Apa Pun Alat Beratnya, AllMakes Suku Cadangnya

[Reading Time Estimation: 3 minutes]

Melalui AllMakes, United Tractors, salah satu raksasa dalam bisnis heavy equipment, semakin serius menggarap pasar spare parts alat berat.

Hasan J. Satyana, President Director PT Andalan Multi Kencana
Hasan J. Satyana, President Director PT Andalan Multi Kencana

Umumnya, pebisnis yang masuk ke dunia otomotif mesti mengembangkan bisnis “2S” lainnya selain sales, yakni service dan spare parts. Namun, mengembangkan bisnis spare parts genuine bukannya tanpa halangan. Persepsi orang terhadap spare parts genuine selalu saja mahal, sekalipun kualitasnya terjamin.

Di industri alat berat, banyak pengguna alat berat akhirnya membeli spare parts (suku cadang) di pasar sekunder, mencari suku cadang kelas dua dan non-genuine. Biasanya ini dilakukan mereka setelah masa maintenance habis. Dengan cara ini, mereka berharap bisa mendapat suku cadang dengan harga yang murah.

Namun demikian, pada akhirnya banyak pengguna alat berat merasa kecewa karena suku cadang yang mereka beli cepat sekali aus atau rusak. Padahal, produktivitas harus jalan terus.

Berangkat dari hal ini, suku cadang yang berkualitas namun terjangkau pun menjadi kebutuhan pengguna alat berat. Inilah salah satu sebab UT masuk ke industri yang satu ini.

“AllMakes merupakan cikal bakal kita masuk ke bisnis komoditas dan part development. Itu dimulai sejak tahun 2002, dari satu bentuk departemen, lalu divisi spare parts, sampai menjadi perusahaan sendiri seperti sekarang, dengan nama PT Andalan Multi Kencana,” kata Hasan J. Satyana, President Director PT Andalan Multi Kencana (AllMakes).

Kebutuhan akan suku cadang tentunya seiring dengan pertumbuhan jumlah alat berat itu sendiri. Diperkirakan tahun ini, bisnis alat berat akan meningkat cukup tinggi—hingga 67 persen—setelah dilanda kelesuan di tahun 2009 lalu. Pasar suku cadang kendaraan alat berat pun diperkirakan mengalami kenaikan 100 persen dibanding tahun sebelumnya. Bila dilihat dari nilai rupiah, pasar suku cadang alat berat mencapai puluhan triliun rupiah.

Hasan sendiri melihat bahwa potensi pasar ini teramat besar. “Saya tidak hanya melihat produk yang dikelola UT saja, tetapi juga alat berat lainnya,” kata Hasan. Pangsa pasar yang digarap UT saja baru 15 persen. Pemainnya pun termasuk banyak, mulai dari pemain di Asam Reges (sentra suku cadang di Jakarta), sampai pemain besar dari Singapura.

Ditambahkan oleh Supriyadi, Business & Management Development General Manager AllMakes, ke depannya AllMakes akan memilki peran dalam empat hal, yakni alternative part provider, material management provider, supply chain management, dan maintenance serta service provider. Pada akhirnya, AllMakes memang tidak sekadar jualan suku cadang, tetapi berkembang pula ke banyak hal. Salah satunya dengan membuka gerai ritel dan memberikan layanan maintenance.

Servis atau pelayanan memang sudah jagonya anak-anak perusahaan Astra. Demikian halnya dengan kualitas. Makanya, AllMakes terlihat percaya diri untuk masuk ke industri ini. Sekarang, tinggal bagaimana strategi menjual harga yang murah kepada end-user.

Tapi, Hasan tidak takut dalam soal yang satu ini. Jaringan luas yang dimiliki oleh AllMakes membuat perusahaan ini memiliki sourcing capability yang kuat. “Sekarang, kebanyakan customer itu sudah berorientasi pada direct to distributor besar atau manufacture. Nah, yang penting buat kita adalah bagaimana bisa menguatkan sourcing capability kita. Sehingga, barang-barang kita selalu dari sourcing direct to manufacturer. Otomatis harga kita bisa lebih kompetitif,” kata Hasan. Selain itu, dalam hal distribusi, AllMakes mempunyai lima depo besar yang ada di Pekanbaru, Banjarmasin, Balikpapan, Samarinda, dan Surabaya. Kemudian di bawah depo, mereka memiliki storage location, yang ditempelkan di network-nya UT, atau setiap cabang dari UT.

Supriyadi pun optimistis bahwa bisnis All Makes bisa berjalan dengan baik. “Asalkan ada pertambangan dan konstruksi, bisnis ini pasti berjalan baik. Nah, dalam konteks ini, UT sebenarnya sudah cukup mendominasi pasar. Selain itu, kebutuhan alat kan jalan terus dan selalu ada life cycle,” imbuh Supriyadi.

Bambang Agung Muljanto, Manager Business Development AllMakes, rupanya punya hitung-hitungan sendiri soal bisnis AllMakes. Bambang menyatakan bahwa AllMakes Channel saat ini memiliki 17 ribu line product yang siap menyuplai bermacam jenis suku cadang dari berbagai merek alat berat. Di antaranya, baterai, oli, hydrolic house, dan lainnya. Meski yang dijual meliputi banyak jenis, semua suku cadang tersebut masih masuk kategori common parts atau suku cadang umum yang bisa disubstitusi dengan non-OEM. “Tapi, beberapa merek yang ada di AllMakes juga ada yang merupakan OEM di berbagai merek alat berat,” tambah Bambang.

Tidak tertarik masuk ke ranah consumer market? Bambang mengatakan bahwa keinginan itu tidak tertutup kemungkinannya. “Kalau andal dipakai mesin alat berat, sudah pasti akan andal dipakai di mobil pribadi,” kata Bambang. Dia mencontohkan semprotan anti karat yang dimiliki AllMakes. Ternyata, alat tersebut ampuh juga dipakai untuk membersihkan karat di besi pagar. Juga radiator treatment-nya, tergolong tokcer untuk kendaraan pribadi.

Namun demikian, fokus ke B to B saja sudah cukup besar pasarnya. Ingat, yang dijual oleh AllMakes ini bukan hanya suku cadang untuk merek Komatsu saja—merek yang dikeluarkan UT, tetapi untuk banyak alat berat, seperti Caterpilar, Hitachi, Kobelco, dan lain-lain. Artinya, AllMakes sudah menjadi solusi total suku cadang untuk semua jenis merek. (Majalah MAEKETING/Ign. Eko Adiwaluyo dan Andri Darmawan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here