Bidik Segmen Niche Produk Kesehatan dan Kecantikan

0
3504
gogobli
Joe Hansen, Chief Operating )fficer Gogobli.com

Melalui teknologi, Gogobli menjadi wadah yang efektif bagi principal, peritel, dan tentu saja konsumen guna menunjang pertumbuhan pasar kecantikan dan kesehatan.

gogobli
Joe Hansen, Chief Operating Officer Gogobli.com

Tidak banyak yang tahu, selain fashion dan gadget, potensi pasar kesehatan & kecantikan online di Tanah Air sangatlah besar. Berdasarkan hasil survei Euromonitor International (tahun 2015), nilai ekspor kosmetik Indonesia mencapai sekitar Rp11 triliun. Bahkan negara-negara berkembang termasuk Indonesia memberi kontribusi sebesar 51% bagi industri kecantikan global. Diproyeksikan Indonesia akan menjadi pasar pertumbuhan utama untuk industri kecantikan pada tahun 2019.

Pun sama halnya dengan industri kesehatan (farmasi). Menurut GM Quintilies IMS Indonesia, pasar farmasi Indonesia mengalami petumbuhan tercepat di Asia Tenggara rata-rata 20,6% per tahun periode 2011─2016 dengan lebih dari 239 perusahaan farmasi. Selain itu, kontribusi sektor farmasi sekitar 27% dari total pangsa pasar farmasi ASEAN.

Besarnya kebutuhan yang sama juga diperkirakan terjadi pada pasar kosmetik dan kecantikan via online. Tak pelak banyak pemain yang ramai-ramai ambil bagian ke channel digital. Salah satunya adalah ecommerce Gogobli.com. Berbeda dari kompetitornya, Gogobli mengusung positioning sebagai platform online produk kesehatan dan kecantikan yang menghubungkan konsumen, toko, dan principal, secara business to business (B2B) dan business to consumer (B2C).

“Di Gogobli.com kami menjembatani principal, toko, dan konsumen. Kini produsen besar atau kecil (UKM) mempunyai kesempatan yang sama untuk mendistribusikan barangnya melalui platform Gogobli ke semua outlet yang ada. Selain itu, UKM yang tidak memiliki SDM pun dapat melakukan penetrasi produk secara nasional melalui Gogobli,” ungkap Joe Hansen, Chief Operating Officer Gogobli.com.

Dari segi produk, Gogobli menawarkan puluhan ribu produk kecantikan dan kesehatan mulai dari skin care, make up, body care, vitamin, suplemen, ragam jamu (produk herbal Indonesia), produk herbal China, hingga alat-alat untuk memeriksa kesehatan. Semua produk tersebut, menurut Joe, sudah orisinil dan sudah melalui saringan BPPOM. Saat ini layanan e-commerce Gogobli telah memiliki lebih dari 200 principals, 11.500 member B2B, serta jumlah pengguna B2C mencapai angka 2.000, dan terus bertambah setiap harinya.

“Kami memahami hal-hal yang mungkin membuat orang ragu untuk berbelanja online, terutama untuk produk-produk kesehatan dan kecantikan. Kami ingin pelanggan di Indonesia yakin bahwa Gogobli.com menjamin kualitasnya. Gogobli.com sendiri mengawasi dengan ketat produk-produk yang hendak dijual ke masyarakat demi memastikan bahwa hanya produk dengan kualitas terbaik dan orisinil yang akan diterima oleh pelanggan Gogobli.com,” papar Joe.

GOGOBLI

Bagi konsumen, cara berbelanja di Gogobli layaknya ecommerce lainnya. User harus login terlebih dahulu di website Gogobli.com. Saat ini Gogobli masih belum menyediakan aplikasi di Android dan iOS, masih sepenuhnya mengandalkan situs web, namun sudah mobile-friendly. User kemudian memilih produk kecantikan dan kesehatan yang diinginkan, memilih metode pembayaran, melakukan pembayaran, lantas menunggu pesanan tiba. Untuk memudahkan proses logistik, Gogobli mengklaim telah memiliki tim internal sendiri, dibantu pihak ketiga untuk mempercepat proses pengantaran. Terkait metode pembayaran, Gogobli masih memanfaatkan transfer bank dan kartu kredit.

Sementara bagi pemilik toko atau ritel, mereka cukup satu klik untuk memesan produk tanpa minimum kuantitas dan langsung diantarkan hingga ke daerah yang tidak dijangkau oleh principal. Berbeda dari user, pemilik toko sudah difasilitasi dengan aplikasi smartphone Gogobli. Joe memiliki alasan Gogobli belum membuat aplikasi untuk B2C seperti aplikasi untuk Android dan iOS. Menurutnya, Gogobli menargetkan quality performmance index (QPI) terlebih dulu agar ketika aplikasi dibuat benar-benar menguntungkan bagi Gogobli.

“Saat ini anggota B2C ada 5.000 orang, kami harus mencapai target QPI yang sudah menjadi standar kami dulu. Kami memperkuat user base di website terlebih dahulu agar nanti saat aplikasi hadir akan diunduh oleh user yang benar-benar loyal,” terang Joe.

Soal funding, Gogobli.com telah berhasil meraih jutaan dolar dalam putaran pra-seri A yang dipimpin oleh OSK Ventures International Bhd. Ke depannya, Joe menargetkan total perolehan dana US$50 juta hingga US$100 juta dari investor melalui funding seri A. Selain itu, peningkatan jumlah ritel yang bergabung hingga lebih dari 100.000 toko di pengujung tahun 2019.

Angelina Merlyana Ladjar

MM.05.2017/W