Portal Lengkap Dunia Marketing

Ad Madness

Cetak Praktisi Periklanan Andal

shutterstock_108142943Periklanan tidak akan pernah mati! Sebaliknya, periklanan telah berkembang begitu pesat dan menjadi lebih kompleks saat ini dan di masa mendatang. Begitu gambaran FX Ridwan Handoyo, Principal Imago, mengenai dunia periklanan di Tanah Air.

Iklan tidak hanya diperlukan oleh fast moving consumer goods (FMCG), tetapi juga dibutuhkan oleh setiap penyedia produk dan jasa, bahkan sampai dunia politik.

Sayangnya di tengah potensi besar yang menjanjikan, masih tersimpan permasalahan mengenai tenaga kerja di bidang periklanan. Hal inilah yang kemudian memicu maraknya lembaga pendidikan periklanan, baik formal ataupun nonformal. Salah satunya “Imago School of Modern Advertising”.

Imago berdiri pada tahun 2002 sebagai lembaga pendidikan nongelar dengan masa belajar selama dua tahun dalam bidang periklanan. Siswa yang berminat untuk memperoleh gelar dapat menempuh Advance Bachelor selama satu tahun di Singapura. Namun, sejak tahun 2011, Imago mengubah positiong menjadi lembaga kursus periklanan singkat selama 1–2 hari.

Dipaparkan Ridwan, alasan Imago berkecimpung di bisnis pendidikan nonformal bidang periklanan dan komunikasi pemasaran, karena lembaga formal yang ada saat ini belum bisa memenuhi kebutuhan industri. Secara kuantitas memang sudah cukup, tetapi secara kualitas masih jauh dari harapan.

“Penyebabnya, dari sisi praktisi kita masih kekurangan. Inilah yang coba kami jembatani, karena di Imago pembelajaran lebih fokus pada studi kasus, workshop, dan hal-hal bersifat praktis yang dialami peserta sehari-hari dalam pekerjaan mereka,” imbuh dia.

Program pelatihan yang ditawarkan terkait dengan peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta. Sedangkan modul yang ditawarkan selalu berhubungan dengan profesi peserta, seperti topik creative thinking, brand management, negotiation skill, brand planning, media research, art direction, media planning, dan copy writing.

Jumlah peserta kursus periklanan di Imago sangat terbatas, lantaran kelas yang disediakan hanya bisa menampung maksimal 20 peserta. Namun, apabila ada topik yang memang memerlukan banyak peserta, kegiatan yang sifatnya seminar bisa diselenggarakan di luar tempat kursus Imago, seperti hotel.

Pengajar di Imago sebagian besar adalah praktisi periklanan yang sudah malang melintang di dunia periklanan, pernah bekerja di biro periklanan dan memiliki kompetensi dalam kepelatihan. “Dari sini diharapkan ada transfer pengalaman dan pengetahuan kepada para peserta didik, sehingga mereka menjadi lebih andal dan mampu menghadapi persaingan di dunia periklanan yang semakin kompeks,” kata dia.

Imago melirik pasar business to consumer (B2C), khususnya para pekerja di bidang marketing communication, promotion, dan public relation, termasuk pasar business to business (B2B) bagi perusahaan yang ingin mengembangkan divisi marketingnya. Semisal biro iklan, perusahaan pengiklan ataupun medianya, terutama perusahaan lokal.

Pertimbangan Imago lebih fokus ke perusahaan lokal, lantaran ada gap yang cukup besar antara perusahaan periklanan multinasional dan lokal. Bagi karyawan di biro periklanan multinasional, lazimnya mereka mendapat kemudahan-kemudahan dalam pelatihan dan update akan tren periklanan yang sedang berkembang secara global. Sebaliknya, karyawan di biro periklanan lokal sangat sulit mendapatkan ini semua.

Hal serupa juga terjadi pada para marketer, khususnya marcomm yang bekerja di perusahaan lokal. Padahal mereka memiliki tiga peran utama meliputi komunikasi perusahaan dengan pelanggan, perusahaan dengan komunitasnya, dan perusahaan dengan internalnya. Ironisnya di tengah keterbatasan pengetahuan dan keterampilan, mereka dituntut membuat perusahaan menjadi lebih baik dan lebih efektif dalam aspek komunikasi dan persuasi atau promosi.

Secara strategi bisnis, perusahaan multinasional umumnya memiliki tingkat awareness lebih tinggi tentang kebutuhan pelatihan karyawan dibandingkan perusahaan lokal. Buktinya, banyak kasus bajak-membajak antar sesama perusahaan lokal. Artinya, perusahaan enggan melakukan pengembangan karyawan secara internal.

Ini peluang sekaligus tantangan bagi Imago untuk membangun kesadaran perusahaan lokal. Salah satu upaya edukasi yang dilakukan adalah bekerja sama dengan asosiasi periklanan, Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I) melalui pemberian pelatihan kepada anggota asosiasi. “Saat ini peserta kursus di Imago sekitar 60%–70% berasal dari biro iklan, sedangkan sisanya sekitar 30%–40% dari multi-industri, seperti perusahaan media dan telekomunikasi,” terang Ridwan.

Moh. Agus Mahribi

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top