Portal Lengkap Dunia Marketing

Marketing

Body, Brand and Brain

Forum ilmiah, populer, dan ilmiah populer, rasanya sudah tidak banyak beda satu sama lain. Setidaknya soal pertanyaan yang saya dapat dalam sebulan ini.  Ada satu pertanyaan yang hampir seragam dari forum tersebut. Begini pertanyaannya, ”Bagaimana personal branding Jupe bisa menembus sekat-sekat sosial?” Bukankah yang namanya segmentasi personal branding harus fokus pada satu target utama?

Jupe, alias Julia Peres, mendadak sontak menjadi kehebohan di banyak lini komunikasi, karena kejelian partai Hanura untuk mengajukan dia sebagai calon bupati di Pacitan. Partai lain pun menolak, beberapa organisasi wanita juga menuntut hal yang sama. Sementara itu, di Twitter, para penggunanya saling berbagi gambar “kampanye” Jupe demi masa depan Pacitan. Ehm, masa depan Pacitan jadi heboh gara-gara massa depan Julia Perez.

“Massa depan”, bukan “masa depan” dengan satu huruf “s”, memang atribut yang paling mudah untuk mengeluarkan merek dari kerumunan suara. Saat seluruh partai mencalonkan artis, Hanura segera melesat dari kerumunan pencalonan artis dengan Jupe yang memang memiliki massa depan yang cerah.

Pacitan, yang bahkan sebetulnya adalah daerah kelahiran SBY, jadi melesat sebagai perbincangan sehari-hari. Saat Jupe bilang akan mengembangkan pariwisata Pacitan, sorot kamera pun berlomba mengarah pada potensi wisata Pacitan yang berupa pantai indah.

Sebelumnya? Ehm, bahkan SBY pun tidak bisa mendongkrak brand Pacitan dalam ranah nasional. Sekarang? Dengan pancalonan Jupe, awareness kita terhadap Pacitan pun semakin kuat.

Pertanyaan berikutnya, kenapa kesadaran destination branding lain tidak sehebat Pacitan? Toh, mereka memiliki artis yang tidak kalah terkenal. Lantas, apakah Jupe juga bisa membawa merek Pacitan pada tataran kredibilitas?

Formasi Tempur Sensualitas

Seperti halnya anatomi tubuh manusia, merek juga memiliki senjata praktis untuk melambungkan namanya. Sensualitas adalah salah satunya. Sensualitas itu seperti tamparan menyenangkan yang membuat publik berpaling. Tidak semuanya senang memang, ada yang protes. Mungkin karena namparnya di depan publik.

Itulah kekuatan massa depan. Sensualitas memang senjata paling ampuh untuk mendongkrak awareness. Kalau dalam formasi tempur, sensualitas adalah bendera dan genderang tempur sebuah pasukan. Sensualitas membuat target market menoleh, bahkan terpana sejenak.

Nah, adalah saatnya pasukan penggempur yang melanjutkan tugas. Bila memang Pacitan ingin menjadikan dirinya sebagai destination branding, setelah brand awareness diisi oleh bodi Jupe, maka saatnya untuk membangun brand Pacitan dengan brain. Apa sih keunggulan Pacitan yang sebenarnya, hingga investor menjadi tertarik?

Tapi, saya berani tebak, Pacitan belum memiliki pasukan tempur pencitraan sekarang. Karena, Jupe bukanlah pengibar bendera yang dibawa oleh pemda Pacitan. Bahkan bisa jadi, Jupe dianggap sebagai kompetitor dari pemerintah incumbent, mengingat yang mencalonkan dia bukanlah partai pemenang pemilu.

Sekalipun begitu, sebetulnya inilah saatnya pemda Pacitan memanfaatkan buzz boosting yang dilakukan oleh Jupe. Terlepas bahwa Jupe didesain atau tidak, tapi rencana pencalonan dia telah mengangkat awareness kota Pacitan ke pembicaraan level nasional. Bahkan di Twitter pun, isu ini begitu seru. Sampai kirim-mengirim gambar kampanye tadi.

Akibatnya bisa parah kalau Pacitan tinggal diam dengan situasi ini. Nanti nasib Pacitan akan sama dengan Pati; yang dianggap sebagai kota paranormal. Sekalipun di Pati, sebetulnya banyak terdapat pesantren yang berpengaruh, dan memiliki banyak potensi wisata.

Pacitan Kota Sensual

Kalau Pacitan memilih diam dengan kibaran bendera Hanura yang mengibarkan Jupe sebagai calon bupati, maka citra sensualitas akan menjadi kuat. Tidak ada yang salah dengan kibaran bendera Jupe karena Pacitan menjadi pembicaraan saat ini. Hanya saja, Pacitan juga harus menggerakkan panglima perang pencitraannya, biar masyarakat yang sekarang sedang terpana langsung bisa berujar, ”Oh, ternyata keren ya, Pacitan.” Dan investor pun langsung bergerak mencari kesempatan ekonomi di sana.

Kendaraan pencitraan sudah diberangkatkan oleh Jupe. Pacitan sudah menjadi bahan pembicaraan sekarang. Saatnya untuk membuat kendaraan itu tidak hanya bergerak, tapi juga membawa pesan-pesan lain yang mampu memajukan ekonomi daerah Pacitan. Bisa pariwisata, ataupun investasi potensi daerah lainnya.

Pacitan pernah diam saja, tidak bergerak ketika SBY memopulerkan kota tersebut sebagai tempat kelahiran dia. Sekarang, rasanya ini kesempatan berikutnya bagi Pacitan melakukan destination branding.

Kecuali memang jika Pacitan memilih untuk diasosiasikan sebagai kota sensual karena keberadaan Juppe. Sayang jugalah kalau begitu. Bukankah di Pacitan juga ada pondok pesantren Tremas, dimana SBY juga dilahirkan di sana.

Mari kita tunggu, bagaimana tim pencitraan Pacitan bergerak menunggangi kendaraan yang telah dilajukan oleh Jupe. (Majalah MARKETING)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top