Home » Marketing Management » Studi Kasus Sunsilk VS Red-A

Studi Kasus Sunsilk VS Red-A

June 21, 2013 12:41 pm by: Category: Marketing Management Leave a comment A+ / A-

Studi Kasus Sunsilk & Red-A

 

m.k MARKETING MANAGEMENT

BUSINESS 4E

PRASETIYA MULYA BUSINESS SCHOOL

2013

 

Sunsilk vs RedA

 

Pada dasarnya, pembentukan citra yang baik di mata publik dibagi dalam 3 tahap, yaitu : segmentasi, targeting, positioning. 2 tahap pertama adalah tahap yang menjadi kunci utama sebagai start-up menentukan project marketing sebuah produk yang siap diedarkan di publik.Pertama dimulai dengan segmentasi. Segmentasi adalah tahap dimana identifikasi dan deskripsi target pasar dilakukan, sehingga memudahkan pembentukan diri dari sebuah produk. Cara penilaiannya pun dibagi dalam 3 kelompok besar variabel, yaitu: demografi, psikografi, dan tingkah laku. Yang termasuk dalam golongan segmentasi menurut demografi adalah : segmentasi umur, jenis kelamin, kelas sosial, dan penghasilan. Sedangkan, psikografi  ditentukan berdasarkan psikologi, sosiologi, dan kehidupan manusia.

Pencitraan sebuah produk lebih mudah terlihat melalui penampilan fisiknya, dibandingkan melalui penelitian mengenai target pasar dari sebuah produk. Misalnya, bagaimana shampoo Sunsilk menunjukkan target pasarnya, melalui design botol shampoo Sunsilk yang berwarna-warni. Jika kita melihat kemasan shampoo Sunsilk pada tahun 2008  silam, setiap kemasan memiliki gambar seorang wanita. Terlihat dengan jelas bahwa Sunsilk mengincar perempuan muda sebagai target pasar mereka.

Sekarang mari kita bandingkan dengan salah satu produk kosmetik Indonesia yang terkenal di kalangan remaja, RedA. Dengan menonjolkan kelebihan produknya, yaitu komposisi bahan yang cocok untuk kulit wanita Asia, produk ini dapat menarik konsumen dalam jumlah besar dan dapat bersaing dengan produk-produk luar negeri. Terlebih lagi mereka memiliki target market yang jelas, yaitu remaja Indonesia. Hal ini bisa dilihat melalui produk RedA yang memang dikhususkan untuk orang Indonesia dan menekankan bahwa produk ini dibuat di Indonesia. Dengan kata lain, made in Indonesia menjadi salah satu trade mark produk kosmetik ini. Persamaan dari kedua produk di atas adalah variabel demografi yang mereka gunakan, yaitu remaja dan wanita Indonesia. Tahap kedua adalah targeting. Mengevaluasi target yang sudah dibentuk sehingga kedepannya produk ini dapat menerapkan cara-cara marketing yang tepat untuk segmen yang dituju. Dimulai dengan segmenting, evaluasi segmen, pengembangan segmen, hingga pemilihan strategi segmenting yang tepat.

Pada kasus Sunsilk, mereka menentukan bahwa segmen pasarnya adalah untuk kalangan perempuan. Kunci sukses Sunsilk adalah melalui kemasan yang disesuaikan dengan target marketnya. Ada perbedaan aksen warna pada tiap-tiap kemasan, yang bertujuan untuk memberikan perbedaan terhadap masing-masing varian. Hal itu berdasarkan riset pada konsumen sebab warna menjadi representasi dari manfaat yang diberikan masing-masing varian untuk konsumen. Sebagai contoh, Sunsilk dengan warna hijau menunjukkan bahwa sampo tersebut memberikan rasa segar terhadap pemakainya. Karena Sunsilk memposisikan diri sebagai brand yang mengerti kebutuhan perempuan, setiap elemen di kemasan harus disesuaikan dengan psikografis perempuan. Selain kemasan yang bagus, lokasi penempatan produk turut mendorong konsumen melakukan pembelian. Sunsilk menjual produk mereka di supermarket- supermarket besar di Indonesia.

