News & Event

Astra Otoparts Cetak Pendapatan Bersih Rp 13,5 triliun

Sepanjang tahun 2017, produsen suku cadang kendaraan bermotor PT Astra Otoparts Tbk membukukan Pendapatan Bersih (Net Revenue) sebesar Rp 13,5 triliun, meningkat 5,8% dibandingkan pendapatan bersih pada tahun 2016 sebesar Rp 12,8 triliun.

Peningkatan pendapatan bersih terutama disebabkan oleh naiknya penjualan produk sebesar 2,5% di pasar pabrikan otomotif (Original Equipment Manufacturer/OEM) untuk kendaraan bermotor roda empat dan roda dua. Peningkatan pendapatan bersih juga ditopang oleh  kenaikan sebesar 9,7% untuk suku cadang pengganti (Replacement Market/REM) di pasar domestik maupun internasional.

Beban Usaha (Operating Expenses) tahun 2017 sebesar 1,4 triliun atau cenderung stabil dibandingkan beban usaha tahun 2016. Kenaikan beban penjualan Perseroan sebesar 1,5%, dapat diimbangi dengan efisiensi dan kontrol biaya secara cermat di seluruh unit Perseroan, ditengah meningkatnya upah minimum dan biaya karyawan untuk mendukung kegiatan pemasaran dan perluasan segmen penjualan.

Peningkatan Pendapatan Bersih Astra Otoparts dibayangi kenaikan bahan baku sepanjang tahun 2017 lalu. Sebagaimana disampaikan Baskoro Santoso, Head of Treasury dan Investor Relatioship Department Astra Otoparts, periode Januari 2017 hingga Desember 2017 kenaikan bahan baku mencapai sekitar 30%. “Bahkan, beberapa bahan baku kenaikannya lebih dari 30%,” tuturnya di sela-sela Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Jakarta, Jumat (14/4).

Baskoro menambahkan, beberapa bahan baku masih harus diimpor, salah satunya baja. Baja masih diimpor dari Nippon Steel, Jepang. Ketergantungan baja impor diharapkan bisa dikurangi setelah ada kerjasama antara Krakatau Steel dengan Nippon Steel. “Krakatau Steel baru MoU dengan Nippon Steel untuk memproduksi baja untuk otomotif, tapi sekarang belum ready berproduksi,” tuturnya.

Kenaikan bahan baku menyebabkan meningkatnya biaya produksi. Untuk mengatasi hal ini, Astra Otoparts kata Hamdhani Dzulkarnaen Salim, President Direktur melakukan efisiensi dan penguatan ekspor. Suku cadang ‘made in’ Astra Otoparts sudah berhasil menembus pasar Filipina dan Vietnam. “Aspira dan Aspira Premium sudah diekspor ke Vietnam,” ucap Hamdhani.

Hanya saja tantangan untuk menembus pasar eskpor juga tidak mudah, karena Astra Otoparts harus bersaing dengan suku cadang otomotif buatan Tiongkok, India, dan Korea Selatan. “Mereka punya kapasitas yang cukup besar untuk memproduksi komponen, makanya cukup menantang juga bagi kita untuk ekspor, tapi kenyataannya tahun lalu kita melakukannya,” jelas Baskoro.

Tahun ini, Astra Otoparts aakan menggelontorkan dana hingga Rp800 miliar untuk belanja modal (capex). Belanja modal sebesar itu untuk mengantisipasi pengembangan produk dari pabrikan otomotif. Baskoro mengatakan, tahun ini beberapa pabrikan mobil akan merilis model baru. “Toyota akan mengeluarkan facelift model lama seperti Vios dan Yaris,” kata Baskoro.

RUSPT memutuskan mengangkat Yusak Kristian Solaeman sebagai Direktur Independen Perseroan dan Wanny Wijaya sebagai Direktur Perseroan yang baru, untuk masa jabatan hingga 2019.

Dewan Direksi PT Astra Otoparts Tbk saat mengumumkan pergantian Direksi bersamaan dengan RUPS yang diselenggarakan di Jakarta, 13 April 2018. Hugeng Gozali (paling kanan) digantikan oleh Wanny Wijaya (kedua dari kanan) sebagai Direktur. Sedangkan Yusak Kristian Solaeman (paling kiri) menjabat sebagai Direktur Independen. Presiden Direktur tetap dijabat oleh Hamdhani Dzulkarnaen Salim (tengah). Foto: majalah MARKETING/Lialily.

Adapun susunan anggota Direksi Perseroan yang baru sebagai berikut: Presiden Direktur: Hamdhani Dzulkarnaen Salim,  Direktur Independen: Yusak Kristian Solaeman, Direktur:  Aurelius Kartika Tan,  Direktur : Lay Agus,  Direktur : Kusharijono,  Direktur: Agus Baskoro,  Direktur : Wanny Wijaya

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top