Portal Lengkap Dunia Marketing

Marketing

Crocs

Banyak sekali orang yang mengantri di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta pagi itu. Sebuah foto yang dikirim ke BB saya bahkan menunjukkan antrian ular yang mencapai empat lantai.

Histeria antrian dan gerombolan konsumen yang menyerbu toko yang sedang diskon adalah hal yang biasa buat saya: mulai dari pembukaan outlet bread talk, antrian pembelian launching iPod, sampai midnight sale. Cuma, yang ini memang luar biasa, orang rela mengantri delapan jam untuk bisa membeli sepatu Crocs dengan diskon 70 persen.

Entah kenapa, semua orang sepertinya harus mendapatkan sepatu berlogo buaya hari itu juga. Mungkin sebelumnya mereka  biasa membeli sepatu AMC (asal mirip Crocs). Tapi hari itu, mereka bisa mendapatkan Crocs asli dengan harga sangat murah dibandingkan harga sebelumnya, yang  bisa mencapai 900 ribuan rupiah.

Cerita Crocs berawal dari tiga pria dari Boulder, Colorado. Mereka bertiga berlayar menuju Karibia. Dan pada saat di kapal itu, mereka membayangkan sebuah sepatu yang cocok dipakai di kapal. Sebuah sepatu  dari gabus yang bentuknya berlubang-lubang seperti keju, ringan, dan antislip. Selain itu, sepatu juga bisa dicuci dan tidak mudah bau karena sering terguyur air. Crocs awalnya didesain sebagai sepatu untuk kapal.

Rencana itu kemudian diwujudkan di darat dan kemudian mereka ikutkan produk tersebut di sebuah pameran kapal. Tidak disangka-sangka, sepatu itu pun laris manis dan tak berselang kemudian, semua orang sudah memakainya. Mulai dari dokter, insinyur sampai seorang Britney Spears. Para founder pun seperti tidak percaya mendapatkan penjualan lebih dari US$ 1 juta dalam setahun lewat pekerjaan yang saat itu masih menjadi pekerjaan sampingan mereka!

Crocs kemudian menjadi bahan pembicaraan. Merek yang pendapatannya tumbuh 300 kali lipat dalam waktu tiga tahun ini menjadi contoh bagaimana merek pada zaman sekarang tak butuh waktu bertahun-tahun untuk menjadi merek yang top.

Word of mouth menjadi senjata promosi paling ampuh bagi Crocs. Bukan hanya oleh para pencintanya, tetapi juga oleh para anticrocs. Beberapa pengamat mode menyebut Crocs tidak punya style. Bentuknya tidak menarik sekalipun nyaman dipakai. Crocs bagaikan Paris Hilton; terkenal tapi sebenarnya norak. Pendapat sinis yang mungkin bentuk rasa iri mereka, kenapa model sepatu badut ini bisa masuk ke mode kelas atas.

Di beberapa sekolah di AS, Crocs dilarang dipakai di sekolah karena kurang aman untuk beraktivitas berat. Ini karena  anak-anak sekolah mulai keranjingan memakai Crocs ke sekolah.

Tidak banyak kontroversi soal sepatu yang seheboh Crocs. Merek ini terkenal seiring dengan terkenalnya blog ihatecrocs.com yang berisi orang-orang yang anticrocs atau Facebook para anticrocs yang sudah punya member jutaan. Termasuk juga tayangan video di You Tube yang menampilkan seseorang yang benci dengan merek ini asyik menggunting-gunting sepatu ini. Beberapa teman di Facebook menulis betapa girangnya bisa mendapatkan Crocs murah, sebagian lagi menulis kebingungan mereka, kenapa orang suka kepada Crocs. Tapi itulah konsumen, semakin kontroversial sebuah merek, semakin penasaran untuk diburu.

Crocs bukanlah lahir dari sebuah strategi yang njlimet. Crocs cuma hasil dari obrolan di atas kapal. Tapi, Peter Fisk menyebut Crocs dalam bukunya sebagai contoh bagaimana para genius dalam bisnis bekerja: berani, punya nyali, dan brilian.

Saya rasa nyali terbesar mereka adalah masuk ke bursa saham, menarik dana publik, dan melakukan ekspansi besar-besaran. Pada saat penawaran perdana saja, perusahaan mereka dinilai US$ 1 miliar. Hal ini menuntut juga tanggung jawab mereka untuk selalu inovatif, agar nilai saham mereka tidak melorot. Kalau tidak, mereka ini cuma jadi lifestyle product yang hidup sesaat.

Di mata konsumen, Crocs bukan sekadar memberikan value dari sisi fiturnya yang ringan, higienis, dan antislip, tapi juga karena funky, cool, dan membuat konsumen seperti punya gaya yang berbeda.

Crocs menjadi tren baru di dunia mode sepatu. Bentuknya absurd, tapi percaya atau tidak, mengubah gaya hidup Anda sekarang ini. Britney, George Bush, sampai Michele Obama memakainya. Jadi, jangan heran jika konsumen merasa mendapatkan apa yang mereka impikan ketika merek ini diobral habis. (Majalah MARKETING)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top