Portal Lengkap Dunia Marketing

PR Hype

Cara Nge-Tweet yang Baik dari Sang Ahli

Maisel Megan, nge-tweet yang baik

Maisel Megan

Media sosial memang tengah menjadi ruang publik, yaitu setiap individu bisa mengakses dan memberikan komentarnya dengan sesuka hati. Tapi jika Anda termasuk salah satu diantaranya, maka pikirkan lagi. Karena menurut ahlinya, ada cara nge-tweet yang baik.

Terutama bila kicauan yang Anda keluarkan mengusung merek perusahaan. Maka ada beberapa hal perlu Anda perhatikan agar tweet Anda banyak disukai, di klik link-nya, hingga banyak mendapat retweet dari masyarakat.

Berikut adalah beberapa diantaranya menurut Megan Maisel. director of integrated media communications di University of Texas dan MD Anderson Cancer Center, seperti yang dilansir dari PR News Online.

  1. Sesuaikan dengan merek

Apa bentuk produk yang Anda tawarkan? Siapa target market Anda? Bagaimana karakter merek Anda? Berbagai pertanyaan seperti itu perlu dijawab untuk menentukan gaya tweet merek Anda.

Misalnya, merek Anda mengusung batik eksklusif untuk kalangan atas. Maka Anda bisa melontarkan tweet-tweet seputar wawasan budaya dan nasionalisme, tapi dengan pilihan kalimat/kata yang elegan.

“Pertama-tama, merek harus mengidentifikasi dan memahami audiens dengan sangat baik. Itu akan menjadi informasi untuk konten mereka,” terang Megan.

  1. Hashtag yang banyak dicari

Kita semua tahu bahwa hashtag digunakan untuk memudahkan publik dalam mencari sesuatu yang sesuai dengan kata kunci (hashtag tersebut). Jadi berikan hashtag yang sekiranya banyak diketik oleh masyarakat.

Tidak hanya itu, Anda juga perlu menggunakan hashtag bisa memicu interaksi khalayak. Satu hal yang menjadi aturan dalam memberi hashtag adalah, jangan memberikan banyak hashtag dalam satu tweet. Usahakan tidak lebih dari dua.

“Saya pikir menggunakan hashtag akan meningkatkan platform media sosial lainnya,” kata Megan.

  1. Jangan samakan dengan platform lain

Karakteristik yang berbeda dari masing-masing media sosial harus Anda pahami. Untuk itu, jangan memberikan tweet yang sama dengan yang dilontarkan di Facebook. Apa lagi bila Anda menggunakan sistem auto, misalnya postingan di Facebook secara otomatis tampil di Twitter, atau sebaliknya.

Dan permasalahan kedua menurut Megan adalah, “Ketika merek hanya me-retweet apa yang orang lain katakan tentang mereka.” Ini salah, seharusnya mereka memberi jawaban agar terjadi interaksi dua arah.

Dalam memberikan tweet memang tidak ada aturan yang baku, tapi Anda harus bisa memberikan, apa yang pelanggan butuhkan.

Sumber: PR News Online | Foto: Digital PR Summit

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top