Portal Lengkap Dunia Marketing

CONSUMER GOODS

Danone SN Indonesia Gelar Diskusi Terkait Efek Kekurangan Zat Besi pada Anak

Marketing.co.id – Berita Consumer Goods | Permasalahan gizi selalu menjadi isu yang dinamis – tak terkecuali zat besi, yang sampai saat ini masih jadi masalah besar di Indonesia. Bersamaan dengan Hari Gizi Nasional, Danone Specialized Nutrition Indonesia menggelar diskusi daring bertajuk “Efek Kekurangan Zat Besi pada Kemampuan Belajar Anak”. Adapun diskusi tersebut sejalan dengan tema Hari Gizi Nasional 2021, “Remaja Sehat Bebas Anemia”.

Corporate Communications Director Danone Indonesia Arif Mujahidin menyampaikan, 40% populasi masyarakat Indonesia adalah Gen Z dan post Gen Z. Dimana, mereka adalah cikal bakal untuk memutus mata rantai kekurangan zat besi dalam konsumsi pangan sehari-hari.

“Kini, Indonesia mengalami triple burden terkait nutrisi, yakni obesitas, underweight hingga kurang gizi dan stunting, serta hidden hunger. Padahal, pangan yang bergizi adalah pondasi untuk infrastruktur bangsa di masa depan. Namun kadang, isu gizi ini tidak terlihat. Apalagi masalah hidden hunger atau kelaparan tersembunyi, seperti defisiensi zat besi,” tutur Arif.

Terlebih, berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar 2018 (Riskesdas) menunjukkan 1 dari 3 anak balita Indonesia mengalami anemia. Data lain menunjukkan, lebih dari 40 persen anak balita di negara berkembang menderita anemia dan. 50-60% kasus anemia disebabkan oleh kekurangan zat besi .

Dijelaskan Prof. Dr. drg. Sandra Fikawati, MPH, ahli Gizi Ibu dan Anak, “Jutaan anak mengalami pertumbuhan terhambat, keterlambatan kognitif, kekebalan yang lemah dan penyakit akibat defisiensi zat besi. Padahal, anak usia prasekolah membutuhkan dukungan lingkungan yang baik, terutama dukungan gizi seimbang, sehingga orang tua harus mengetahui kebutuhan gizi, cara pemenuhannya, serta upaya perbaikan gizinya.”

Baca juga: Danone SN Beri Pelatihan Teknologi Digital bagi Ibu Kantin Sekolah

Dokumen WHO menyatakan, ada bukti kuat melalui penelitian bahwa kekurangan zat besi terlihat secara meyakinkan menunda perkembangan psikomotor dan mengganggu kinerja kognitif anak prasekolah dan anak usia sekolah di Mesir, India, Indonesia, Thailand, dan Amerika Serikat.

Diperkirakan 30-80% anak di negara berkembang, mengalami kekurangan zat besi pada usia 1 tahun. Anak-anak ini akan mengalami keterlambatan perkembangan kognitif maupun psikomotor, dan ketika mereka mencapai usia sekolah mereka akan mengalami gangguan kinerja dalam tes bahasa keterampilan, keterampilan motorik, dan koordinasi, setara dengan defisit 5 hingga 10 poin dalam IQ.

Ketua HIMPAUDI Pusat, Prof. Dr. Ir. Hj. Netti Herawati, M.Si. membagikan pengalamannya, bahwa proses belajar seharusnya menjadi pengalaman yang menyenangkan. Proses belajar mengajar pada anak usia dini, hendaknya tidak terganggu oleh berbagai masalah, termasuk kendala kesehatan.

“Orangtua dan pendidik harus saling mendukung dalam proses belajar anak, termasuk dalam pendidikan dasar seperti PAUD. Semua ini bisa tercapai jika anak sehat dan tidak mengalami kekurangan zat besi, sehingga kami selalu meminta agar orang tua memerhatikan asupan bergizi di rumah, untuk mendukung proses belajarnya agar bisa menyerap ilmu dengan optimal,” jelas Prof. Netti.

Untuk itu, Danone Specialized Nutrition (SN) Indonesia ingin mengajak orang tua untuk bisa memberikan perhatian khusus dalam memastikan kebutuhan harian gizi anak, termasuk zat besi, telah terpenuhi dan terserap dengan baik.

Menariknya lagi, Danone Specialized Nutrition Indonesia juga menyediakan sebuah platform daring untuk membantu orang tua bisa melakukan tes risiko terjadinya kekurangan zat besi pada si Kecil melalui fitur di dalam situs www.generasimaju.co.id.

“Pada situs ini, orang tua juga dapat menemukan serangkaian artikel terkait topik nutrisi termasuk kekurangan zat besi dan bagaimana cara mengatasinya, serta berbagai artikel mengenai tips untuk mendukung anak menjadi Anak Generasi Maju. Fitur ini diharapkan dapat membantu orang tua mendeteksi kekurangan zat besi pada anak sejak dini dan bagaimana stimulasi yang perlu dilakukan agar dapat mendukung mereka menjadi generasi maju,” tutup Arif.

Marketing.co.id: Portal Berita Marketing & Berita Bisnis

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top