Portal Lengkap Dunia Marketing

DIGITAL & TECHNOLOGY

Berkembang Pesat, Investor Mulai Beralih ke Co-living

Sumber: http://popupcity.net/wp-content/uploads/2016/01/The-Collective-London-2-800×400.jpg

Gaya hidup milenial dan meningkatnya biaya akomodasi mendorong perubahan untuk saling berbagi

Generasi milenial di Asia saat ini berbagi lebih dari sekadar ruang kerja dan transportasi. Menurut laporan “Bridging the housing gap”oleh konsultan real estate JLL Mereka mulai beralih untuk berbagi akomodasi bersama dalam bentuk tempat tinggal baru di mana para penghuninya memiliki  kesamaan dalam gaya hidup.

Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa co-living memperoleh daya tarik di Asia, terutama di Hong Kong dan Cina, di mana harga rumah yang terjangkau menjadi masalah. Berbagi tempat tinggal  antara pelajar dan profesional muda sudah sangat populer di banyak negara, sementara yang membedakan co-living adalah pengelolaannya dilakukan secara profesional.

Sebagian besar pengelola mengutamakan pelayanan dengan aspek komunitas seperti kelas yoga, pemutaran film, makanan dan minuman gratis, hingga acara networking dengan pembicara tamu dan workshop yang disesuaikan dengan masing-masing ketertarikan dan minat penghuninya.

“Bagi mereka yang belum mampu membeli rumah sendiri, kehadiran co-living menawarkan solusi yang terjangkau bagi kebutuhan mereka: alternatif untuk mereka yang masih tinggal di rumah keluarga, sewa bersama, atau rumah susun” kata Denis Ma, Head of Research, JLL Hong Kong. “Selain itu, komunitas masyarakat juga tertarik dengan skema co-living  yang berpotensi untuk memperbaiki kesejahteraan penghuni secara keseluruhan.”

Di Cina, konsep co-living dimulai oleh YOU+ International Youth Community, disusul oleh pengelola lain yang muncul pada 2012. Pada akhir 2016, terdapat hampir 90 pengelola di seluruh Cina. Vanke Port Apartment adalah salah satu pengelola terbesar Cina, yang memiliki lebih dari 60.000 unit. Sementara itu, YOU+ mengoperasikan 16 properti, Mofang juga bertambah menjadi sekitar 15.000 unit, ZiRoom mengoperasikan 7 properti dan Coming Space mengelola 10.000 unit.

“Permintaan generasi milenial untuk co-living sangat besar di Cina. Dalam lima tahun terakhir terdapat 43 juta mahasiswa yang baru lulus kuliah. Dengan tingginya harga perumahan di Cina, dibutuhkan waktu setidaknya tiga sampai lima tahun bagi mereka untuk bisa membeli rumah sendiri, dan itu berarti mereka harus menyewa atau mencari alternatif tempat tinggal jangka pendek. Karena itu, co-living jelas adalah opsi yang menarik,” terang Joe Zhou, Head of Research, JLL Cina.

Terinspirasi oleh fenomena co-working, beberapa pengelola telah membawa pekerjaan dan gaya hidup ke dalam satu tempat. Misalnya di India, saat ini terdapat tempat perusahaan start-up yang memiliki fokus pada co-living di Gurgaon dan dua yang berbasis di Bengaluru.

Sementara itu di Singapura, Aurum Investments, anak perusahaan dari co-working space Collision8, telah berinvestasi di sebuah startup co-living baru bernama Hmlet. Ada juga start-up 5Lmeet yang berbasis di Beijing yang tidak hanya bergerak dalam berbagi akomodasi  –  perusahaan ini juga menawarkan penghuninya sebuah kantor terbuka, serta fasilitas lainnya seperti restoran, tempat olahraga dan ruang acara.

Investor-investor beralih ke co-living

Didukung oleh sulitnya memiliki rumah dan sedikitnya pasokan perumahan, pasar co-living terbukti menarik bagi para investor dan pemilik properti terutama di sektor perhotelan.

Budget dan butik hotel adalah salah satu jenis properti pertama yang diubah menjadi co-living space dikarenakan ukuran unit dan tim operasi yang serupa,” kata Zhou. “Namun, untuk mengubah properti lain menjadi co-living harus melewati proses hukum dan perencanaan yang rumit, sehingga akan membutuhkan waktu dan biaya.”

Menurut Ma,  “pertimbangan lainnya adalah daya tahan dan keusangan. Banyak rumah co-living baru yang menyediakan desain interior yang modern, hal ini lah yang membuat para penghuni tertarik. Apakah ruang bersama ini dapat mempertahankan daya tarik mereka setelah beberapa tahun? Hal ini akan tergantung pada seberapa banyak pengelola berinvestasi dalam perawatannya.”

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top