Botol Susu Bayi, Pasarnya Tidak Seimut Target Market-nya

[Reading Time Estimation: 2 minutes]

Marketing.co.id – Tingkat kelahiran bayi di Indonesia cenderung tinggi dan stabil. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai “lahan basah” bagi produk-produk perlengkapan bayi. Terlebih lagi, jumlah keluarga dengan double income di Indonesia terus meningkat.

Biasanya, para ibu yang pertama kali memiliki bayi (first moms) lebih impulsif dalam hal berbelanja, dibanding mereka yang mempunyai bayi kedua, ketiga, dan seterusnya.

Ibu-ibu seperti ini sudah masuk taraf membeli lebih melihat fungsi, semisal satu produk baru dibeli jika kegunaannya beraneka ragam. Sementara untuk first moms, produk sejenis bisa dibeli dalam jumlah banyak dengan merek dan desain yang berbeda.

Peluang lainnya nampak dari kebiasaan memberi hadiah kepada kerabat yang baru melahirkan. Dua segmen ini, yaitu orang tua dan konsumen yang membeli produk untuk hadiah, adalah customer potensial yang wajib digarap oleh para pelaku produk perlengkapan bayi, mengingat potensi pasarnya cukup besar.

Saat ini ada lebih dari 10 merek yang beredar di pasar. Bila dikelompokkan, terbagi atas empat kategori.

·         Kategori baju bayi termasuk popok.

·         Kategori bedding – tas, selimut, bantal, gendongan.

·         Kategori aksesoris – dot, mainan, botol susu, bedak.

·         Kategori furnitur, seperti ranjang bayi.

Berdasarkan data Top Brand yang dirilis Frontier Consulting Group, ada empat pemain besar yang bersaing ketat di kategori botol susu bayi, yaitu Pigeon, Huki, Dodo, dan Cussons.

Selama ini Pigeon masih memimpin dengan perolehan Top Brand Index sebesar 62,1%, jauh meninggalkan Baby Huki yang berada di posisi kedua dengan perolehan Top Brand Index sebesar 27%, kemudian Cussons dan Dodo.

“Salah satu kunci kesuksesan kami terletak pada kelengkapan produk. Dimulai dari produk perawatan ibu hamil, melahirkan sampai menyusui,” ujar Head of Marketing Pigeon Baby & Teens Division PT Multi Indocitra Tbk Anis Dwinastiti kepada majalah MARKETING.

Bila ditotal, produk Pigeon mencapai 300-an. Itu sebabnya ekuitas merek ini kuat, bahkan telah menjadi heritage brand.

“Saat kami melakukan FGD (Focus Group Discussion), banyak partisipan mengaku mengenal produk Pigeon sejak mereka kecil. Jadi, kami menyentuh konsumen dimulai dari mereka masih bayi, anak-anak, sampai remaja dan menjadi ibu kembali,” tandas Anis.

Selama ini, Pigeon sering memanfaatkan majalah keluarga dalam berkomunikasi. Menurut hasil risetnya, beriklan di majalah tergolong efektif dalam mempromosikan produk perlengkapan bayi.

Target market kami first moms yang cenderung mencari referensi sebanyak-banyaknya, dari majalah, selain media online tentunya,” terang perempuan energik ini.

Di media sosial, Pigeon juga aktif berkampanye, seperti menggelar lomba foto sampai tips-tips seputar kehamilan dan menyusui. Dalam waktu dekat akan diluncurkan juga situs yang memfasilitasi para ibu untuk berkonsultasi.

Tujuannya untuk mempererat engagement. Selama ini pelanggan Pigeon saling berinteraksi di www.pigeon.co.id, selain melalui media sosial. Di situs tersebut, ada menu “Our Community”, tempat para ibu biasanya bertanya dan membagi pengalaman.

“Persaingan di pasar produk perlengkapan bayi sangat ketat. Banyak pendatang baru yang bermain di satu atau dua kategori produk. Untungnya, Pigeon memiliki range produk yang lengkap. Di Indonesia, tidak banyak pemain yang selengkap Pigeon,” ujar Anis.

Keunggulan Pigeon bukan hanya  terletak pada produk, tetapi juga dari sisi distribusi. Saat ini, Pigeon memiliki 16 showroom sendiri. Rencananya, tahun ini Pigeon akan membuka dua gerai lagi di Jakarta.

Sumber: majalah MARKETING

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here