Perkembangan produk Sunsilk pun disesuaikan dengan perkembangan zaman. Sunsilk juga melihat beberapa faktor yang patut diperhatikan dalam konsep kemasan yang akan diperbaharui. Faktor utamanya adalah positioning dan target dari brand tersebut. Sedangkan, faktor keduanya adalah faktor fungsional, yang tercermin melalui bentuk-bentuk kemasan seperti botol, sachet, maupun pouch. Terkait dengan hal ini, kemudahan dan kepraktisan pemakaian serta penyimpanan juga dapat menjadi faktor yang mempengaruhi. Faktor lain adalah faktor emosional yang tercermin dalam dekorasi kemasan seperti estetika bentuk, desain dekorasi kemasan, penulisan produk dengan bentuk yang dapat menarik perhatian konsumen, dan warna kemasan. Strategi targeting yang dipakai oleh Sunsilk adalah usaha Sunsilk untuk berusaha memahami bahwa setiap wanita ingin bahagia. Hal tersebut ditunjukkan dalam kemasan sunsilk terdapat cameo (berupa gambar perempuan dalam kesehariannya) yang bertujuan mendekatkan diri dengan target marketnya. Untuk mengikuti perkembangan zaman, kemasan Sunsilk senantiasa diubah supaya terlihat up-to-date.

Pada kasus RedA, mereka memilih remaja sebagai target pasar karena pola konsumsi seseorang terbentuk pada usia remaja. Pengetahuan akan sifat-sifat remaja yang biasanya mudah terbujuk rayuan iklan, suka terpengaruh teman, aktif mengikuti perkembangan tren, dan ada pula beberapa faktor lainnya inilah yang dimanfaatkan oleh Vitapharm sebagai perusahaan RedA untuk mengenal pasarnya. Segmentasi diukur lewat SES (socio economic status) yang biasanya digunakan untuk mengelompokkan nilai pendapatan rumah tangga penduduk Indonesia. Untuk produk RedA, karakteristik SES yang dipilih berkisar di ranah B, C, dan D yang berarti berada di kelas menengah. Sesuai dengan SES itu pula, produk-produk RedA yang diluncurkan memiliki harga yang boleh dibilang cukup terjangkau, khususnya bagi para remaja. Perkembangan produk Red-A pun disesuaikan dengan perkembangan remaja, yang diselaraskan dengan kondisi yang sedang berlangsung. Untuk membangun profil segmen tersebut, agar tercitra dan jelas dimata masyarakat bahwa RedA merupakan produk yang menyasar anak remaja.

Strategi targeting yang dipakai oleh RedA yaitu menyatakan bahwa produknya cukup unik, khususnya mengenai kandungan-kandungan yang terdapat di dalamnya. Produk skincare RedA cosmetics memiliki kandungan Red Algae yang mampu menjaga kadar air di kulit, sedangkan kandungan produk make up-nya bersifat ringan dan dinamis, disesuaikan dengan target marketnya—kulit wajah remaja belum mampu menerima bahan-bahan make up yang terlau berat. Selain itu, mereka juga melakukan riset sebelum mengeluarkan produk.

Strategi menambahkan value tersebut yang digunakan oleh RedA dalam rangka mengambil dan merebut hati para konsumen  agar konsumen lebih memilih RedA dibandingkan produk lainnya. Sehinggga RedA bisa tetap eksis dan maju walaupun banyak kompetitor di ranah kosmetik Indonesia. Saran kami untuk Sunsilk, jika Sunsilk ingin menjadi market leader, sudah sepantasnya mereka mempertimbangkan kompetitor yang ada. Sunsilk harus lebih memikirkan strategi- strategi untuk mengalahkan kompetitor yang semakin hari semakin banyak. Dengan pemilihan model yang tepat, strategi marketing yang berkembang sesuai jaman yang sekarang ini Sunsilk harus selalu up-to-date meilihat pasar yang selalu berubah-ubah. Mereka harus tau apa yang kaum wanita inginkan saat ini.

Sedangkan saran untuk RedA harus mempertimbangkan situasi persaingan yang ada di saat ini juga untuk menjadi  market leader. Tentu saja red a harus lebih memikirkan strategi untuk mengalahkan kompetitor yang semakin banyak. Dengan pemilihan model yang tepat, strategi marketing yang berkembang sesuai jaman yang sekarang ini remaja menyukai gaya dari negara asing contoh korea. Dan membuat diferensiasi produk yang beragam dan unik. Mungkin akan lebih jika red a mempelajarinya dari brand brand korea yang sudah lebih unggul dalam hal tersebut. Apabila red a berhasil saya rasa red a akan menjadi semakin marak di indonesia.

Ditulis oleh: Chrystania, Karamina Samulo, Made Devicca Surya, Reginald Indarsin

[download id="810"]
scroll to top