Portal Lengkap Dunia Marketing

Salesmanship

Apakah Krisis Ekonomi Itu Benar-benar Ada?

www.marketing.co.id – Saya tahu ini terdengar kontroversial, bahkan arogan. Tapi, agar lebih sensasional, saya akan menambahkan lagi, yaitu TIDAK ADA yang namanya krisis ekonomi!

Tidak percaya? Silakan baca penjelasan saya lebih lanjut…

Ya, pastinya ada masalah ekonomi global yang besar. Ya, ada KELESUAN pertumbuhan ekonomi di Indonesia akibat dari masalah ekonomi global ini. Ya, ada saat-saat yang penuh ketidakpastian—tidak pasti karena tak banyak orang yang bisa meramalkan berapa lama ini akan terjadi dan kapan kita akhirnya akan mulai melihat perbaikan. Untuk semua hal di atas—kelesuan ekonomi, penurunan kondisi ekonomi, ketidakpastian—YA. Tetapi KRISIS ekonomi? Saya tidak yakin krisis sudah melanda Indonesia.

Jadi, mengapa semua orang mengatakan bahwa saat ini ada “krisis”? Karena semua orang dibombardir dengan kata itu di mana-mana setiap hari—siaran TV pagi, koran pagi, radio, koran siang, majalah, berita malam, berita tengah malam, obrolan orang, bahkan para ahli dengan bebasnya menggunakan kata itu. Tampaknya Anda jadi ngetren kalau menyebutkan kata “krisis”. Kata tersebut bisa memberikan rasa penting, seakan-akan Anda up-to-date dengan berita. Izinkan saya mengingatkan Anda bahwa kata “krisis” adalah kata yang berbahaya dan bahkan sangat MERUSAK bila digunakan dalam mindset orang Indonesia.

Saya bukan pakar ekonomi, bukan juga psikolog. Saya hanyalah orang jalanan yang lebih suka memandang sesuatu dari sisi baiknya, yang lebih suka melihat apa saja yang mungkin, dan lebih suka mendukung daripada menghambat… Jadi, mengapa saya memilih berjuang melawan arus, melawan kepercayaan umum?

Berikut pendapat “sederhana dan tak ahli” dari saya. Persepsi saya tentang kata “krisis”—seperti kebanyakan orang Indonesia lainnya—adalah: sesuatu yang sangat-sangat pelik, tak tahu apa yang harus dilakukan, keadaan kehilangan ide, mulai panik, hampir putus asa, sangat suram, berharap yang terburuk… Bukankah itu gambaran yang didapat sewaktu kita berpikir tentang “krisis”?

Lalu, saya melihat keadaan sekitar (tolong koreksi bila saya salah), tapi tidak ada krisis. Memang ada kelesuan ekonomi, ketidakpastian, ada banyak pemecatan hubungan kerja… tapi masih belum ada krisis.

Sebagai tambahan, arti krisis itu relatif. Beberapa orang mungkin mengalami krisis paruh baya ketika berumur 50 tahun, beberapa lainnya mungkin malah mengalami saat-saat terbaiknya pada usia itu. Tergantung pada individu masing-masing.

Saya mungkin mengalami krisis ekonomi karena pesanan pelanggan berhenti. Saya mulai panik. Saya khawatir bagaimana saya bisa membayar pinjaman bank, bisa terus mempekerjakan 2.500 karyawan saya…

Tetapi, teman saya (kompetitor) sangat senang karena kelesuan ekonomi ini telah memberikan dia peluang untuk melakukan diversifikasi ke pasar lain,  meluncurkan produk baru dengan harga murah. Dia bernegosiasi dengan bankir untuk me-reschedule jadwal pembayaran pinjaman. Pihak bank setuju. Dia melepaskan 300 karyawannya yang kurang produktif dan meningkatkan kemampuan karyawan lain yang berpotensi.

Dia membuka 3 kantor lagi di Sumatera Utara, pasar yang lebih menjanjikan untuk bisnisnya. Dia sudah lebih bisa memanfaatkan teknologi. Para karyawannya punya waktu lebih (karena ada kelesuan ekonomi) untuk belajar keahlian baru dan beradaptasi dengan perubahan yang terjadi. Setelah training, mereka lebih termotivasi dan punya keahlian lebih untuk keluar dan mengalahkan kompetitor lain di saat-saat sulit. Mereka penuh semangat dan optimistis… krisis apa? Kelesuan ekonomi, iya. Krisis, tidak!

