2 Hal yang Menyebabkan 7-Eleven Tumbang

[Reading Time Estimation: < 1 minute]

Seperti kita ketahui, manajemen PT Modern Internasional Tbk mengumumkan menutup seluruh gerai 7-Eleven per 30 Juni 2017.

7-eleven tumbangSelain persaingan bisnis ritel di Indonesia yang memang sangat ketat, menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, setidaknya ada 2 hal yang menyebabkan 7-Eleven tumbang, model bisnis dan terlalu mengandalkan profit perdagangan.

Model Bisnis

Model bisnis yang selama ini diterapkan 7-Eleven di Indonesia tidak sesuai. Meski dasar bisnisnya adalah ritel modern, 7-Eleven lebih banyak mengadopsi model bisnis restoran. Hal ini dinilai menjadi penyebab 7-Eleven tak mampu bertahan di tengah sengitnya persaingan bisnis ritel Indonesia. Tak Ubah Model Bisnis, Siap-siap Hilang dari Pasar.

Artikel Terkait:

9 Blok Bangunan Model Bisnis

Bagaimana Memilih Model Bisnis yang Tepat?

 “Sebenarnya itu adalah persaingan bisnis model. Group 7-Eleven bisnis modelnya lain, dia sebenarnya izinnya saja kelihatannya restoran dan selalu di pemukiman. Karena, restoran tidak boleh di restoran. Jadi bukan ritel,” terang Darmin dikutip Liputan6com.

Terlalu Andalkan Profit Perdagangan

Selain model bisnis, faktor lain yang menyebabkan 7-Eleven tutup adalah lantaran terlalu mengandalkan keuntungan dari barang-barang yang diperdagangkan. Padahal, bisnis ritel lain mengambil keuntungan dari biaya yang dikenakan kepada perusahaan yang menitipkan barangnya.

“Bisnis modelnya terlalu mengandalkan profit perdagangan. Kalau kita lihat yang lain seperti minimarket itu ambil profitnya sedikit sekali. Mereka mengambilnya dari perusahaan-perusahaan yang memasukan barang ke mereka, dikenakan charge. Sehingga, bisa diperkirakan ya kalah saing karena para pesaingnya lebih unggul,” ujar Darmin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here