Portal Lengkap Dunia Marketing

XXX Ad Madness

Asal Unik Pasti dilirik

www.marketing.co.id – Membuat iklan tidak selalu memerlukan bujet besar. Terpenting adalah mampu diingat konsumen hingga menjadi topik pembicaraan yang menarik. Caranya?

Sebuah iklan dapat menjual apabila iklan tersebut menginformasikan keunikan atau keunggulan produk yang diiklankannya dibanding dengan produk pesaing sejenis. Keunggulan yang ditampilkan harus mampu memengaruhi rasional dan emosional target audience-nya.

Bagaimana caranya? Mulailah dari pemilihan kata, pesan iklan yang orisinil akan lebih cepat ditanggapi dan diingat oleh audience. Terlebih jika didukung visual yang eye catching, iklan tersebut pun akan mempunyai stopping power yang besar dibandingkan iklan lainnya.

“Untuk membuat iklan yang seperti itu, tidak selalu harus dengan bujet yang besar. Semua bergantung pada kreativitas dan kepandaian memanfaatkan momen,” kata Andy Gusena, CEO Endee Communication.

Berikut ini, menurut Andy adalah kriteria yang kudu diperhatikan oleh para pengiklan sebelum menayangkan iklannya ke berbagai media. Pertama, iklan harus mudah diingat. Kalau bisa, sekali mendengar atau membaca pesan, audience langsung ingat brand produk tersebut. Kedua, saling berkaitan, jadi ketika menciptakan nama brand, hendaknya yang berkaitan dengan fungsi atau manfaat produk. Hal ini akan memudahkan audience menghubungkan brand itu dengan masalah yang sedang dihadapi. Misalnya nama brand “Sanaflu” sebagai pengusir sakit flu, atau nama brand “Lelap” sebagai obat bagi orang yang susah tidur.

Kriteria ketiga adalah dapat menghibur. Setiap hari, kata Andy, audience digempur oleh puluhan iklan yang didengar dan dilihat. Untuk itu, pengiklan harus membuat sebuah iklan yang menghibur dan unik agar mudah tertancap lama di benak audience. Bahkan, lebih bagus lagi sampai dibicarakan (word of mouth).

Kemudian, dalam pemilihan ambassador, yang kudu diperhatikan pengiklan pertama-tama ialah segmentasi pengguna produk. Selanjutnya, ambassador tersebut harus memiliki karakter, gaya hidup, pemikiran, dan fisik yang dapat mewakili personality dari produk yang diusungnya.

“Misal, ketika hendak mengiklankan sepeda motor dengan tampilan model yang gagah dan sportif, sebaiknya endorser yang dipakai berasal dari kalangan olahragawan, bintang film laga, serta tokoh lain, yang menunjukkan kemaskulinan, bukan malah memakai seorang komedian walaupun dia sedang naik daun,” ujar Andy.

Mengenai pemilihan media atau aktivasi media, yang terpenting adalah terlebih dahulu mengidentifikasi masalah produk tersebut. Dengan mengidentifikasi masalah, perusahaan dapat merespons melalui berbagai pendekatan yang proporsional—terkait pemilihan media tentunya—baik yang berhubungan dengan jenis media maupun yang terkait dengan media coverage. Contoh, sebuah produk sedang mengalami permasalahan dalam hal penyerapan pasar, maka langkah yang tepat yakni mengkaji lebih dalam soal pemilihan media guna mencapai cakupan yang diinginkan—apakah lokal atau nasional, tergantung kebutuhan dan objektif dari rencana marketing yang ingin dituju.

Terkait tren media online, Andy mengatakan bahwa pemilik merek harus mampu memanfaatkan berbagai kelebihan yang dimiliki oleh media ini. Media online memungkinkan produsen untuk berkomunikasi dengan audience, menangkap insight dan ekspektasi audience terkait produk. Tentu saja, masukan dari audience akan sangat membantu dalam menentukan berbagai kebijakan produk pada masa yang akan datang untuk memenuhi kebutuhan dan harapan audience terhadap produk.

Menurut Andy, tantangan terbesar yang kerap dihadapi di dunia periklanan ialah jika produk yang akan diiklankan merupakan produk yang sangat biasa, dan tidak mempunyai keunikan dibandingkan produk pesaing sejenis. Bila sudah demikian, biasanya harus diberikan pendekatan emotional benefit kepada target audience. Tujuannya agar audience dapat merasakan manfaat lebih dari produk tersebut. Contohnya, menanamkan, manfaat lebih “keren” jika konsumen memakai ponsel yang dapat diganti-ganti warna cover-nya, disesuaikan dengan warna busana yang dikenakan, atau merasa lebih wangi bila menggunakan parfum dengan aroma rempah-rempah.

Sebagai studi kasus, Andy menceritakan tentang fenomena handphone merek lokal buatan Cina. Saat ini, hampir semua produsen ponsel lokal-Cina melakukan pendekatan iklan yang hampir sama. Menggunakan endorser dan juga mengomunikasikannya dengan cara yang sama. Tampilan TVC dan gaya bahasa yang digunakan juga hampir sama. Namun, Cross Mobile Phone mencoba keluar dari clutter tersebut, dengan menggunakan strategi sebaliknya.

“Meskipun sasaran target sama, akan tetapi Cross berupaya mengomunikasikan dengan cara berbeda, 180 derajat bertolak belakang dari komunikasi para pesaingnya. Bagi Cross sebuah ponsel adalah prestige dari seseorang yang menggunakannya. Cross berani mengeksekusi iklan TVC-nya menggunakan talent bule,” tutur dia.

Dengan strategi itu, telah berhasil tercipta persepsi bahwa Cross adalah ponsel dengan kualitas standar Eropa. Klaim tersebut berdasarkan sertifikasi European yang diperoleh Cross, dan memang karena Cross sendiri juga pada awalnya beraliansi dengan produsen ponsel Alcatel. Dengan taglineIt’s Your Pride”—Hand Phone Kebanggaan Anda. (Andri Darmawan)

2 Comments

2 Comments

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    To Top