Krisis adalah milik mereka yang tanpa ide, tanpa rencana, dan tanpa harapan.

Dengan penjelasan ini, seseorang bisa saja mengalami krisis bahkan di saat keadaan ekonomi terbaik sekalipun!

Sekarang kembali pada Anda… Apakah Anda tengah menghadapi krisis? Bila jawabannya “ya”, berarti Anda memang sedang kehilangan ide tentang bagaimana bergerak maju.

Berikut saran saya untuk Anda:

  1. Fokus pada segala hal yang mungkin.
  2. Lakukan beberapa hal  di bawah ini:

a)    Negosiasikan ulang semua utang Anda. Jangan lari dari penagih utang. Tidak baik lari dari kenyataan, terutama melarikan diri dari utang. Kita semua bekerja. Kita semua tahu bahwa dalam pekerjaan, kadang kita untung, kadang rugi. Para pebisnis menghormati orang-orang yang berani MENGHADAPI masalah. Jadi, sebelum penagih utang mengejar, Andalah yang harus datang pada mereka duluan. Diskusikan secara profesional. Mereka bahkan akan membantu Anda. Begitu urusan dengan para penagih utang sudah selesai, pikiran Anda akan lebih bebas untuk memikirkan peluang-peluang lain. Lakukan ini DULU sebelum Anda mengerjakan yang lain. Setidaknya Anda bisa tidur lebih tenang (kalau punya utang kartu kredit, Anda bisa melakukan hal yang sama dengan pihak bank).

b)    Kenali pelanggan terbaik Anda. Berikut beberapa cara untuk mengategorikan pelanggan terbaik Anda, yaitu:

  • pelanggan yang memberikan banyak order.
  • pelanggan yang sering memesan dari Anda.
  • pelanggan yang terus setia selama bertahun-tahun.
  • pelanggan yang mereferensikan Anda.
  • pelanggan yang selalu membayar tepat waktu.

Kunjungi pelanggan-pelanggan ini. Perkuat hubungan Anda dengan mereka. Pastikan, dalam situasi sulit seperti sekarang ini, mereka TIDAK MENINGGALKAN Anda dan membeli dari kompetitor. Demi pendapatan Anda dan—lebih penting lagi—demi semangat tim, Anda harus menjaga mereka. Mempertahankan semua pelanggan terbaik dalam situasi sulit adalah PENDORONG SEMANGAT BESAR bagi para tenaga penjual. Tetapkan prioritas. Jagalah pelanggan terbaik Anda!

c)    “Kurva” ekonomi (ingat artikel terdahulu yang berjudul “Menyusul di Tikungan”) membuka banyak peluang bagi Anda untuk mendapatkan pelanggan baru atau mengambil alih pelanggan yang terabaikan oleh kompetitor. Mereka menelantarkan pelanggan karena:

  • Mereka menutup usaha mereka.
  • Mereka mengalihkan perhatian ke pelanggan terbaik mereka sehingga meninggalkan pelanggan lain, yang tersedia untuk Anda ambil alih.
  • Mereka mengalihkan perhatian ke pasar yang lain sehingga menelantarkan pelanggan dan pasar yang sekarang.
  • Mereka telah memperkecil skala bisnis, menelantarkan pelanggan yang kemudian menjadi tidak puas dan marah.
  • Mereka kesulitan memenuhi pesanan sehingga banyak pelanggan yang tidak puas. Inilah kesempatan bagus untuk masuk dan mengambil alih.

Kini Anda mendapatkan gambarannya… semua masalah kompetitor Anda adalah peluang bagus bagi Anda. Jadi, di mana fokus Anda? Mengeluhkan semua masalah, atau menelusuri pasar dengan mata elang mencari masalah orang lain supaya bisa Anda manfaatkan? Peluang selalu terbuka di mana ada perubahan. Dan, ini jelas-jelas saatnya ekonomi sedang berubah. Krisis? Peluang!

Pada edisi depan, saya akan memberikan Anda lebih banyak ide mengenai bagaimana bergerak maju dan menemukan peluang di tengah kelesuan ekonomi. (James Gwee T.H., MBA)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top