi mengenai komposisi produknya. Meskipun belum dilakukan pengungkapan informasi secara menyeluruh mengenai komposisi produk, perusahaan sudah menerapkan corporate social responsibility. CSR yang diterapkan berorientasi pada eco-green. Perusahaan yang mengutamakan orientasi pada proses dan produk “hijau” bisa menjadikannya sebagai senjata untuk memenangkan hati konsumen, meningkatkan profitabilitas, dan memperpanjang umur perusahaan.

Perlu disadari bahwa konsumen sudah mengalami banyak perubahan. Konsumen mengalami peningkatan pemahaman yang besar untuk sadar akan kesehatan diri, kesejahteraan lingkungan, dan keadaan Bumi. Melalui buku ini, Goleman menyarankan bahwa lingkungan kita ini bisa dipelihara dengan dimulai dari diri kita sendiri. Sebagai konsumen jangan berpikir bahwa lingkungan tempat kita tinggal sudah terancam punah dan perlu diperbaiki. Malahan, kita sendiri yang seharusnya diperbaiki pola pikirnya. Diri kitalah yang menentukan untuk melindungi Bumi ini. (Majalah MARKETING/Iin Mayasari)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top