Portal Lengkap Dunia Marketing

Excellent Service

Content is The King

Di era media sosial ini, perusahaan atau pelaku bisnis tiba-tiba merasa bahwa mereka sekarang memiliki media sendiri. Kalau dulu, setiap media harus mereka bayar, sekarang ada media yang mereka ciptakan sendiri. Mereka memiliki akun Facebook, Twitter, Instagram, atau YouTube. Mereka juga memiliki alamat situs untuk perusahaan atau pelayanan yang ingin mereka komunikasikan.

Content is king

Beragam tool hasil perkembangan teknologi digital ini sungguh mempesona. Perusahaan termasuk industri jasa kemudian melakukan adopsi tool tersebut dengan cepat agar tidak ketinggalan. Tetapi nyatanya, sebagian besar kemudian berhenti di tengah jalan. Sebagian tidak mampu untuk terus-menerus mengisi media sosialnya. Sebagian merasakan bahwa situs dan media sosial mereka kemudian tidak berkembang karena tidak mampu untuk melakukan up-date yang berkesinambungan. Dalam waktu sehari, perusahaan mampu membuat akun-akun media sosial. Mereka bisa memiliki, tetapi tidak menguasai media tersebut. Esensi media sosial adalah menciptakan percakapan yang membangun popularitas, citra yang positif, dan loyalitas. Hal itu akan mudah tercapai bila media ini bisa viral.

Semua tool ini membutuhkan konten. Tanpa konten yang baik, tidak akan ada penyebaran atau viralisasi. Tanpa konten yang baik, tidak ada trafik untuk situs dan media sosial perusahaan. Tanpa konten yang efektif, tidak akan ada proses interaksi dan engagement dengan para pelanggan. 

Bagaimana Membangun Konten?

Perusahaan jasa atau perusahaan yang memiliki pelayanan kepada pelanggan perlu komunikasi digital yang baik dan efektif. Fokusnya adalah memiliki konten yang relevan dan menarik.

Semua konten yang akan dibuat haruslah dimulai dengan positioning yang baik. Sebuah produk atau pelayanan, hari ini haruslah mengartikulasikan strategi positioning-nya semakin jelas. Apa saja asosiasi unik yang ingin diciptakan. Ini tetap berlaku walaupun perusahaan sudah mengandalkan semua komunikasinya dalam bentuk digital marketing dan media sosial. Bedanya, di era media konvensional, positioning bisa dikontrol. Perusahaan kemudian menggunakan media konvensional untuk membangun citra mereka seperti yang sudah digariskan dalam strategi positioning-nya.

Di era digital, positioning tidak terjadi semudah seperti yang diharapkan perusahaan. Pelanggan ikut menciptakan positioning sebuah merek atau pelayanan. Apalagi bila merek tidak memiliki positioning yang jelas, bisa terjadi akhirnya pelanggan yang mengontrol. Mereka menyebarkan pesan, melakukan perbincangan di media sosial, dan akhirnya merekalah yang membentuk positioning dari merek tersebut.

Oleh karena itu, strategi positioning adalah hal pertama yang harus dilakukan. Setelah itu, digital manager haruslah membuat konten-konten untuk mengisi positioning tersebut. Perusahaan memang tidak mampu mengontrol sepenuhnya pesan yang akan mereka sampaikan di media sosial. Tetapi, pesan-pesan ini bisa menjadi bagian dari percakapan yang kemudian menjadikan merek memiliki positioning yang diinginkan atau paling tidak mendekati yang diinginkan.

Langkah pertama mempersiapkan konten adalah dengan melihat tujuan komunikasi dalam konteks proses pembelian. Ada beberapa konten yang memang tepat untuk menciptakan awareness. Diperlukan pula konten yang berbeda guna meningkatkan informasi produk dan membentuk konsumen untuk mengevaluasi produk. Demikian juga, diperlukan konten untuk mendorong konsumen melakukan pembelian.

Content is king

Pic: evlio.com

Konten pun berbeda untuk setiap tool media sosial. Situs memiliki kemampuan memberi penjelasan produk secara lebih detail. Facebook dan Instagram punya kelebihan untuk menciptakan engagement. Twitter lebih banyak berfungsi untuk mendorong popularitas, membantu memberikan pelayanan, atau menjadi link yang menuntun masuk ke situs perusahaan.

Persiapan untuk membuat konten ini juga akan mendorong digital manager melakukan audit kemampuan perusahaan dalam menghasilkan konten secara terus-menerus agar tercapai tujuan pembangunan dan peningkatan pangsa pasar mereka. Bila perusahaan tidak mampu menghasilkan konten yang diperlukan dalam media sosial, maka salah satu alternatifnya adalah melibatkan pihak eksternal. Penyedia jasa seperti ini bisa konsultan media sosial, blogger, event organizer, jurnalis, atau pihak-pihak lain yang memiliki kemampuan.

Sungguh disayangkan bila perusahaan sudah mengadopsi semua tool digital marketing dan media sosial, namun ternyata mereka tidak mampu menciptakan komunikasi yang baik. Tool yang baru ini sering kali membutuhkan konten yang jauh lebih kreatif dibandingkan dengan media konvensional. Tidak mengherankan, di era digital sering kita dengar frasa “content is the king”.

Handi Irawan D, CEO Frontier Capital

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top