Portal Lengkap Dunia Marketing

Ad Madness

Career Center dan Ujian Internasional Jadi Selling Point Bagi London School of Public Relations

shutterstock_189440984Sebagai lembaga pendidikan yang sudah dikenal luas melahirkan banyak profesional di bidang komunikasi massa seperti PR dan marcomm, London School of Public Relations juga turut memajukan dunia periklanan Indonesia dengan membuka jurusan Advertising.

Industri periklanan merupakan salah satu bagian yang tidak bisa terpisahkan dari dunia komunikasi. Permintaan terhadap sumber daya manusia (SDM) dalam dunia advertising pun cukup tinggi dan diperkirakan akan terus berkembang di masa yang akan datang.

Di Indonesia sendiri, belanja iklan perusahaan-perusahaan semakin meningkat, iklan di internet maupun di media sosial juga naik cukup tajam. Hal inilah yang mendorong peningkatan kebutuhan terhadap profesional dalam dunia periklanan.

Namun, dibutuhkan kemampuan dan keterampilan yang memadai untuk mempersiapkan seseorang yang ahli dalam dunia ini. Oleh karena itu, sekarang banyak sekolah tinggi yang mencoba untuk memfasilitasi dan mendidik tenaga ahli yang kompeten dan mampu bersaing dalam dunia advertising. Salah satunya, London School of Public Relations (LSPR) Jakarta.

Nama Sekolah Tinggi Komunikasi (STIKOM) London School of Public Relations cukup populer di masyarakat, karena banyak menghasilkan SDM di bidang komunikasi massa seperti public relations (PR) dan marketing communications (marcomm). Seiring perkembangan zaman, lembaga ini juga menghasilkan banyak SDM di bidang periklanan yang cukup mumpuni.

Menurut Gesille S. Buot, Dekan Digital Media Communication & Advertising LSPR Jakarta, setiap tahun LSPR Jakarta menerima sekitar 1.000 mahasiswa dan yang memilih jurusan Advertising berkisar 70–80 siswa.

Pada semester 1 dan semester 2, setiap mahasiswa mendapatkan pendidikan dasar mengenai dunia komunikasi, dan di semester 3 mereka mulai memilih jurusan. “Biasanya siswa yang memilih jurusan Advertising lebih menyukai dunia kreativitas dan tertarik pada hal-hal yang bersifat visual,” imbuhnya.

Materi yang diajarkan di LSPR Jakarta pun sangat variatif, kurikulumnya disesuaikan dengan kebutuhan industri yang ada. Mata kuliah yang diberikan di jurusan Advertising di antaranya Creative Thinking, Visual Design Communication, Copywriting, Digital Design, Advertising Online & Multimedia Design, Television Commercial, Entrepreneurship in Creative Industry, dan Strategic Branding.

Materi yang diajarkan tetap berdasarkan teori, namun secara praktis merupakan tujuan akhir yang sekolah harapkan dari para siswa. “Kami mengharapkan siswa dapat memiliki basic conceptual yang kuat dari ilmu yang sudah ada dan dapat mengimplementasikannya langsung ke dalam dunia praktis,” kata Gasille.

Dia juga mengungkapkan, sebagai diferensiasi dengan sekolah tinggi lainnya, LSPR Jakarta memiliki Department Career Center yang merupakan salah satu jembatan bagi siswa untuk masuk ke dunia kerja. Selain memfasilitasi siswa dalam mencari pekerjaan, Career Center juga merupakan “jendela” bagi LSPR untuk mengetahui kebutuhan industri yang ada.

Jadi, sebelum masuk ke dalam dunia magang sekalipun, siswa telah dibekali berbagai macam training yang dapat men-support mereka di dunia kerja. Bekal materi yang mereka terima dari mata kuliah yang diajarkan ditunjang juga dengan praktik dan pelatihan yang dapat mendukung siswa secara menyeluruh.

Sementara itu, Olivia D. Hutagaol, Assistant Dekan Digital Media Communication & Advertising LSPR Jakarta, menambahkan, jurusan Advertising LSPR Jakarta memang memiliki beberapa ujian internasional oleh City & Guilds untuk mata kuliah English Communication, TV Commercial Production, dan Commercial Publication.

Hal ini dianggap penting, karena ujian internasional merupakan standarisasi kemampuan siswa secara internasional. Artinya, siswa mampu memiliki keterampilan dan mampu berkompetisi secara global di dunia internasional.

Adapun untuk tenaga dosen, sebagian besar berasal dari dunia praktis dan sebagian besar lagi dari dunia akademis. Olivia menjelaskan, ketika mahasiswa lulusan dari Advertising memasuki dunia kerja atau praktis, yang dibutuhkan bukan semata-mata teori, namun harus ada kemampuan dan keahlian. STIKOM LSPR Jakarta sendiri berusaha mempersiapkan SDM untuk menghasilkan lulusan berdaya saing tinggi.

Keterlibatan kalangan praktisi ataupun pengajar dari dunia praktis adalah untuk mengetahui kebutuhan industri yang terus berkembang. Materi-materi yang diajarkan dari dunia praktis membantu mahasiswa untuk memahami fenomena-fenomena dalam dunia kerja industri periklanan dan aspek teknis yang ada di dalamnya. “Jadi, kurikulum yang diajarkan harus berdasarkan kompetensi, tetapi tetap mengandung hakikat pendidikaan,” imbuh Olivia.

Ia juga mengungkapkan bahwa jurusan Advertising semakin dibutuhkan di masa depan, mengingat prospek periklanan di Indonesia cukup menjanjikan. Menurutnya, belanja iklan di Indonesia dewasa ini meningkat cukup positif.

Selain itu, perkembangan dunia digital yang sangat pesat tidak bisa dihindari dan dijadikan salah satu media oleh perusahaan-perusahaan untuk beriklan. “Perkembangan-perkembangan seperti inilah yang akan menjadi peluang besar bagi dunia komunikasi dan periklanan khususnya, untuk berkembang pesat,” tutur dia.

Lebih lanjut Olivia mengatakan, kualitas profesional periklanan di Indonesia dewasa ini sangat mampu bersaing dengan profesional periklanan dari mancanegara. Terbukti tidak sedikit orang Indonesia yang bekerja dalam dunia kreatif di mancanegara.

Tumbuhnya agen-agen kreatif dari mancanegara di Indonesia mendorong perkembangan sektor kreatif dan juga mendorong SDM nasional untuk terus maju agar dapat berkompetisi. Oleh sebab itu, STIKOM LSPR Jakarta terus melakukan berbagai macam inovasi dan memberikan materi pendidikan yang berkualitas untuk memenuhi profesional periklanan yang bisa bersaing dengan luar.

“Saat ini, profesional periklanan di Indonesia sudah cukup dihargai. Pendapatan yang diperoleh rata-rata dapat disamakan dengan tenaga luar. Hal ini juga didukung banyaknya agensi periklanan luar masuk ke Indonesia, sehingga mereka juga memiliki standarisasi terkait fee SDM-nya,” pungkas Olivia.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top